Beda Sang Pemimpi dengan yang Hanya Bermimpi

Jika anda pernah membaca sebuah rilis fakta tentang Steve Jobs, maka anda tidak akan percaya bagaimana orang sejenius itu ketika masih Sekolah Menengah hanya memiliki IPK 2,65 saja. Kalau anda membaca rilisan fakta ini jauh sebelum Steve Jobs terkenal, maka anda mungkin akan berpendapat bahwa masa depan anak ini pasti akan suram, apalagi didukung dengan kebiasaan buruknya mengkonsumsi obat-obatan terlarang. Namun, bagaimana dahulu orang-orang hebat seperti Steve Jobs ini mampu bangkit dari keterpurukannya dan berani bermimpi dan berkarya untuk berkontribusi untuk kemajuan umat manusia ini?

Sudah begitu banyak buku, film atau bahkan seminar yang mengajarkan pada kita betapa pentingnya sebuah impian untuk mencapai sebuah kesuksesan. Tapi permasalahannya adalah,  apakah yang kita lakukan ini hanyalah sekedar bermimpi saja ataukah kita adalah Sang Pemimpi yang berani berjuang untuk mewujudkan impian yang selama ini terpendam jauh di dasar hati kita?

Opini saya berikut ini mungkin bisa dijadikan masukan untuk mengetahui, mana Sang Pemimpi dan mana yang hanya sekedar bermimpi saja.

Sang Pemimpi Mengambil Inisiatif, Yang Hanya Bermimpi Cuma Menunggu

Sang Pemimpi punca kecenderungan-kecenderungan untuk mengembil inisiatif sendiri. Baginya, kesempatan adalah jalan setapak yang harus dibuatnya untuk menuju menuju visi yang telah ia tetapkan. Sedangkan yang hanya bermimpi saja punya kecenderungan menunggu. Entah itu menunggu hari baik, peluang kerja yang baik, rekanan yang baik dan hal baik lainnya.

Jika anda pernah membaca tulisan saya tentang Ang Lee, maka anda akan tahu bagaimana orang yang terus berjuang untuk mewujudkan mimpinya ini harus jatuh bangun diterpa ketidak pastian dalam mewujudkan impiannya. Tapi ia tidak pernah mencari alasan untuk mengeluh, ia terus mencari kesempatan untuk memfilmkan karyanya hingga akhirnya ia menjadi salah satu sineas paling disegani di Hollywood hari ini dengan filmnya Crouching Tiger Hidden Dragon dan Life of Pi.

Sang Pemimpi Tahu, Dialah yang Bertanggung Jawab atas Apa yang Terjadi

Sang Pemimpi punya respon yang benar-benar objektif atas apapun yang terjadi. Jika dalam perjalanan mewujudkan impiannya terjadi kesalahan ataupun kekeliruan, ia tidak akan mencari kambing hitam untuk dipersalahkan. Baginya hidup ini adalah pilihan dan ialah yang bertanggung jawab sepenuhnya atas apa-apa yang ia pilih. Jika toh suatu saat apa yang telah menjadi pilihannya ini ternyata membawa kegagalan pada dirinya, ia pun bisa memetik pelajaran berharga agar hal serupa tidak terjadi lagi dalam hidupnya di masa yang akan datang.

Sang Pemimpi Bekerja dengan Disiplin, Yang Hanya Bermimpi Mengandalkan Faktor Keberuntungan Saja

Sang Pemimpi harusnya sadar, bahwa untuk mencapai sebuah kesuksesan mereka harus disiplin untuk merealisasikan mimpinya. Jika anda pernah membaca tulisan saya yang berjudul Bagaimana Talenta Lahir, maka anda akan tahu bahwa sukses The Beatles di kancah musik global butuh waktu latihan lebih dari 10,000 jam untuk bisa mencapai performa maksimalnya. Walaupun dibayar murah dan harus berpindah-pindah mangung di kota Hamburg, tapi The Beatles tetap disiplin dalam meningkatkan performanya dan motode inilah yang kelak akan menjadikan mereka sebagai legenda. Karena kesuksesan pada dasarnya hanyalah soal pertemuan antara timing yang tepat dengan kesiapan saja, dan kesiapan ini harus dilatih dengan disiplin, bukan hanya mengandalkan faktor keberuntungan saja.

Sang Pemimpi Mencari Alasan untuk Bertindak, Yang Hanya Bermimpi Mencari Alasan untuk Mengeluh

Sang Pemimpi memfokuskan diri pada tindakan-tindakan yang makin mengarahkan kepada impiannya. Ia sangat membenci pekerjaan yang tidak mengakarkan apa-apa. Baginya, tantangan hidup adalah sesuatu yang hadir untuk diselesaikan, bukan dikeluh kesahkan. Mari kita renungkan pada diri kita masing-masing, dalam perjalanan untuk mewujudkan impian kita, ketika kita mulai dihadapkan oleh permasalahan hidup, mana yang cenderung kita lakukan? apakah kita fokus bertindak untuk menyelesaikannya ataukah malah berkeluh kesah saja?

Ingat, berkeluh kesah tidak akan merubah nasib anda. Fokus pada penyelesaian masalahlah yang mampu membantu kita.

Sang Pemimpi Berani Berproses, Yang Hanya Bermimpi Ingin Enaknya Saja

Dalam pidatonya di hadapan wisudawan Universitas Stanford di tahun 2005, Steve Jobs berkata bahwa kesuksesan Apple saat inilah masalah proses yang telah ia jalani. Meskipun harus keluar dari Reed Collage karena merasa bersalah telah menghabiskan uang tabungan keluarganya untuk kuliah, ia tetap terus berusaha mewujudkan mimpinya untuk membuat perubahan di dunia ini.

Hal ini sangat berkebalikan dengan apa yang dikatakan oleh “orang-orang tolol” belakangan ini yang berani mengatakan bahwa kesuksesan ini diraih dengan cara singkat, bombastis dan dahsyat. Seolah-oleh sukses itu semudah membalikkan telapak tangan saja. Jika anda berani bermimpi, maka anda juga harus berani berproses untuk mewujudkannya.

Remember! If there’s something too good to be true, that’s not true.

Semoga kita semua adalah Sang Pemimpi yang berani memperjuangkan dan mewujudkan apa-apa yang telah kita cita-citakan. Bukan hanya duduk tenang menunggu keajaiban saja.

 

You may say i’m dreamer, but i’m not the only one. I hope someday you’ll join us, and the world will be as one – John Lennon

 

Comments

comments