TechCamp 2017, Bangkok, Thailand

May 15, 2017, i had a chance to fly to Bangkok to get involved in the event that is sponsored by US Government and The Asia Foundation called TechCamp. TechCamp is a U.S. Department of State initiative aimed to connect community and youth leaders from across the YSEALI Network and civil society organizations with local and international technology experts and trainers to help youths and their organizations communicate most effectively with networks and other communities.

TechCamp Thailand is a hands-on, highly interactive two-day event where participants interact with world-class trainers through a series of training and brainstorming sessions.

This post is actually a description of the whole TechCamp Thailand 2017 and i hope you enjoy it!

Belajar Arti Kegagalan dari Ignition Kedua Gerakan 1000 Startup Digital di Jogjakarta

 

Minggu 18 September 2016 kemarin, bertempat di Graha Sabha Pramana Universitas Gadjah Mada, Jogjakarta, saya diberi kesempatan untuk memoderatori salah satu sesi di program Ignation yang kedua yang diinisiasi oleh teman-teman dari Gerakan 1000 Startup Digital Indonesia.

Dalam sesi yang bertemakan “Fasil Fast, Fail Forward” ini, saya berkesempatan untuk berbincang-bincang dengan dua orang panelis sekaligus, yakni Frida Dwi Iswantoro, Co-Founder dari Agate Studio dan juga Hiro Whardana yang merupakan CEO dari Code Inc.

(more…)

Global Youth Startup ASEAN 2015 – The Melting Spot for Youth Leaders, Hustlers, Designers and also Coders

Sebenarnya sudah lama saya ingin sharing pengelamanan saya mengikuti acara Global Youth Startup ASEAN 2015 pada pertengahan Maret kemarin. Tapi apa mau dikata, karena kesibukan sana-sini, akhirnya baru kali inilah saya berkesempatan membagikan pengalamanan ini kepada anda.

Awalnya saya mendapat info tentang Global Youth Startup ASEAN dari seorang teman yang saya kenal dari acara YSEALI di Myanmar – Zakwan Buang. Awalnya ia memposting info ini di group YSEALI Myanmar, lalu ia mulai meminta saya untuk menyebarkan info ini ke beberapa rekan melalui facebook chat. Ketika iseng-iseng share info ini, kenapa ngga apply aja sekalian?

(more…)

7 Alasan Mengapa Kita Mengorganisir Konferensi TEDx di Indonesia

TED adalah sebuah organisasi non-profit yang bertujuan untuk menjadi katalisator ide-ide brilian yang memiliki dampak signifikan untuk membuat sebuah perubahan. TED sendiri dimulai pada tahun 1984 sebagai sebuah konferensi yang bertujuan untuk menyatukan ide-ide inspiratif dari dunia Teknologi, Entertainment dan juga Desain. Namun seiring perkembangan dari konferensi ini, topi yang dibahas pun tidak hanya mencakup tiga hal itu saja, tetapi isu-isu seputar bisnis, psikologi hingga sosial pun tak luput dari pembahasan TED.

Sementara itu, sejak tahun 2008, TED membuka kesempatan bagi semua orang di seluruh dunia untuk dapat mengorganisir event seperti TED yang kemudian di berinama TEDx. Di Indonesia sendiri kita mengenal beberapa organisasi TEDx, seperti : TEDxJakarta, TEDxJakSel, TEDxBandung, TEDxITT, TEDxTuguPahlawan, TEDxITS, TEDxUbud hingga TEDxMakassar.

Berikut ini adalah poin opini saya, mengapa anak muda seperti kita ini harus mengirganisir konferensi TEDx di Indonesia :

1. Magnet Sesama Anak Muda yang Peduli akan Perubahan

Ketika awal kali memiliki ide untuk mengorganisir TEDxTuguPahlawan di Surabaya tahun 2011 lalu, saya masih sedikit ragu, apakah nantinya antusiasme di kota ini akan seramai di Jakarta, Bandung dan Ubud. Ketika saya mulai mem-posting ide ini di sosial media, mulailah beberapa anak muda yang sevisi tertarik untuk mendukung mewujudkan hal ini. Rata-rata mereka yang tertarik adalah mereka yang peduli terhadap perubahan dan berkomitmen untuk memberikan kontribusi positif untuk kota Surabaya. Dan hal ini pun sepertinya juga terjadi di Jakarta, Bandung dan Ubud. Sepertinya nama TED sendiri telah menjadi magnet bagi anak muda yang peduli akan perubahan dan ide-ide brilian untuk berkumpul bersama dan membuat sebuah karya.

(more…)

YSEALI – Tempat Dimana Pemimpin Muda ASEAN Berkolaborasi

Minggu lalu, tepatnya tanggal 11 November 2014, saya diundang pergi ke Yangon, Myanmar oleh sebuah lembaga yang bernama YSEALI (singkatan dari Young South East Asia Leadership Initiative). Acara yang bertajuk “The Power of Collaboration” ini mengundangan 20 perwakilan dari 10 negara ASEAN, jadi setiap negara setidaknya mengirimkan dua perwakilan, hanya Brunai Darussalam saja yang mengirimkan satu perwakilan dikarenakan ada halangan.

Perlu diketahui, program YSEALI sendiri adalah hasil inisiatif dari Presiden Barack Obama yang diluncurkan pada tahun 2013. Tujuan dari diluncurkannya program ini sendiri adalah untuk memperkuat pengembangan dan jaringan kepemimpinan anak muda antar negara di seluruh kawasan ASEAN. Program dari YSEALI ini sendiri fokus pada beberapa hal utama seperti lingkungan hidup, kewirausahaan dan pembangunan ekonomi di seluruh kawasan ASEAN. Untuk lebih kelasnya, bisa check di sini.

Saya menghabiskan waktu selama 5 hari di kota Yangon dengan rincian 3 hari efektif dan 2 hari di awal dan di akhir untuk persiapan. Selama 3 hari efektif ini, seluruh delegasi dari YSEALI diberi sebuah contoh studi kasus yakni bagaimana mengembangkan Myanmar di masa yang akan datang.

Hari efektif pertama kami bertemu dengan beberapa aktivis pro demokrasi di Myanmar. Dari sini kami baru tahu bahwa sebenarnya demokrasi yang digembar gemborkan oleh media di Myanmar hanyalah palsu belaka. Kebanyakan yang duduk di pemerintahan Myanmar sampai saat ini adalah para militer yang hanya “ganti baju saja”. Merenungkan hal ini, saya jadi ingat jaman Soeharto di Indonesia yang kabinetnya banyak diisi oleh orang dengan latar belakang militer.

Setelah berdiskusi banyak dengan para aktivis pro demokrasi di Myanmar, kami mengunjungi sebuah Monastic School di pusat Kota Yangon. Monastic School di sini konsepnya sangat mirip dengan Pesantren di Indonesia. Cuma kalau di Indonesia para muridnya adalah santri, kalau di Myanmar para muridnya adalah biksu-biksu kecil. Pelajaran yang diajarkan pun beragam, mulai dari ilmu sosial, kewarganegaraan hingga Bahasa Inggris. Tak heran, walau pun usia mereka masih awal belasan tahun, tapi bahasa Inggris mereka sudah bisa dibilang ok.

Malamnya di hari pertama, kami mengunjungi Swedagon Pagoda. Sebenarnya letaknya tidak jauh dari hotel kami di Summit Park View, jadi ketika olah raga pagi di taman depan hotel, kami sering memandangi keindahan kubah emasnya. Tapi kali ini kita diajak masuk langsung kedalam tempat pagodanya. Satu kata yang bisa mendiskripsikan Pagoda ini : AMAZING! Ternyata kubah pagoda itu terbuat dari emas asli. Dan emas itu didapat dari sumbangan seluruh warga Yangon di masa silam. Besar pagoda ini mungkin sebesar sedikit lebih kecil dari Borobudur, tapi karena masih aktifnya pagoda ini untuk sembahyang para penganut budha, jadi kesan relijiusnya masih sangat terasa.

(more…)