8 Pengalaman yang Harus Lelaki Alami Setidaknya Sekali Seumur Hidup

Sebagai lelaki kita musti sadar bahwa ada banyak sekali peluang di luaran sana yang harusnya dapat kita maksimalkan sehingga dapat memberikan pelajaran hidup yang berharga buat kita. Namun kita musti sadar bahwa tidak semua peluang itu dapat kita tangkap secara bersamaan apalagi dalam waktu yang berdekatan. Dalam hal ini saya ingin berbagi sedikit perspective tentang beberapa hal yang harusnya lelaki alami setidaknya sekali seumur hidup agar menjadikan diri mereka benar-benar “lelaki” tidak hanyak bocah tua berjenggot saja.

1. Memimpin Sebuah Organisasi

Setuju atau tidak, saya masih menganut paham bahwa lelaki dilahirkan untuk menjadi seorang pemimpin. Baik itu untuk memimpin orang sekitarnya atau paling tidak memimpin dirinya sendiri. Mendapat pengalamaman untuk memimpin sebuah tim atau organisasi adalah hal wajib yang harusnya lelaki alami setidaknya sekali seumur hidup mereka karena hal ini akan memberikan mereka sebuah wawasan bagaimana pentingnya membuat sebuah visi, mengambil sebuah keputusan hingga menekan sisi egois kita untuk berkorban demi kepentingan bersama. Memang memimpin sebuah organisasi bukanlah sesuatu yang mudah, akan ada banyak resiko dan tantangan di dalamnya, tapi hei..! bukankah itu yang akan menjadikan lelaki lebih dewasa jika berhasil melewatinya?
2. Volunteering

Menjadi seorang relawan adalah langkah utama yang tepat bagi seorang lalaki yang ingin menjadi pemimpin. Karena dengan menjadi seorang relawan anda akan mulai mengerti bagaimana mendedikasikan diri terhadap sebuah misi yang tidak hanya dilatar belakangi oleh imbalan materi saja. Dedikasikan diri anda pada kegiatan-kegiatan seperti Kelas Inspirasi, Persatuan Pelajar Indonesia hingga Karang Taruna. Hal ini akan menjadikan seorang lalaki kelak akan menjadi pemimpin yang mampu menginspirasi sebuah gerakan walau mereka yang ikut serta dalam sebuah gerakan itu tidak dibayar.

3. Solo Travelling

 “Happiness is only real when shared” – begitulah kalimat terakhir dari Christopher Johnson Mccandless a.k.a Alexander Supertramp sebelum dia meninggal dalam sebuah novel yang berjudul “Into The Wild” karya Jon Krakauer. Novel ini bercerita bagaimana Christopher melakukan solo travelling ke berbagai wilayah di Amerika dalam rangka pencarian jati dirinya – khas krisis identitas anak muda usia dua puluhan. Selama perjalanan, Christopher yang awalnya memiliki ego tinggi akhirnya paham bahwa proses solo travellingnya telah memberikan ia perspective baru bagaimana memandang dunia. Ia banyak belajar  bagaimana mempercayai orang yang baru ia temui, bagaimana beradaptasi di luar zona nyamannya hingga bagaimana ia harusnya berbagi pada tiap komunitas yang ia tinggali – kalau toh tidak dapat berbagi secara materi, paling tidak kita masih bisa berbagi kisah selama perjalanan kita sejauh ini.

4. Hidup sebagai Minoritas di Negara Asing

Banyak permasalahan yang terjadi akhir-akhir ini karena kurang kayanya perspective kita dalam memandang keberagaman yang ada di dunia ini. Hal ini bisa jadi karena banyaknya pihak mayoritas yang merasa superior dan paling benar atas pendapatnya di sebuah negara tertentu. Jika anda adalah bagian dari mayoritas itu, cobalah sekali seumur hidup menjadi minoritas di negara asing dan rasakan bagaimana kontrasnya hidup sebagai minoritas padahal sebelumnya anda adalah mayoritas. Dari sini anda mungkin akan mulai belajar bahwa beberapa prasangka yang sering menempel di pikiran kita terhadap suatu komunitas tertentu belumlah tentu benar dan pada akhirnya perspective ini akan membantu anda untuk bertindak lebih bijak ketika anda kembali menjadi seorang mayoritas lagi.

5. Patah Hati

Patah hati di sini bukan hanya masalah ditinggal kekasih saja.. tapi bisa juga bisa ditinggal salah seorang yang kita sayangi misalkan orang tua kita atau dikhianati oleh rekan sendiri. Dalam hal ini mengapa patah hati menjadi penting? Karena biasanya patah hati adalah momen dimana kita merasa berada dalam titik terendah hidup kita. Momen ini sebenarnya adalah momen pembuktian apakah kita akan terus larut pada kesedihan atau bangkit dan terus melanjutkan hidup. Pada momen ini sebenarnya seorang lelaki akan mulai belajar bagaimana tegas pada dirinya sendiri.

6. Memenangkan Kompetisi

Di dunia yang serba kompetitif dan cepat ini, kita tidak bisa dielakkan dari yang namanya kompetisi. Jika anda adalah seorang lelaki yang sedang memimpin, memenangkan kompetisi adalah sebuah cara bagaimana mengubah visi kita kedalam beberapa aksi nyata dengan sumberdaya yang kita punya. Pilihlah di dalam hal apa anda akan berkompetisi dan belajarlah berbagai macam startegi untuk memenangkan kompetisi tersebut. Hingga kelak ketika kita memenangkan kompetisi itu, kita bisa menginspirasi orang lain untuk melakukan hal yang sama.

7. Gagal dalam Sebuah Pencapaian

Tidak semua gunung bisa kita daki dengan ego dan ambisi kita. Sekali-kali gagal perlu bagi seorang lalaki untuk memastikan siapa saja yang masih ada di sekitarnya untuk mendukung dan belajar bagaimana mencari jalan yang lebih tepat untuk mencapai achievement lainnya.

8. Mentraktir Orang Tua

Satu hal yang sering kali tidak kita sadari sebagai seorang lelaki adalah.. ketika kita tumbuh semakin dewasa, orang tua kita menjadi semakin tua. Menghabiskan waktu berkualitas dengan orang yang banyak berjasa pada kita akan memberikan kebahagiaan tersendiri yang mungkin akan anda ingat sampai kelak anda menghadap ilahi.

Satu bulan yang lalu saya resmi menyandang status baru – Yatim Piatu. Sekarang saya sudah resmi tidak memiliki Ayah dan Ibu lagi. Ketika saya kehilangan Ayah saya tepat 9 hari setelah ulang tahun saya yang ke dua puluh, saya merasa tumbuh tanpa figur yang bisa saya ajak untuk sekedar berbagi perspective tentang kerjaan hingga pendidikan lanjut. Padahal usia 20 tahunan adalah usia yang sangat krusial untuk menentukan perjalanan hidup seseorang kedepannya, tapi sayangnya saya tidak memiliki sosok lagi yang bisa memberi masukan. Dan ketika saya kehilangan Ibu saya sebulan yang lalu rasanya lebih berat lagi karena bagaimana pun Ibulah sosok yang sering memberi kita kasih sayang sejak kecil dan terus mendukung perkembangan hidup kita tak peduli betapa bandelnya kita di usia remaja dulu.

Jika saat ini anda masih memiliki orang tua, segera rencanakan waktu anda untuk sekedar menanyakan kabar, bertanya kapan ada waktu untuk pergi bersama. Sebelum Ayah saya meninggal saya pernah mentraktir beliau nonton film “My Name is Khan” dan saya rasa itu adalah hari terindah saya dengan beliau. Saya juga pernah mengajak Ibu saya untuk berlibur ke Kuala Lumpur dan Ubud, Bali dan saya rasa waktu itu kami bisa benar-benar dekat sebagai seorang Ibu dan anak lelaki. Kita bisa bicara dari hati ke hati tanpa ada sekat yang membatasi.

Jika anda adalah seorang lelaki – apalagi jika anda saat ini adalah lelaki yang telah memiliki pencapaian tertentu – jangan lupa untuk mentraktir orang tua yang selama ini selalu mendukung perjalanan anda karena kita tidak pernah tahu, sampai kapan kita bisa berbakti pada beliau berdua.

– A man’s gotta do what a man’s gotta do –

Comments

comments