3 Hal yang Harusnya Dimiliki oleh Setiap Pemimpin Di Abad 21

Kepemimpinan adalah isu yang amat penting dalam pembangunan sebuah organisasi, baik itu organisasi yang bersifat kenegaraan yang bersifat non profit, maupun organisasi swasta yang bersifat profit. Isu kepemimpinan ini beragam, mulai dari cara mereka merangkul simpatisan, gaya kepemimpinan yang diterapkan hingga keputusan-keputusan apa saja yang mereka lakukan untuk membangun organisasi yang ia pimpin.

Berikut ini adalah opini saya pribadi tentang apa saja hal-hal yang harusnya dimiliki seorang pemimpin untuk membangun organisasi yang ia pimpin di jaman yang bergerak semakin cepat dan simultan ini.

1. Memahami DNA Organisasi yang Mereka Pimpin.

Sepertihalnya organisme, organisasi bisa tumbuh, berkembang, hidup bahkan mati. Setiap organisasi juga memiliki DNA yang merupakan nilai dasar yang ditanamkan sejak organisasi itu lahir.

Contoh gampangnya yang paling dekat dengan kehidupan kita sehari-hari adalah Negara Kesatuan Republik Indonesia. Anda tahu apa DNA yang dimiliki Indonesia? Bhinneka Tunggal Ika. Sejak negara kita lahir, pemimpin-pemimpin kita sadar bahwa negara kita ini sangat majemuk, terdiri dari berbagai suku bangsa dengan berbagai macam latar belakang budaya. Untuk itu perlu disuntikkan sebuah nilai-nilai yang mampu merangkul semua kalangan itu, maka lahirlah Bhinneka Tunggal Ika.

Karena DNA-nya sendiri tercipta sebagai sebuah negara yang Bhinneka Tunggal Ika, sampai kapanpun atau pihak manapun yang mempunyai kepentingan untuk menjadikan negara ini berdiri untuk kalangan tertentu saja (baik itu ras, agama maupun golongan) tidak akan pernah bisa. Maka dari itu yang perlu dilakukan oleh para pemimpin di Indonesia ini adalah bagaimana memenej keragaman ini untuk bergerak menjadi sebuah kesatuan yang dapat saling bersinergi satu sama lain. Bukannya saling menghujat dan mencaci-maki, tapi saling toleransi dan mengerti. Yah… hal ini mungkin PR kita bersama sebagai warga negara Indonesia.

Masih ingat semboyan presiden pertama kita Soekarno pada pidato kemerdekaan Indonesia di tahun 1966 yang berbunyi “Jasmerah – Jangan sekali-kali melupakan sejarah”? mengapa sejarah menjadi sebegitu pentingnya bagi sebuah organisasi? karena dari situlah proses kelahirannya dapat dipelajari, dari situlah kita bisa mengerti DNA macam apa yang dimiliki oleh organisasi ini, dan dari situ pulalah kita bisa menggali referensi tantangan apa yang akan dihadapi untuk membangun organisasi ini.

2. Memelihara Elang, Bukan Ayam.

Masih ingat cerita tentang persahabatan Ayam dan Elang yang pernah saya tulis ?

Seorang pemimpin haruslah seperti Elang – Hewan ini sangat susah dikandangkan dan terbang semakin tinggi ketika badai datang. Elang adalah simbol pejuang, entrepreneur dan para professional yang berkelana dengan helicopter view untuk selalu mencari tantangan baru yang dapat membuatnya terbang lebih tinggi. Ia mampu menerkam peluang secepat kilat, larinya cepat, DNA-nya terbentuk dari mengamati, belajar dan berbuat. Elang adalah risk taker, penjelajah yang berani meski berangkat sendirian.

Sedangkan ayam adalah makhluk kandangan. Ia lebih senang berada pada zona nyaman yang membuat mereka “aman” dengan segala fasilitas yang diberi, yang membuat mereka tetap bisa bermalas-malasan tanpa evaluasi dari pihak lain.

Jika anda disuruh memilih seorang pemimpin, anda memilih dipimpin oleh seorang yang bermental Elang atau mereka yang bermental Ayam?

Jika saya disuruh memilih, sudah pasti saya akan memilih seorang pemimpin yang bermental Elang, karena seorang Elang akan melahirkan Elang lainnya. Kalau toh ia dihadapkan kenyataan untuk memimpin mereka yang bermental ayam, seekor elang pasti tahu cara “memaksa” ayam keluar dari kandangnya yang nyaman dan berlaku seperti Elang yang mampu melihat jauh peluang yang ada di depan.

3. Inklusif.

Dalam sebuah buku yang pernah saya baca yang berjudul “Why Nation Fail” karya Daron Acemoglu dan James Robinson ditekankan bahwa spirit inklusifitas – seperti menghilangkat sekat-sekat eksklusif antara mereka yang berkuasa dengan mereka yang dipimpin – yang mampu membawa sebuah organisasi menjadi lebih maju.

Di Indonesia ini bisa kita lihat dari apa yang dilakukan oleh kepemimpinan Jokowi-Ahok dengan Jakarta-nya atau Ibu Risma dengan Surabaya-nya. Jika saya tanya apa persamaan dari kedua kasus kepemimpinan ini? mereka sama-sama mudah diakses oleh berbagai macam kalangan, mereka mudah membaur dengan kalangan atas, tetapi mereka juga tak sungkan untuk langsung turun ke jalan membantu orang-orang kecil, mendengarkan aspirasinya hingga mengajak mereka untuk membuat sebuah perubahan.

Inklusifitas seperti inilah yang menjadikan para pemimpin ini memiliki lebih banyak referensi untuk membawa perubahan di organisasi yang mereka pimpin. Spirit inklusifitas ini jugalah yang menjadikan mereka mampu mensinergikan orang-orang dari latar belakang yang berbeda dan menyatukan kedalam sebuah visi yang sama untuk membangun sebuah organisasi lebih maju kedepannya.

If your actions inspire others to dream more, learn more, do more and become more, you are a leader – John Quincy Adams

Comments

comments