Entrepreneur atau Intrapreneur, Mana yang Anda Pilih ?

Seperti yang kita ketahui, gaung istilah intrapreneur masih kalah jauh jika dibandingkan dengan entrepreneur yang seolah-olah menjadi tren tersendiri 5 tahun terakhir ini. Berbagai media massa berlomba-lomba mengangakat kisah sukses entrepreneur, beberapa orang berbondong-bondong mengkultuskan diri mereka sebagai entrepreneur hingga beberapa institusi pendidikan yang mengklaim diri mereka sebagai institusi dengan kultur entrepreneurship. Lantas, dimana porsi intrapreneur dalam kehidupan kita sekarang ini?

Sebelum berbicara lebih jauh tentang intrapreneur ini sendiri, alangkah baiknya jika kita bicara perbedaan antara intrapreneur dengan karyawan biasa. Beberapa perbedaan mungkin terletak pada kreativitas dan inovasi. Namun esensi perbedaan antara intrapreneur sendiri dengan karyawan biasa terletak pada visi yang mereka miliki. Karyawan mungkin tidak memiliki visi sebesar intrapreneur. Kita semua tahu bahwa manusia digerakkan oleh visinya. Intrapreneur memiliki visi untuk lebih mensejahterakan hidupnya dan hidup orang lain dimana ia bekerja sehingga memunculkan kreativitas dan inovasi dalam bekerja.

Sampai saat ini memang masih banyak pihak yang hanya memperhatikan sosok entrepreneur dan mengesampingkan sosok intrapreneur yang sebenarnya juga sangat berperan dalam kemajuan ekonomi Indonesia. Padahal konsep dari intrapreneur sendiri adalah orang yang memiliki dan menggunakan inovasi dan kreativitas dalam bekerja di sebuah perusahaan yang bertujuan untuk mengikat nilai perusahaan tersebut.

Dampak dari peran intrapreneur sendiri sangat positif baik bagi pihak internal maupun eksternal perusahaan. Yang lebih menarik lagi adalah kemampuan intrapreneur untuk meningkatkan “cooperative advantage” dari perusahaan dimana mereka berada hingga perusahaan mampu bersaing dalam banyak hal.

(more…)

Kuliah Itu Tetap Penting

Beberapa waktu lalu teman main saya berkata “Bill Gates aja sukses ngembangin Microsoft walaupun drop out dari Harvard, so Kayanya aku musti cabut juga dari kampus dan fokus ngembangin usaha ini”

Perlu diketahui kawan, teman saya ini punya usaha Cafe di wilayah Surabaya pusat. Cafenya tidak seberapa ramai ketika weekdays, namun cukup untuk memenuhi “biaya operasional” selama seminggu ketika pengunjung weekend berdatangan.

Menanggapi pernyataan sebelumnya saya sih hanya bisa nyeletuk “Iya men, kalo kamu sekolahnya di Harvard mau DO atau apapun terserah, lah kalo sekolahnya di ***** (kampus di Surabaya Pusat), apalagi sayang banget loh, kan studi kasus di kampus lumayan juga buat referensi ngembangin Café. Toh kamunya ngga sibuk-sibuk amat kan di Café?”

Teman saya yang ini sih masing mending ada Usaha. Beberapa tahun yang lalu, saya pernah bertemu dengan teman SMA saya di sebuah Mall, saya tanya bagaimana perkembangan kuliahnya, dia cuma bilang lagi males aja kuliah, mending dia keluar dan langsung cari kerja.

“Useless banget kuliah itu, kebanyakan teori. Lagian orang-orang kaya Steve Jobs, Bill Gates atau Mark Zuckerberg aja bisa sukses walaupun mereka DO”.

(more…)

Cobalah Menjadi Minoritas, Walau Sekali Seumur Hidup

Kemarin (15/08/2013) pada sebuah acara yang saya pandu di US Consulate General Surabaya yakni TEDxTuguPahlawanSalon, salah seorang peserta bertanya kepada salah seorang namasumber kami yakni Andrew Veveiros – seorang diplomat dari Amerika – tentang bagaimana caranya agar kita dapat memahami satu sama lain di dalam sebuah bangsa yang begitu majemuk ini.

Satu jawaban Andrew yang menurut saya cerdas sekali adalah “Once in a life time, try to be minority” – sekali seumur hidup, cobalah menjadi minoritas. Dalam paparannya, menjadi minoritas kadang membuat kita mau tidak mau harus beradaptasi dengan berbagai macam hal yang berbeda seperti bahasa, kebiasaan hingga sistem kepercayaan yang sering kali bertolak belakang satu sama lain.

Dia mencontohkan bagaimana dia dulu pertama kali tiba di Indonesia yang banyak “dipuja” media barat sebagai sarang teroris, ternyata ketika sekarang ia bergaul dengan masyarakat Indonesia, toh image yang dibentuk oleh media di negaranya ini ternyata tidak benar.

Hal senada juga dipaparkan oleh narasumber saya yang lainnya, Lona Raditya. Beberapa waktu yang lalu ketika ia menghadiri sebuah konferensi anak muda di New Zealand, ia “terpaksa” harus menginap dengan seorang wanita Jawa Muslimah berjilbab di KBRI Wellington. Untuk sekedar info, Lona adalah seorang Katholik keturunan Tionghoa. Awalnya teman barunya yang Muslimah ini terlihat enggan untuk menginap satu kamar dengan Lona yang Katholik dan keturunan tionghoa itu. Saya tidak tahu mengapa ia merasa enggan, tapi mungkin seperti halnya mayoritas masyarakat Indonesia yang telah lama “hidup menyediri dengan golongannya”, sering kali terdapat prasangka yang tidak-tidak tentang golongan tertentu. Hal inilah yang kadang menyebabkan persepsi yang tidak-tidak diantara kita.

(more…)

Made to Stick – Bagaimana Ide Anda Menempel Dibenak Orang

Hal apa yang pertama kali anda ingat dari Martin Luther King? Mungkin saja “I Have A Dream”. Kalau Apple? Bisa jadi “Think Different”. Bagaimana dengan Donny Iskandar teman kita yang paling pintar di kelas? Adakah hal yang kalian ingat dari dia?

Beberapa ide menempel dibenak orang, lainnya hangus dan terlupakan oleh waktu. Ini bukan masalah keterkenalan orang atau tidak, tapi ini lebih berkaitan dari bagaimana anda menyampaikan ide anda dan membuatnya menempel dalam-dalam dibenak orang.

Ada beberapa tips yang mungkin bisa saya bagikan untuk membuat ide anda lebih menempel dibenak orang. Kuncinya adalah SUCCES. Apa saja itu?

(more…)