Ayah, Anak dan Seekor Keledai

Di jaman dahulu kala, di sebuah jalanberbukit menuju kota tua Petra, dikisahkan ada seorang ayah dan anak yang berjalan menaiki bukit sambil menarik keledainya. Orang-orang di sekitarnya punheran, kenapa mereka tidak menaiki saja keledainya? Bukankah jalan berbukit inicukup melelahkan untuk didaki?

Mendengar kasak-kusuk orang di sekitarnya,mereka pun berinisiatif untuk menaiki keledainya untuk menaiki jalan berbukititu.

Tidak lama kemudian mereka bertemu beberapaorang di jalan dan mereka pun ditegur “Gila yah kalian ini!?!? keledai sekecilitu kalian naiki berdua? Kalian tidak berperikehewanan yah?”

Sang Ayah yang pertama kali mendengar halitu pun akhirnya turun dan mulai menuntun keledainya, sedangkan sang anak masihtetap dibiarkan duduk di atas keledai yang digeretnya.

Sambil terus berjalan menaiki bukit, merekapun bertemu beberapa orang lagi yang menegur anaknya.

“Anak macam apa kamu ini? Membiarkan Ayahmumenarik keledai menaiki bukit! Sedangkan kau hanya duduk santai di ataskeledai!” Mendengar hal itu anaknya pun turun dan meminta Ayahnya saja yangmenaiki keledai itu, sedangkan dia yang akan menuntun keledai itu menaikibukit.

Beberapa waktu berselang dan mereka punbertemu dengan orang yang kebetulan lewat di jalan. Dan seperti sebelumnya,orang yang kali ini mereka temui pun juga mengomel.

“Ayah macam apa kau ini? Membiarkan anakmuterlihat seperti budak dengan menarik keledai yang kau tunggangi sendirian!”

Setelah sekian kalinya mereka mendengarbanyaknya orang mengomel atas apa yang mereka lakukan, mereka pun bingung danmereka berdua akhirnya memutuskan untuk digendongnya sajalah keledainya ini.

Sambil mengendong keledai menaiki bukit,kali ini pun mereka tetap mendengar seseorang mencemooh mereka.

“Kedua Ayah dan Anak ini pastisudah gila! Bukankah lebih baik apabila mereka berdua menunggangi keledaimereka ini?”

Didalam hidup seringkali kita mendengarkanperkataan atau bahkan cemooh yang berasal dari sekitar kita. Ketika kitaterpaksa pulang malam karena ada kerjaan menumpuk di kantor, tiba-tiba esoknyakita mendengar gossip tidak sedap yang mengatakan hal-hal buruk “kenapa kitapulang malam”; Ketika kita yang sudah berniat untuk diet, tiba-tiba berhentikarena diimingi-imingi oleh enaknya makanan di restoran yang baru saja rekankita kunjungi; ketika kita yang sudah berniat ambil master degree di luar negeri terpaksa harus membatalkan, karenamendengar asumsi salah seorang rekan yang belum tentu benar, dan lainsebagainya.

Cemooh sering datang dan berlalu seiringberjalannya waktu dan mungkin tidak akan pernah berhenti, namun sikap kitamerespon cemooh itulah yang harusnya kita pertimbangkan. Jangan sampai sepertikedua Ayah dan anak itu yang tidak punya tendensi dan selalu “dengan terpaksa”menuruti keinginan orang-orang di sekitar mereka.

Kitalah yang tahu apa yang sebenarnya haruskita lakukan dan kitalah juga yang tahun akan arah yang akan kita tuju. Bolehsaja mendengarkan perkataan atau kritikan dari rekan sekitar kita, tapi jadikanitu sebagai referensi saja untuk mengarungi hidup ini. Jika memang perkataanmereka berguna untuk pengembangan diri kita, jadikan hal itu sebagai masukanuntuk diri kita kedepannya. Jika menurut anda tidak, sudah lupakan saja. Andasendirilah yang tahu kemana kelak bahtera kehidupan anda berlabuh.

Comments

comments