Belajar Arti Kegagalan dari Ignition Kedua Gerakan 1000 Startup Digital di Jogjakarta

Minggu 18 September 2016 kemarin, bertempat di Graha Sabha Pramana Universitas Gadjah Mada, Jogjakarta, saya diberi kesempatan untuk memoderatori salah satu sesi di program Ignation yang kedua yang diinisiasi oleh teman-teman dari Gerakan 1000 Startup Digital Indonesia.

Dalam sesi yang bertemakan “Fasil Fast, Fail Forward” ini, saya berkesempatan untuk berbincang-bincang dengan dua orang panelis sekaligus, yakni Frida Dwi Iswantoro, Co-Founder dari Agate Studio dan juga Hiro Whardana yang merupakan CEO dari Code Inc.

Selama sesi bincang kreatif ini, ada beberapa hal yang saya tangkap berkaitan dengan proses para startup entrepreneur dalam membangun bisnisnya. Pertama adalah masalah pendanaan. Pastikan diri kalian siap dan layak apabila menerima dana yang cukup besar dari para investor, karena pada nyatanya banyak sekali startup entrepreneur menghamburkan uangnya untuk sesuatu yang sifatnya pleasure daripada meningkatkan produktivitas dari perusahaannya.

Kedua masalah kesamaan visi adalah yang yang harusnya menjadi concern bagi para founders. Seringkali startup itu bubar bukan karena performanya yang sedang tidak bagus, tapi karena perbedaan visi antar Co-Founder yang menyebabkan salah satunya musti hengkang hingga manajemen perusahaan menjadi pincang.

Dan yang tidak kalah penting dari keseluruhan sesi ini adalah penjelasan kedua panelis tentang ekosistem bisnis di Indonesia sendiri yang belum siap untuk meng-embrace sebuah kegagalan. Kegagalan satu startup hendaknya dijadikan pelajaran untuk startup lainnya agar kedepannya kegagalan serupa tidak terjadi di startup lainnya yang sedang berkembang di negeri ini.

Selesai memoderatori acara, saya jadi ingat sebuah ungkapan yang pernah saya baca di dalam sebuah prospektus dari salah satu sekolah bisnis terkenal di Prancis: “Every entrepreneurs know they have to dream big, start small and move fast. It is ok to fail sometimes, at least we learn something.”

Comments

comments