5 Pelajaran Penting untuk Para Pemuda yang Memimpin Bisnis (Atau Organisasi)

Secara umum, seorang individu menghabiskan lebih dari 20 tahun di jajaran managemen perusahaan sebelum pada akhirnya ia menjadi kepala pimpinan di sebuah perusahaan. Tapi realita ini sedikit bergeser beberapa tahun belakangan. Anak muda berusia 20 hingga 30 tahuanan dengan ide inovatifnya mendirikan organisasi mereka sendiri dan mulai memimpin perusahaan dengan membawahi atau berpartner dengan mereka yang lebih dewasa.

Diskusi tentang pengusaha muda ini kebanyakan terfokus pada ide dan kreativitas saja, pada hal beberapa hal lain seperti pengalaman pun sama pentingnya. Opini dari saya berikut ini mungkin bisa dijadikan sebagai pertimbangan bagi mereka yang berusia 20 sampai 30 tahunan yang telah memimpin bisnis atau organisasi mereka sendiri.

Kita yang Memiliki Visi dan Energi dengan Mereka yang Berpengalaman dan Bijak

Modal utama pemimpin bisnis di usia muda adalah ide kreatif dan visi yang akan mengantarkan organisasi mereka kedepannya. Tapi permasalahannya, kita yang masih muda ini tidak memiliki pengalaman bisnis yang mumpuni untuk memulai bisnis dengan well prepared.

Jika anda pernah melihat film terbaru Steve Jobs yang diperankan oleh Aston Kutcher yang berjudul Jobs, anda dapat menganalisa bagaimana keadaan Apple Inc sebelum kemasukan Mark Markula. Dengan organisasi yang penuh dengan anak muda yang hanya mengandalkan ide dan semangat, Apple Inc hanya bertahan di garasi orang tua Jobs. Dengan masuknya Mark Markula yang lebih dewasa dan berpengalaman, transfer ilmu, networking dan sumbangan dana investasi dapat membuat Apple Inc melangkah beberapa level lebih tinggi.

Beberapa waktu lalu ketika saya memiliki ide bisnis untuk mendirikan startup di bidang inovasi, saya mencoba mengajak mantan dosen saya di kampus yang akan mengambil studi doktor tentang Green Energy di Glasgow. Karena saya yakin, ide dan semangat yang saya punya akan menjadi sesuatu yang luar biasa jika dikombinasikan dengan pengalaman dan kebijaksana yang dosen saya ini miliki.

Fokus pada Masalah, Bukan Orangnya

Seorang CEO harus tangguh dan berani untuk membuat keputusan yang sulit. Ketika anak muda seperti kita mulai memimpin bisnis atau organisasi yang masih prematur, sering kali kita yang kurang berpengalaman akan mengkambing hitamkan salah seorang bawahan kita, alih-alih fokus pada apa yang sebenarnya terjadi.

Ketika pertama kali mendirikan TEDxTuguPahlawan akhir 2011 lalu, saya dihadapkan permasalahan dalam tim yang mengakibatkan secara kasat mata terbagi menjadi dua golongan yang saling menjaga jarak. Satu pihak menganggap pihak lain hanya buang-buang uang saja untuk marketing, satu pihak lain menganggap pihak sebelumnya pemalas dan tidak mengerjakan apa-apa. Sebagai pemimpin, anda tidak bisa memihak salah satu dari golongan tadi, meskipun di salah satu golongan tadi ada teman yang cantik atau bahkan ada si dia yang jadi pujaan hati anda. Tiap organisasi mempunyai visi, baik jangka pendek maupun jangka panjang. Dan visi jangka pendek organisasi ini waktu itu adalah untuk menyelenggarakan konferensi tahunan kita yang pertama pada 1 September 2012 di Auditorium Universitas Ciputra. Anda harus fokus di tujuan ini.

Jadi alih-alih memihak salah satu golongan dalam organisasi ini, anda harus bisa menjadi telinga yang berkenan untuk turun langsung mendengarkan keluhan antar golongan tadi, menjadi jembatan dan mencari satu celah yang mampu mengkoordinasikan kepentingan masing-masing golongan agar mereka dapat bersama-sama bekerja untuk mencapai visi organisasi yang telah anda canangkan sebagai seorang pemimpin.

The best way to understand people is to listen to them – self quote

Calculated Risk Taker

Beberapa waktu lalu ada seorang pembaca blog saya yang mengira saya adalah seorang motivator dan meminta saran “kehidupan” kepada saya. No! Saya bukan seorang motivator, dan tidak ingin disebut sebagai seorang motivator. Karena meurut saya, sebagian besar motivator di Indonesia saat ini hanya bullsh*t belaka. Mereka banyak mengajarkan cara cepat untuk menjadi kaya, beli rumah ga pake uang hingga cara-cara kepepet yang ujung-ujungnya hanya jualan seminar mereka saja.

Pernah saya mendengar salah seorang motivator di Indonesia yang berkata, “Kalau mau buka usaha ga usah itung-itungan, langsung aja terjun toh nanti juga jalan.” Memang sih sebagian besar dari kita akhirnya buka usaha, namun yang bertahan lama berapa banyak? yang usahanya bener-bener inovatif berapa? yang bisa sampai menciptakan sebuah industri besar seperti Om William Soerjadjaja dengan Astra-nya apakah ada? Paling-paling hasilnya cuma jualan keripik sama gerobakan pinggir jalan. Padahal kita punya banyak Engineer lulusan ITB atau ITS yang mampu menciptakan mobil ramah lingkungan, akankah teknologi ini jadi bahan kuliah saja dan ketika lulus dan berwirausaha ilmu ini tidak digunakan lagi dan beralih menjadi Engineer kuliner?

Mengutip dari blog Professor Rhenald Kasali

Sejak krisis moneter menghantam Indonesia 15 tahun yang lalu, kita menaruh harapan pada UMKM. Jumlahnya terus meningkat, dari 51,5 juta (2010) menjadi 54,5 juta tahun ini. Tetapi di lain pihak gairah berindustri turun drastis. Tak ada lagi orang-orang seperti Sukanto Tanoto yang di awal tahun 1980-an berani membangun industri pulp and paper. Semua anak-anak muda cuma asyik membuat roti, kue, burger, lele, ikan bakar dan warung gerobak yang di grobak-chise kan.

Bisa diduga kemana muaranya para wirausahawan seperti ini. Ketika jenuh, mereka beralih menjadi motivator atau pembicara UKM. Modalnya apalagi kalau bukan spirit Robert Kyosaki yang mengajarkan “bagaimana menjadi orang kaya”. Tak sedikit pula yang menanamkan cara-cara pemasaran bombastis atau cara-cara spiritual. Kata seorang industrialis, perlu dibedakan benar-benar mana yang merupakan hasil dari suatu percobaan dengan coba-coba. Kelihatannya, lebih banyak yang iseng dengan coba-coba, bukan kesungguhan yang didasarkan bukti-bukti empiris yang dapat digeneralisasikan. Dan tentu saja, bisnis seperti ini lebih banyak hit and run. Tapi tak apa, sepanjang order sebagai motivator masih bisa jalan terus, bukan?

Kita memerlukan UKM untuk menyelamatkan pengangguran, namun untuk memajukan bangsa, negeri ini juga bentuk industri-industri besar yang dibangun berbasiskan pengetahuan, sophisticated management dan profesionalisme. Indonesia butuh banyak pesawat-pesawat kecil yang bisa menembus daerah-daerah pedalaman seperti yang dilakukan Ibu Susi Pujiastuti (Susi Air) atau kapal-kapal penjelajah berbobot ringan yang dibuat dari teknologi material komposit yang dibuat Lisa Lundin di Banyuwangi.

Kita melakukan perhitungan terhadap bisnis atau organisasi kita agar langkah yang kita ambil tidak ceroboh. Tidak asal utang di Bank untuk modal usaha tanpa tahu program apa yang harus dikerjakan perusahaannya agar modal tadi bisa kembali. Kita melakukan perhitungan agar kebijakan yang kita ambil dalam perusahaan bisa tepat dan meminimalisir segala macam resiko yang mungkin terjadi. Ingat, ketika anda memimpin sebuah perusahaan atau organisasi, anda telah mengkoordinir banyak kepentingan individu di sini, seperti kepentingan return dari pemegang saham perusahaan anda (kalau ada) hingga kepentingan karyawan anda yang butuh makan bulanan. Kalau sampai perusahaan anda pailit dan menunggak gaji karyawan anda, anda tidak hanya mendholimi diri anda sendiri tapi seluruh orang yang ada di perusahaan anda.

Remember! Everything that is too good to be true is not true. Jangan percaya kalau ada orang yang bilang bahwa sukses itu bisa diraih dengan mudah tanpa menikmati prosesnya. There’s no shortcut to heaven. If you want to go to heaven, you have to die first.

“I put my heart and my soul into my work, and have lost my mind in the process.” – Vincent Van Gogh

Bersiaplah untuk Terlihat Sedikit Lebih Tua

Saya pribadi ketika menulis catatan ini baru saja menginjak usia 23 tahun. Saya masih suka memakai celana jeans, sepatu kets dan memotong rambut saya mo hawk. Sikap ini terkadang masih ter-default  kedalam keseharian saya secara tidak sengaja dan mau tidak mau kita harus menyadarinya. Dimana kita berada kita harus menyesuaikan dengan kondisi sekitar kita. Tidak mungkin dong ketika acara dinner dengan para diplomat di rumah konjen Amerika saya memakai t-shirt, celana jeans belel dan sepatu kets. Walaupun masih belum terbiasa dengan kemeja dan celana kain, kita harus mulai membiasakannya. Walaupun terlihat kebapakan, toh ketika tidak dalam acara resmi kita masih bisa kembali pakai jeans dan sepatu kets.

Ketika kita mulai berpartner dengan lembaga yang lebih besar seperti US Consulate General ataupun Bank Indonesia. Walaupun kita sudah akrab dengan pimpinannya dan sering jalan bareng, tetap dalam suasana resmi anda harus menyesuaikan dengan keadaan yang memaksa anda terlihat sedikit lebih tua ini. Remember! Age is just number, young is forever and mature is about character.

Untuk Hidup di Masa Depan, Anda Harus Hidup Hari ini

Ketika anda mulai membuat visi sebuah perusahaan seperti “Menginvasi Silicon Valley di Tahun 2020” anda juga harus memikirkan langkah apa yang harus anda lakukan untuk mencapainya. Anda harus tahu apa yang harus anda lakukan hari ini dengan perusahaan atau organisasi anda. Jangan hanya punya pikiran menginvasi Silicon Valley di tahun 2020 saja tanpa tahu apa yang harus anda dan organisasi anda lakukan tiap harinya. Karena untuk menuju visi yang jelas di masa depan, anda harus tahu apa pergerakan yang anda lakukan hari ini, karyawan seperti apa yang anda harapkan dan siapa saja partner yang akan anda gandeng.

Lihat apa yang dilakukan oleh Mark Zuckerberg ketika memutuskan untuk melakukan IPO facebook (menjual saham perdana kepada umum). Beberapa tahun sebelumnya ia menggandeng Sheryl Sandberg dari Google untuk menjadi COO facebook.

Sebagai seorang pemimpin, otak anda harus dipenuhi banyak ide dan rencana bagaimana mengaktualisasikannya untuk perusahaan atau organisasi anda. Sayangnya banyak diantara anak muda seumuran kita ini yang salah persepsi dengan quotes dari Gandhi.

Gandhi pernah berkata, “I’m the product of my thought. What i think, i become”. Bukan berarti ketika kita “berkata” kita adalah seorang entrepreneur, maka kita lantas kita bisa mengklaim diri kita sukses. Sukses adalah soal impact, bukan cuma pengakuan yang dibuat oleh diri sendiri. Dan untuk menciptakan impact, dibutuhkan sebuah proses. Nikmatilah adegan tangis dan tawa di setiap prosesnya. Karena dari sinilah pelajaran kedewasaan dalam memimpin bermula.

If your actions inspire others to dream more, learn more, do more and become more, you are a leader – John Quincy Adams

Comments

comments