Beda Sang Pemimpi dengan yang Hanya Bermimpi

Jika anda pernah membaca sebuah rilis fakta tentang Steve Jobs, maka anda tidak akan percaya bagaimana orang sejenius itu ketika masih Sekolah Menengah hanya memiliki IPK 2,65 saja. Kalau anda membaca rilisan fakta ini jauh sebelum Steve Jobs terkenal, maka anda mungkin akan berpendapat bahwa masa depan anak ini pasti akan suram, apalagi didukung dengan kebiasaan buruknya mengkonsumsi obat-obatan terlarang. Namun, bagaimana dahulu orang-orang hebat seperti Steve Jobs ini mampu bangkit dari keterpurukannya dan berani bermimpi dan berkarya untuk berkontribusi untuk kemajuan umat manusia ini?

Sudah begitu banyak buku, film atau bahkan seminar yang mengajarkan pada kita betapa pentingnya sebuah impian untuk mencapai sebuah kesuksesan. Tapi permasalahannya adalah,  apakah yang kita lakukan ini hanyalah sekedar bermimpi saja ataukah kita adalah Sang Pemimpi yang berani berjuang untuk mewujudkan impian yang selama ini terpendam jauh di dasar hati kita?

Opini saya berikut ini mungkin bisa dijadikan masukan untuk mengetahui, mana Sang Pemimpi dan mana yang hanya sekedar bermimpi saja.

(more…)

Beat The Giant

Baru-baru ini saya menemukan insight yang menarik dari salah satu majalah bisnis di Indonesia. Eksistensi Coca-cola sebagai penguasa industri minuman bersoda di Indonesia sedang terancam dengan masuknya Big Cola. Baru dua tahun masuk Indonesia, produk asal Peru itu berhasil melaju ke urutan tiga besar minuman berkarbonasi di Indonesia berdasarkan data Asosiasi Industri Minuman Ringan Indonesia (ASRIM). Ukurannya yang besar dan harganya yang relatif murah adalah strategi yang mereka terapkan untuk menarik lebih banyak segmen.

Perlu diketahui, harga Coca-cola lebih mahal sekitar 30%-40% daripada harga Big Cola di pasaran Indonesia. Hal ini menjadikan segmen bawah yang sebelumnya enggan meminum cola karena urusan harga, menjadi lebih berkenan untuk meminum jenis minuman ini dengan hadirnya Big Cola.

Selain urusan harga dan ukurannya yang jumbo, strategi Big Cola untuk merambah jaringan ritel modern di luar Jawa menjadikan jangkauan pasarnya semakin luas. Di kota-kota seperti Manado, Sampit dan Abepura, dimana brand awareness terhadap minuman Cola belum terbentuk, konsumen hanya melihat harga murah dan ukuran yang besarlah sebagai pilihan yang tepat.

Membaca tentang keberadaan Big Cola yang mulai mengancam pasar Coca-cola ini, saya jadi kembali teringat akan kisah David vs Goliath.

(more…)

Teori tentang Krisis yang Berguna

Dua minggu lalu saya mendapat kesempatan untuk mengunjungi sebuah perusahaan produsen aksesoris elektronik yang berlokasi di wilayah Alam Sutera, Tangerang. Dalam lawatan ini, saya bertemu dengan pimpinan perusahaannya yang biasa dipanggil Pak Sugiarto. Pak Sugi – begitu biasanya dipanggil – menjelaskan betapa kedepannya ia ingin berekspansi besar-besaran untuk memenangkan market share penjualan aksesoris alat-alat elektronik. Perusahaan ini sudah mulai membuka retailnya kira-kira sejak 3 tahun lalu di beberapa Mall di Indonesia. Kalau ingin tahu apa nama perusahaan ini, kepanjangannya adalah “Well Communicated”. Guess what!

Salah satu kunci penetrasi pasar yang begitu besar dari perusahaan ini dalam 3 tahun terakhir adalah ketegasan Pak Sugi dalam menganalogikan situasi krisis kepada para anak buahnya.

“Apa kamu yakin bisa menghasilkan penjualan Rp 300,000,000 per bulan di wilayah yang baru kita masuki ini?” Ujar Pak Sugi kepada anak buahnya sebagai analogi kepada saya dan tentu anak buahnya bilang tidak bisa sambil beropini dengan membandingkan penjualan di daerah lama tertentu yang angkanya tidak sebesar itu.

“Jika anakmu diculik hari ini dan besok penjahatnya minta tebusan Rp 300,000,000 apakah kamu bisa mengusahakan uang itu?” Tanya Pak Sugi sekali lagi kepada anak buahnya dan – walau masih sedikit ragu – anak buahnya berkata bisa.

Dalam keadaan terdesak, sering kali manusia akan terpaksa untuk mengeluarkan kekuatan yang selama ini tidak disadarinya. Kekuatan yang tidak disadari ini sering kali begitu hebatnya sehingga kita sendiri seakan tidak percaya bisa melakukannya.

(more…)

Underdog – Bagaimana Mereka yang Lemah Mengalahkan yang Kuat

Secara umum, underdog sering diartikan sebagai pihak yang tidak diunggulkan dalam sebuah kompetisi atau pertarungan. Kehadiran mereka sering kali tidak diperhitungkan dan bahkan sering dipandang sebelah mata oleh banyak pihak. Tapi ada beberapa studi kasus dimana para underdog yang sering kali tidak diunggulkan ini tiba-tiba muncul secara mengejutkan dan memenangkan pertarungan dengan pihak yang selama ini selalu diunggulkan.

David versus Goliath

Mungkin kisah tentang underdog paling terkenal sepanjang masa adalah kisah tentang pertarungan antara David melawan Goliath. Bahkan di semua kitab agama samawi pun kisah ini seolah telah menjadi sebuah kisah klasik yang wajib diketahui oleh semua pengikutnya.

Secara singkat diceritakan bahwa dulu di daerah bernama Syefala di tengah-tengah Palestina kuno terdapat dua bangsa yang saling berseteru yakni bangsa Israel dengan bangsa Filistin. Bangsa filistin berasal dari pulau Kreta di laut tengah. Mereka bangsa pengarung samudra yang telah pindah ke Palestina dan menetap di sepanjang pantai. Sedangkan bangsa Israel adalah bangsa yang hidup secara bergerombol di pegunungan di bawah kepemimpinan Raja Saul.

Di sekitar abad kesebelas S.M. pasukan Filistin dan Israel terlibat dalam sebuah pertempuran di kawasan lembah Elah. Pasukan Filistin berkemah di punggung selatan Elah. Pasukan Israel berkemah di sisi seberangnya, sehingga kedua pasukan itu saling pandang menyebrangi lembah. Kedua pihak sama-sama tidak berani maju terlebih dahulu. Dan dijaman itu, merupakan hal yang biasa untuk mengirimkan prajurit terhebat sebagai perwakilan perang dalam pertarungan satu lawan satu. Akhirnya bangsa Filistin pun mengirimkan prajurit terhebatnya. Seorang raksasa yang berukuran dua meter lebih. Mengenakan baju zirah lengkap, bersenjatakan tombak, lembing dan pedang. Prajurit itu bernama Goliath.

(more…)

5 Pelajaran Penting untuk Para Pemuda yang Memimpin Bisnis (Atau Organisasi)

Secara umum, seorang individu menghabiskan lebih dari 20 tahun di jajaran managemen perusahaan sebelum pada akhirnya ia menjadi kepala pimpinan di sebuah perusahaan. Tapi realita ini sedikit bergeser beberapa tahun belakangan. Anak muda berusia 20 hingga 30 tahuanan dengan ide inovatifnya mendirikan organisasi mereka sendiri dan mulai memimpin perusahaan dengan membawahi atau berpartner dengan mereka yang lebih dewasa.

Diskusi tentang pengusaha muda ini kebanyakan terfokus pada ide dan kreativitas saja, pada hal beberapa hal lain seperti pengalaman pun sama pentingnya. Opini dari saya berikut ini mungkin bisa dijadikan sebagai pertimbangan bagi mereka yang berusia 20 sampai 30 tahunan yang telah memimpin bisnis atau organisasi mereka sendiri.

Kita yang Memiliki Visi dan Energi dengan Mereka yang Berpengalaman dan Bijak

Modal utama pemimpin bisnis di usia muda adalah ide kreatif dan visi yang akan mengantarkan organisasi mereka kedepannya. Tapi permasalahannya, kita yang masih muda ini tidak memiliki pengalaman bisnis yang mumpuni untuk memulai bisnis dengan well prepared.

Jika anda pernah melihat film terbaru Steve Jobs yang diperankan oleh Aston Kutcher yang berjudul Jobs, anda dapat menganalisa bagaimana keadaan Apple Inc sebelum kemasukan Mark Markula. Dengan organisasi yang penuh dengan anak muda yang hanya mengandalkan ide dan semangat, Apple Inc hanya bertahan di garasi orang tua Jobs. Dengan masuknya Mark Markula yang lebih dewasa dan berpengalaman, transfer ilmu, networking dan sumbangan dana investasi dapat membuat Apple Inc melangkah beberapa level lebih tinggi.

Beberapa waktu lalu ketika saya memiliki ide bisnis untuk mendirikan startup di bidang inovasi, saya mencoba mengajak mantan dosen saya di kampus yang akan mengambil studi doktor tentang Green Energy di Glasgow. Karena saya yakin, ide dan semangat yang saya punya akan menjadi sesuatu yang luar biasa jika dikombinasikan dengan pengalaman dan kebijaksana yang dosen saya ini miliki.

(more…)