George Town, Penang – Spontaneous Travel with A Girl from Instagram

Atraksi Utama Armenian Street

15 Desember kemarin saya memutuskan untuk travelling ke Malaysia bersama salah seorang teman dari TEDxTuguPahlawan. Sebenarnya travelling kali ini sangat dadakan karena persiapannya hanya membutuhkan waktu tiga hari saja; mulai dari membeli tiket pesawat, tukar uang ringgit sampai packing baju, karena memang travelling kali ini bukanlah sebuah perjalanan yang perlu direncanakan dengan matang, mengingat saya sudah cukup sering pergi ke Malaysia, baik untuk urusan kerjaan sampai acara kepemudaan.

Tapi yang membuat saya tetap excited kali ini adalah.. perjalanan ini akan menjadi perjalanan pertama saya ke George Town – sebuah kota di Pulau Penang yang terkenal akan Heritage-nya. Perjalanan ke George Town kali ini juga sebenarnya bukan hanya pekara jalan-jalan saja, tapi juga mengikuti kontes foto maraton yang diadakan oleh Canon.

Setelah mendarat di KLIA 2 pada tengah hari, kami memutuskan untuk rehat sejenak di tempat om teman saya di daerah Selangor, selanjutnya pada tengah malam kami pergi ke George Town menggunakan bus. Perjalanan dengan bus ini kami rasa cukup nyaman mengingat busnya sendiri cukup representatif dan jalan yang kami lalui pun sangat mulus, jadilah perjalanan malam selama 5 jam ini terasa nyaman.

(more…)

Paradoks Seorang Jenius

The Genius itself: Robert Oppenheimer

Sudahkah Anda Mendengar Cerita Christopher Langan?

Jika anda diminta menyebutkan siapa nama orang paling jenius di dunia dalam sejarah hingga hari ini? Mungkin jawaban anda adalah Albert Einstein. Tapi jika pertanyaannya sedikit saya rubah seperti, siapakah orang dengan nilai kecerdasan intelektual atau IQ paling tinggi dalam sejarah hingga hari ini, apakah anda akan menjawab Albert Eintein sekali lagi? Kebanyakan mungkin masih akan menjawab Iya. Tapi ketauhilah bahwa pemilik nilai IQ tertinggi dalam sejarah bukanlah Albert Einstein, meskipun dengan teori relativitasnya dapat merubah persepsi kita akan gravitasi yang merupakan konsekuensi dari ruang dan waktu, tapi perlu diketahui bahwa nilai IQ Albert Einstein “hanya” berkisar pada angka 150an saja. Lantas siapa pemilik nilai IQ tertinggi dalam sejarah hingga hari ini? Perkenalkan namanya adalah Christopher Langan.

Menurut beberapa media di Amerika Serikat, Christopher Langan dilabeli sebagai “The Smartest Man in America”, hal ini sebenarnya tidak berlebihan mengingat nilai IQ dari Christopher Langan mencapai angka 195 sampai dengan 210. Bandingan dengan Einstein yang “hanya” pada kisaran 150an saja, cukup jauh bukan?

(more…)

School Kills Creativity by Sir Ken Robinson

I knew Sir Ken Robinson for the first time from his video at TED.com which described about “How the school kills our creativity”. That video really open my eyes that our school actually not only have a role to develop our knowledge, but it might be also kills our creativity and critical thinking. Because when we were at the school, the hierarchy that been developed seems like insist us to study the subject that only useful for the job. Art, music and dance will be at the bottom of the hierarchy because of educator didn’t believe that it’s really useful for our future. Our educator believed that those who expert in academic subject must be the smart one. Conversely with those who expert in non-academic subject, our educator still believe that they will go nowhere.

This short insightful video will explain us the opinion of Sir Ken Robinson about the school and creativity, and how we should see our education system from another perspective. For all educators (including me), it’s a must to watch it!

“Imagination is the source of every form of human achievement. And it’s the one thing that I believe we are systematically jeopardizing in the way we educate our children and ourselves.”- Sir Ken Robinson

Persamaan antara Bill Gates dengan The Beatles

Penulis Buku Outliers – Malcolm Gladwell. Photo by Mashable.

Dalam buku karya Malcolm Gladwell yang brilliant berjudul Outliers memuat sebuah pemikiran bahwa keberhasilan dalam melakukan sebuah tugas yang kompleks mensyaratkan adanya jumlah minimum waktu latihan secara berulang-ulang untuk memperoleh keahlian dalam sebuah bidang tertentu. Pemikiran ini bernama teori sepuluh ribu jam – sebuah angka ajaib agar seseorang dapat mencapai peak performance-nya.

Seorang ahli saraf bernama Daniel Levitin menjelaskan dalam tulisannya, “Dalam berbagai penelitian terhadap para seniman, penulis novel fiksi, musisi, olahragawan hingga penjahat kelas kakap, angka sepuluh ribu jam selalu muncul berulang kali. Belum ada seorang pun yang pernah menemuan bahwa seseorang dapat menjadi ahli kelas dunia dengan waktu latihan yang lebih sedikit. Sepertinya otak kita memang membutuhkan waktu sepanjang itu untuk menyerap semua yang dibutuhkan untuk menjadi seorang yang ahli di bidangnya.”

Tetapi bagi Anders Ericsson dan mereka yang memperdebatkan pentingnya bakat, hal ini tidak mengejutkan sama sekali. Tanpa latihan sepuluh ribu jam, tidak mungkin seseorang menguasai keahlian yang dibutuhkan untuk bisa bermain di tingkatan tertinggi. Bahkan Mozart sekalipun – musisi yang dianggap paling jenius sepanjang masa – tidak dapat menciptakan karya-karya original terbaiknya sebelum berlatih keras selama sepuluh ribu jam. Di awal karirnya sebagai musisi, beberapa karya awal Mozart tidaklah luar biasa. Sejumlah karya awalnya mungkin ditulis oleh ayahnya dan mungkin dikembangkan sendiri seiring berjalannya waktu. Bahkan beberapa karyanya ketika masih kecil merupakan aransemen ulang karya komponis lainnya. Dari beberapa concerto yang diciptakan sendiri oleh Mozart, karya paling awal yang kini dinilai sebagai karya bersarnya baru diciptakannya pada saat berusia dua puluh tahun: pada saat itu Mozart sudah berlatih menciptakan berbagai macam concerto selama sepuluh tahun lamanya.

Latihan bukanlah hal yang dilakukan setelah kita menjadi hebat. Latihan adalah hal yang membuat kita hebat. Bakat diawal saja tidak cukup tanpa adanya latihan yang cukup. Itulah yang pada akhirnya membedakan mengapa ada anak berbakat yang sukses dengan yang gagal.

(more…)