5 Pelajaran Kepemimpinan yang Bisa Kita Petik dari Insiden Jatuhnya AirAsia QZ8501

Sudah tepat seminggu sejak peristiwa kecelakaan maut yang terjadi pada pesawat AirAsia tujuan Surabaya – Singapura pada 28 Desember 2014 lalu. Di balik kesuksesan dalam mengidentifikasi letak jatuhnya pesawat di bawah langit selat Karimata, di balik berhasilnya mengevakuasi beberapa korban hingga pujian yang didapat dari dunia internasional atas aksi tanggap ini, kita dapat melihat beberapa pihak yang turut serta berperan aktif dalam menyelesaikan masalah ini. Baik mereka yang merasa bertanggung jawab, maupun mereka yang merasa peduli akan penyelesaian tragedi ini.

Berikut ini adalah opini saya tentang pelajaran leadership ataupun kepemimpinan yang bisa kita petik dari insiden jatuhnya AirAsia QZ8501.

1. Mereka Bukan Pengecut

Ketika pesawat AirAsia QZ8051 hilang pada pukul 06.24 WIB, Tony Fernandes selaku CEO dari Group AirAsia sudah bersiap pasang badan untuk menyelesaikan masalah ini. Alih-alih ia menyalahkan orang lain, Tony Fernandes mengambil keputusan untuk langsung bertolak ke Surabaya demi memberikan keterangan resmi kepada masyarakat luas tentang apa yang sebenarnya terjadi.

Dalam twitnya di atas, Tony Fernandes menunjukkan simpati dan tanggungjawabnya kepada masyarakat luas, baik itu para keluarga korban ataupun masyarakat umum yang hanya sekedar ingin tahu. Dan tak lupa, Tony Fernandes juga turut mengingatkan semua jajaran staff di perusahaannya untuk tetap menjaga performa dan layanan yang terbaik kepada para pelanggan AirAsia.

2. Respon Cepat dengan Tindakan Nyata

Setalah berhasil mengumpulkan informasi tentang apa yang sebenarnya terjadi, 3 jam setelah AirAsia QZ8501 dinyatakan hilang, Tony Fernandes beserta beberapa timnya langsung bertolak ke Surabaya untuk segera memberikan keterangan resmi. Hal ini sebenarnya penting untuk mengurangi rasa panik mereka yang menunggu kejelasan koleganya yang menjadi penumpang di dalam pesawat naas tersebut. Selain itu, aksi dari Tony Fernandes ini juga menggambarkan bahwa manajemen AirAsia memiliki komitmen penuh untuk menyelesaikan masalah ini sesegera mungkin.

Selain respon cepat dari Tony Fernandes ini, apa yang telah dilakukan oleh BASARNAS juga harus diacungi jempol. Berkat kinerja tanggap dari rekan-rekan BASARNAS yang dimonitor langsung oleh Presiden Joko Widodo dan Wapres Jusuf Kalla, puing pesawat AirAsia QZ8051 dapat ditemukan dalam waktu 3 hari saja. Bisa dikatakan, proses menemukan serpihan pesawat dan lokasi jatuhnya pesawat QZ8501 adalah proses SAR tercepat di dunia.

Bandingan dengan kejelasan kasus Malaysia Airlines MH 370 yang sampai berbulan-bulan belum diketahui bagaimana keadaanya. Tak ayal, kinerja BASARNAS yang cepat dan tepat ini mendapat pengakuan dari dunia internasional.

3. Saling Mendukung dan Merasa Bertanggung Jawab

Dukungan untuk menyelesaikan masalah ini bukan hanya datang dari pihak AirAsia dan juga pemerintah pusat saja melalui BASARNAS, tapi apa yang dilakukan oleh walikota Surabaya yakni Ibu Tri Risma Harini pun patut diacungi jempol.

Ibu Risma yang merasa sebagian besar dari korban pesawat ini adalah warga Surabaya pun turut datang ke Bandara Juanda untuk melihat situasi apa yang sebenarnya terjadi. Bukan sampai situ saja, ternyata Ibu Risma juga turut serta keluar masuk Crisis Center untuk menenangkan para korban, memberikan beberapa keterangan kepada awak media hingga menemui beberapa pihak terkait.

Tak jauh dari bandara Juanda, Ibu Risma ternyata juga telah menyiapkan sekitar 80 mobil ambulan yang disiapkan untuk mengantisipasi keberhasilan proses SAR dan berencana membawa semua penumpang yang berhasil dievakuasi ke Rumah Sakit Bhayangkara di Surabaya dalam kondisi apapun.

4. Berempati – Menguatkan Hati

Untuk menenangkan duka para korban yang berada di Crisis Center, kata-kata yang dilontarkan Ibu Risma untuk para kolega korban AirAsia QZ 8051 ini dapat dikatakan mampu menempatkan diri dalam posisi keluarga korban. Dikutip dari blog Wahyu Pramudya yang saat ini mendengar langsung di tempat kejadian, dengan bahasa khas Suroboyoannya, Ibu Walikota ini berkata :

“Hari ini giliran keluarga bapak-ibu, besok bisa jadi giliran saya. Kita tidak pernah tahu, hidup ini milik Allah.” Benar-benar kata yang menyambung hati bukan?

Selain Ibu Risma, Tony Fernandes pun turut serta menunjukkan empatinya yang mendalam dalam hal ini. Tony mewakili jajaran manajemen AirAsia sampai menunjukkan komitmennya untuk bertolak ke Palembang dari Surabaya, apabila salah seorang crew-nya yang berasal dari Palembang sudah dapat teridentifikasi.

Selain itu, Tony Fernandes juga menunjukkan empatinya dengan mengunji beberapa kolega yang telah menjadi korban dalam peristiwa ini, salah satunya adalah istri Kapten Irianto. Tony mengunjugi kediaman keluarga kapten Irianto di wilayah Perumahan Pondok Jati untuk menemui istri sang kapten dan memberikan dukungan moral.

5. Handling Informasi Terpusat dan Transparan

Untuk menghindari hoax atau informasi yang tidak benar. Tim dari AirAsia sendiri mulai memberikan pernyataan resmi yang sekiranya kredibel dan mudah diakses oleh banyak orang. Bukan melalui koran atau media masa yang butuh waktu beberapa jam bahkan hari untuk tersebar kebanyak orang, tapi melalui akun facebook resmi AirAsia dan juga akun twitter resmi dari Tony Fernandes yang tidak hentinya memberikan pernyataan dan perkembangan terupdate seputar AirAsia QZ 8501.

Selain mampu menjalankan operasi pencarian dengan efektif dan cepat, kinerja BASARNAS pun memiliki nilai plus lagi. Komunikasi yang dilakukan kepada publik dengan professional dan rutin, serta teratur menggelar konferensi pers membuat informasi yang berkembang di kalangan luas menjadi transparan dan jauh dari kata hoax. Bisa dikatakan hal inilah yang membuat pola layanan informasi kepada keluarga maupun publik tergolong baik.

 

My heart bleeds for all the relatives of my crew and our passangers. Nothing is more important to usTony Fernandes

Comments

comments