10 Orang Sukses yang Membuktikan Prestasi Akademis Bukanlah Segalanya

Pendidikan di Indonesia selalu mengajarkan pada kita bahwa untuk menjadi orang sukses di kemudian hari, kita harus “menurut” dengan sistem yang ada di sekolah dengan banyak matapelajarannya, belajar setekun mungkin dan mendapatkan A untuk semua matapelajaran (itu pun kalau bisa :p).

Alih-alih menemukan sendiri bidang apa yang para siswa cintai dan memperjuangkannya, para siswa seolah selalu didekte dari semenjak kecil tentang gambaran sebuah kesuksesan. Seperti sukses adalah mendapat IPK 4.0, menjadi dokter atau pegawai negeri.

Berikut ini adalah beberapa contoh orang sukses – mulai dari para pemikir dunia, entrepreneur hingga film director –  yang diterinspirasi oleh EliteDaily, yang pernah memiliki masalah dengan nilai akademisnya dan berhasil membuktikan bahwa nilai yang kita dapat disekolah bukanlah penjamin kesuksesan di masa yang akan datang.

 

Winston Churcill

Salah satu pemimpin Inggris paling terkenal sepanjang masa ini adalah peraih skor terburuk dari jajaran anak-anak yang saat itu masuk di SMA-nya. Walaupun ia sangat pandai dalam pelajaran bahasa inggris dan sejarah, ia sangat buruk untuk urusan matapelajaran lainnya, seperti matematika.

“Mereka – para guru di SMA – tidak pernah memintaku untuk melakukan hal-hal yang aku sukai dan berguna. Periode ini adalah salah satu masa paling tidak bahagia dalam hidup saya.”

 

Thomas Alva Edison

Pria dengan julukan Penyihir dari Menlo Park ini adalah salah satu dari pemikir paling inovatif dalam sejarah yang bertanggung jawab atas banyak penemuan yang merubah dunia. Seperti yang banyak diceritakan, saat sekolah dulu, banyak guru yang menganggapnya bodoh karena banyak bertanya dan tidak bisa diam. Demi menghidari rasa frustasinya ini, akhirnya orang tuanya memutuskan untuk mengajarinya sendiri di rumah.

Albert Einstein

Mungkin orang ini adalah contoh dari seorang jenius yang dalam sejarah hidupnya banyak berjuang melawan sistem pendidikan yang ada saat itu. Pada usia 15 tahun ia musti putus sekolah karena merasa begitu dibatasi dalam berkreasi oleh para guru dan sistem sekolahnya. Setelah beberapa tahun belajar sendiri, ia akhirnya masuk universitas dengan nilai yang buruk (hampir saja tidak lulus).

“If you judge a fish by its ability to climb a tree, it will live its whole life believing that it is stupid.”

Malcolm Gladwell

Saya pribadi yang telah membaca 3 bukunya “Tipping point”,  “Blink” dan “Outliers” merasa takjub atas beberapa pemikiran yang ia lontarkan, termasuk pemikiran tentang “David vs Goliath” yang baru-baru ini muncul di situs TED.com.  Dia sendiri pernah berkeinginan untuk melanjutkan studi masternya, tapi bagaimana bisa jika ternyata nilai IPK-nya terdahulu tidak memenuhi standard? Well dari pada terus memikirkan itu Malcolm, ada baiknya anda konsen menuangkan pemikiran anda ke buku anda selanjutnya.

Malcolm Gladwell – David vs Goliath

 

Richard Branson

Siapa yang kira milliarder Virgin Group ini adalah mantan siswa putus sekolah. Dia menderita disleksia dan untuk ukuran akademis ia tadi bagus dalam segala hal. Di usia 16 tahun ia mempublikasikan majalah “Student” dan mulai saat itulah karir entrepreneur-nya dimulai.

 

Bill Gates

Ketika orang terkaya di dunia ini memutuskan untuk masuk ke Harvard, ia membuat ulah dengan tidak mengerjakan banyak tugas yang dibebankan oleh dosennya. Tapi bukan berarti ia tidak belajar sama sekali. Ia konsen memperdalam ilmu komputer – yang merupakan passionnya – bersama dengan teman-temannya kala itu dan memutuskan untuk keluar dari Harvad dan membangun Microsoft bersama teman-temannya.

 

Steve Jobs

Karena khawatir dengan beban kuliah yang memberatkan orang tuanya, Steve Jobs terpaksa keluar dari Reed Collage pada tahun pertamanya kuliah. Selama beberapa waktu ia tinggal di kamar asrama rekannya dan memasuki kelas yang benar-benar ia sukai seperti kaligrafi.

 

Mark Zuckerberg

Pencipta Facebook sekaligus tokoh paling dominan di bidang teknologi pada dekade ini adalah seorang Droup Out dari sekolahnya. Tapi bukan berarti bodoh. Dia hanya malas saja belajar dan menyibukkan diri dengan coding dan membuat beberapa website yang cukup menarik seperti facesmash.com. Dia sendiri berpendapat bahwa bergelut dengan apa yang dia cintai inilah yang membuatnya sukses hari ini, bukan hanya sekedar mengejar nilai bagus di perkulihan.

 

Steven Spielberg

Sejak kecil, orang yang dijuluki sebagai roda penggerak Hollywood ini sangat terobsesi untuk mengambil kuliah perfilman di USC. Sayangnya, dua kali ia mendaftar di USC, dua kali pula ia ditolak. Dengan putus asa akhirnya dia pun melanjutkan sekolahnya ke California State University, Long Beach.

 

Quentin Tarantino

Pada usia 15 tahun, Tarantino meninggalkan sekolah umum dan mulai belajar di sekolah acting. Namun karena dirundung kebosanan, ia akhirnya memutuskan untuk keluar dan bekerja di rental film untuk beberapa tahun. Dari sinilah, ia akhirnya belajar untuk memahami selera masyarakat dalam menilai sebuah film yang bagus.

 

Saya pribadi pernah mengenal seseorang yang ketika SMA pernah hampir Drop Out karena sangat senang menekuni penulisan karya ilmiah. Saking senangnya dengan dunia ini dan mengikuti lomba di banyak tempat, sampai-sampai ia mengesampingkan banyak matapelajaran yang mengakibatkan nilainya jeblok di semester pertama kelas 12, mendapat ranking terakhir di kelasnya dan terancam DO. Dia pun bertahan dengan sepenuhnya mencontek ketika ujian akhir dan lulus dengan predikat yang biasa-biasa saja. Saat ini – walaupun belum bisa dikatakan sukses – orang yang saya kenal ini aktif memimpin sebuah organisasi yang berkerjasama dengan pemerintah asing untuk menjembatani para pemikir kreatif di kotanya.

 

Jadi jangan  pernah percaya kalau sukses hanya bisa dicapai melalui nilai akademis sekolah saja atau sebaliknya. Seperti yang pernah ditulis oleh Professor Rhenal Kasali dalam blog-nya yang berjudul Sekolah 5 cm, Sukses itu bisa dimulai dari mana saja yang penting jangan pernah berhenti belajar. Jika anda cermati kesepuluh orang sukses di atas terdapat beberapa persamaan yakni sama-sama punya tujuan hidup sedari muda dan tidak pernah berhenti belajar untuk mencapainya.

 

Murid-muridmu bukanlah murid-muridmu. Mereka adalah murid-murid kehidupan yang rindu akan dirinya sendiri – Kahlil Gibran (dengan sedikit perubahan)

Comments

comments