Cerita tentang Anak-anak Disleksia

Disleksia adalah sebuah gangguan dalam perkembangan baca tulis yang umumnya terjadi pada anak saat meninjak usia 7 sampai 8 tahun. Hal ini ditandai dengan kesulitan belajar membaca dengan lancar dan kesulitan dalam memahami sebuah instruksi dengan baik. Disleksia adalah kesulitan belajar yang paling umum dan gangguan membaca yang paling dikenal.

Secara fisik, penderita disleksia tidak terlihat seperti memiliki gangguan sesuatu. Disleksia tidak hanya terbatas pada ketidakmampuan seseorang untuk menyusun atau membaca kalimat dalam urutan terbalik tapi juga berbagai macam urutan, hal inilah yang akhirnya menyebabkan penderita disleksia dianggap tidak konsentrasi dalam beberapa hal.

Jika anda memindai otak para pengidap disleksia, anda akan mendapati gambar yang tampak aneh. Di bagian-bagian penting tertentu otak – yang menangani membaca dan pengolahan kata – para pengidap disleksia tidak mempunyai banyak materi kelabu. Mereka tidak mempunyai sel otak di bagian tersebut sebanyak orang pada umumnya.

Selagi janin berkembang dalam kandungan, sel-sel saraf seharusnya menyebar ke daerah-daerah yang tepat dalam otak, mengambil tempat seperti bidak catur di atas papan. Tapi karena suatu alasan, sel-sel saraf pengidap disleksia kadang tersasar di jalan. Sel-sel itu jadi salah tempat. Otak mempunyai sesuatu yang disebut sistem ventricular, dengan fungsi sebagai pintu masuk dan keluar. Pada ventrikel beberapa orang dengan gangguan kesulitan membaca, sel-sel saraf tadi berjubel seperti para penumpang yang antri masuk kereta komuter di saat jam pulang kantor di Jakarta.

Selagi gambar otak dibuat, pasien melakukan satu tugas, dan para dokter saraf melihat bagian otak mana yang aktif ketika menaggapi tugas itu. Jika kita meminta pengidap disleksia membaca ketika otaknya dipindai, bagian-bagian yang seharusnya menyala bisa jadi tidak menyala, seperti halnya kota yang mati lampu ketika difoto dari udara.

Pengidap disleksia menggunakan belahan otak bagian kanan lebih banyak ketika membaca dibandingkan pembaca normal. Belahan otak kanan adalah sisi konseptual yang dipenuhi imajinasi dan kreativitas. Itu ada bagian yang salah untuk tugas yang ketat dan perlu ketepatan seperti membaca. Ada kalanya ketika pengidap disleksia membaca, tiap langkahnya terhambat, seolah berbagai bagian otak yang bertanggung jawab dalam membaca sedang berkomunikasi lewat hubungan yang lemah.

Dahulu, banyak orang mengganggap disleksia sama artinya dengan memahami kata secara terbalik seperti “teapot” menjadi “topaet”, atau semacamnya, sehingga disleksia seperti masalah pada penampilan kata. Tapi sebenarnya disleksia adalah masalah yang lebih mendalam. Disleksia adalah masalah pada cara orang mendengar atau memanipulasi bunyi. Perbedaan anatara “ba” dan “da” terjadi pada 40 milidetik pertama penyebutan suku kata. Bahasa manusia didasarkan pada asumsi bahwa kita bisa mengerti perbedaan 40 milidetik itu, dan perbedaan bunyi antara “ba” dan “da” bisa menjadi perbedaan antara sesuatu yang benar dan salah. Bisakah anda membayangkan konsekuenasi memiliki otak seperti para pengidap disleksia yang lamban sehingga ketika mempersatukan balok-balok pembangunan kata itu, 40 milidetik berlalu sangat cepat?

Seorang peneliti tentang disleksia dari Universitas Harvard, Nadine Gaab, menjelaskan bahwa pengidap disleksia perlu waktu yang lama untuk belajar membaca. Mereka membaca sangat lambat, sehingga jadi kurang fasih dan kurang paham. Karena saking lambatnya, ketika sampai di akhir kelimat, mereka sudah lupa awal kalimatnya apa. Akibatnya adalah banyak masalah di sekolah, utamanya membaca. Lalu masalahnya melebar ke mata pelajaran lain di sekolah. Bagaimana mereka menyelesaikan soal cerita matematika? Bagaimana mereka bisa menyelesaikan ujian ilmu pengetahuan sosial jika durasi yang diperlukan untuk membaca soalnya dapat memakan waktu dua jam.

Anak-anak pengidap disleksia lebih besar kemungkinannya terlibat kenakalan remaja. Hal ini dikarenakan di masyarakat kita, membaca adalah bagian yang sangat penting. Barangkali ketika masih berusia di bawah 3 tahun hal ini tidaklah masalah. Tapi ketika mereka sudah menginjak usia Taman Kanak-kanak dan melihat teman sekelasnya mulai bisa membaca sedangkan ia tidak bisa. Para pengidap disleksia bisa jadi akan frustasi. Teman sekelas akan menganggapnya bodoh. Orang tua akan menganggapnya malas. Sehingga mereka akan menganggap harga dirinya rendah.

Jika memang masalah pengidap disleksia adalah serumit itu, bisakah anda membayangkan betapa sulitnya hidup sebagai seorang pengidap disleksia?

 

Penelitian tentang Disleksia

Seorang peneliti dari City University of London bernama Julie Logan mengatakan bahwa sebenarnya disleksia tidaklah seburuk yang dibayangkan banyak orang. Dari beberapa literatur yang ia baca menunjukkan bahwa sekitar sepertiga dari total pengidap disleksia di dunia ini adalah para inventor dan entrepreneur ternama dalam beberapa puluh tahun terakhir ini, seperti Thomas Alva Edison dan juga Albert Einstein.

Tidak hanya dua orang itu saja, Richard Branson, seorang billionaire dari Inggris pendiri Virgin Group, adalah pengidap disleksia. Charles Scwab, pendiri pialang diskon yang menyandang namanya sendiri, juga pengidap disleksia, demikian pula konseptor hand phone Craig McCaw; David Neelemen, pendiri JetBlue; John Chambers, CEO raksasa teknologi Cisco dan masih banyak lagi daftar nama yang bisa ditulis.

Seorang ahli saraf Sharon Thomson-Schill ingat pernah berbicara di satu pertemuan donor Universitas yang terdiri dari banyak pengusaha sukses. Saat itu ia iseng bertanya, berapa banyak diantara mereka yang pernah didiagnosis mengidap gangguan pembelajaran. Hasilnya pun sangat sulit dipercaya, karena lebih dari separuh orang yang memenuhi ruangan itu mengacungkan tangan.

Dari penjelasan singkat sebelumnya, ada dua kemungkinan penafsiran fakta ini. Pertama, kelompok hebat itu Berjaya meski mengalami kesulitan: saking pintar dan kreatifnya, tidak ada kesulitan yang mampu menghadang mereka – bahkan kesulitan untuk memahami huruf dan bacaan seumur hidup.

Yang kedua dan lebih mencengangkan, apakah mungkin mereka sukses justru karena mengidap suatu gangguan tertentu – bahwa mereka mempelajari sesuatu ketika bergulat menghadapi kesulitan tersebut dan sesuatu itu ternyata berubah menjadi sebuah kelebihan yang besar.

Dari penjelasan singkat ini kita dapat melihat bahwa hidup sebagai penyandang disleksia memang terasa sulit, tapi jika kesulitan itu ternyata membawa manfaat kedepannya bagi anda, apakah kini anda berharap bahwa anda seorang penyandang disleksia?

Kisah Hidup Presiden Goldman Sachs – Salah Satu Firma Investasi Terbesar di Dunia

Gary Cohn tumbuh di pinggir kota Claveland, Ohio timur. Keluarganya memiliki bisnis kontraktor elektronis. Ia menghabiskan masa kecilnya di tahun 1970-an, dimana disleksia belum banyak didiagnosis. Ia tak naik kelas satu kali di sekolah dasar karena tak bisa membaca. Tapi katanya hal ini percuma. Ia tidak menjadi lebih baik pada saat mengulang setahun. Gary Cohn punya masalah kedisiplinan.

“Aku merasa seperti dikeluarkan dari SD,” ia menjelaskan. “Kupikir kalau memukul guru pasti dikeluarkan. Ada sebuah kejadian… ketika aku disiksa. Seorang guru menyuruhku masuk ke bawah mejanya lalu ia memajukan kursi dan menendangiku. Jadi aku dorong kursinya, pukul mukanya, lalu keluar. Aku duduk di kelas empat waktu itu.”

Ia menyebut periode sekolahnya waktu itu sebagai “tahun-tahun terburuknya”. Orang tuanya tak tahu harus berbuat apa. “Barangkali itu bagian dari hidupku yang paling bikin pusing.” Ia melanjutkan: “Karena aku bukannya tidak berusaha. Aku sangat bekerja keras dan tidak ada yang tahu. Dipikirnya aku sengaja menjadi anak nakal, tidak belajar dan membikin ulah di kelas. Tahulah rasanya menjadi anak kecil berumur antara enam sampai delapan tahun, di sekolah umum dan mereka pikir aku bodoh, jadi aku berulang supaya dianggap. Aku mencoba bangun setiap pagi dan berkata, hari ini akan lebih baik, tetapi sesudah beberapa tahun, tiap hari tidak berbeda dengan hari-hari sebelumnya. Aku harus berjuang agar bisa maju setiap harinya, jadi kita lihat saja.”

Orang tua Gary Cohn terpaksa memindahkannya dari satu sekolah ke sekolah lainnya, mencoba mencari dimana tempat yang paling cocok untuk anaknya. Dengan keadaan seperti ini, Ibunya hanya berharap ia bisa lulus SMA dan setelah itu mendapat pekerjaan yang layak untuk bertahan hidup.

“Kupikir jika ditanya tentang hari paling bahagia menurut ibuku, ia mungkin akan menjawab saat aku lulus SMA. Baru kali itu aku melihat ibuku menangis sebanyak itu. Paling tidak dengan ijazah SMA, aku bisa menjadi supir truk.” Ujar Gary Cohn dalam suatu kesempatan.

Ketika Gary berusia 22 tahun, ia mendapat pekerjaan menjual lempengan dan kusen jendela aluminium di U.S. Steel, Cleveland. Ia baru saja lulus dari American University dengan prestasi akademis menengah. Suatu hari sebelum Thanksgiving, ketika mengunjungi kantor penjualan perusahaan di Long Island, ia meminta libur dan berinisiatif untuk mengunjungi Wall Street. Beberapa musim panas sebelumnya, ia pernah magang di perusahaan pialang setempat dan tertarik dengan trading. Ia menuju bursa komoditas, yang berada di kompleks lama World Trade Center. Dalam hatinya, ia berpikir untuk mencari kerja.

“Aku tidak bisa kemana-mana. Semuanya dijaga. Jadi aku naik ke anjungan pengamatan, melihat orang-orang dan mulai berpikir, apa aku bisa bicara dengan mereka? Lalu aku turun ke lantai yang memiliki gerbang keamanan dan berdiri di depannya, siapa tahu ada yang memperbolehkan aku masuk. Lalu sebuah kantor tutup, lalu ada orang berpakaian rapi keluar sambil berteriak, ‘saya pergi dulu dan musti buru-buru ke bandara La Guardia, saya telat, nanti saya telpon kalau sudah di bandara.’ Aku kejar ia ke lift lalu bertanya, ‘saya dengan bapak mau ke La Guardia.’ Ia berkata, ‘Ya.’ Aku menimpali. ‘Mau tidak satu taksi dengan saya?” Dia berkata, ‘Mau.’ Kupikir itu hebat. Karena lalu lintas jumat sore pasti macet, aku bisa membahas pekerjaan di dalam taksi paling tidak selama satu jam.”

“Si boss tadi baru buka bisnis opsi tapi tidak punya pengetahuan yang pasti opsi itu apa,” Cohn melanjutkan. Ia sendiri tertawa jika mengingat kenakatannya. “Aku berbohong sepanjang perjalanan ke bandara. Waktu ia berkata, ‘kamu tahu opsi itu apa?’ aku berkata, ‘tentu saya tahu, saya tahu semuanya, saya bisa lakukan apa saja buat bapak.’ Waktu kami keluar taksi, aku dapat nomor telponnya. Ia berkata, ‘Telpon aku hari senin!’ Aku telpon ia di hari senin dan terbang ke New York lagi di hari selasa atau rabu, diwawancarai, dan senin berikutnya sudah bekerja untuknya. Waktu itu aku baca buku McMillan Options as a Strategic Investment. Itu kitab sucinya tranding opsi.”

Tidak mudah, tentu saja, karena Cohn memperkirakan dalam satu hari ia butuh enam jam untuk membaca 22 halaman. Dia membenamkan diri dalam buku, membaca kata demi kata, mengulang-ulang kalimat sampai ia yakin ia mengerti. Ketika ia mulai bekerja, ia sudah siap. “Aku berdiri di belakang si bos dan berkata, ‘beli ini, beli itu. Jual ini, jual itu,” kata Cohn. “Aku tak pernah mengaku ke bos. Atau barang kali ia sudah tahu sendiri, tapi tidak pedulu. Selama aku membantunya mendapatkan banyak uang.”

Cohn tidak malu dengan awal karirnya di Wall Street. Tapi mengatakan ia bangga juga keliru. Ia cukup pintar untuk tahu bahwa cerita menipu untuk mendapatkan pekerjaan tidak akan pernah membanggakan. Sebaliknya ia menceritakannya dalam kejujuran. Inilah diriku!

Dalam taksi, Gary Cohn harus berperan: pura-pura menjadi trader opsi berpengalaman, padahal bukan. Kebanyakan dari kita bakal gugup menghadapi situasi ini, karena kita tidak bisa sebegitu mudahnya berperan sebagai orang lain. Tetapi tidak bagi Gary Cohn, ia sudah terbiasa menjadi orang lain sejak usianya di sekolah dasar. Tahulah rasanya, jadi anak antara usia enam sampai delapan tahun, di sekolah umum dan semua orang berpikir bahwa aku bodoh, jadi aku berulang supaya dianggap. Lebih baik jadi badut daripada dianggap idiot. Dan jika sudah terbiasa menjadi orang lain seumur hidup, apa susahnya berpura-pura salam satu jam dalam taksi menuju bandara?

Yang lebih penting, kebanyakan dari kita tak bakal masuk ke dalam taksi itu, karena berbagai pertimbangan dalam otak kita, termasuk kekhawatiran akan potensi konsekuensi sosialnya. Si  Boss Wall Street itu bisa saja mengetahui aslinya – dan memberi tahu semua rekannya di Wall Street bahwa ada orang yang berpura-pura menjadi trader opsi bernama Gary Cohn. Lalu selanjutnya bagaimana? Efek terbaiknya, mungkin kita hanya bakal ditendang dari taksi. Kita pulang dan menyadari bahwa trading opsi itu di luar kapasitas kita. Kita bisa muncul di hari pertama kita kerja dan ketahuan bodohnya. Kita bisa ketahuan beberapa minggu setelahnya, kemudian dipecat.

Masuk ke taksi itu tidak ramah, dan kebanyakan kita cenderung ke keramahan. Tapi Gary Cohn? Ia hanyalah seorang penjual lempengan aluminium. Ibunya saja sudah bersyukur kalau ia jadi supir truk. Ia sudah beberapa kali dikeluarkan dari sekolah karena dianggap idiot, dan sesudah dewasa pun ia masih butuh waktu enam jam untuk membaca 22 halaman karena harus berusaha mengerti tiap kata agar yakin ia tahu apa yang dibacanya.

“Didikan yang kuterima membuatku nyaman dengan kegagalan,” katanya. “Satu ciri-ciri orang disleksia yang kutahu adalah sesudah kami lulus dari sekolah akademis, kemampuan kami menghadapi kegagalan sudah cukup bagus. Jadi kami lebih positif melihat keadaan. Karena kami sudah biasa dengan yang negatif. Kami tidak takut. Aku sudah memikirkannya berkali-kali, soalnya itulah yang mendefinisikan siapa sebenarnya diriku. Aku tak bakal ada disini tanpa disleksia. Mungkin jika aku orang normal pada umumnya, aku tak bakal mengambil kesempatan pertama untuk naik taksi bersama si bos kala itu.”

Disleksia – dalam keadaan terbaik – memaksa kita mengembangkan keahlian yang akan mandek pada orang normal. Disleksia juga memaksa kita melakukan hal-hal yang boleh jadi tak terbayangkan orang normal, seperti mengajak orang yang tidak dikenal untuk naik taksi bersama dan berpura-pura menjadi orang lain. Tahukah anda bahwa sebenarnya Gary Cohn adalah pengidap disleksia? Tapi lihat, toh ternyata ia seorang trader yang hebat, dan ternyata belajar cara menghadapi kemungkinan kegagalan adalah persiapan yang sangat baik untuk karir bisnis. Tahukah anda siapa Gary Cohn sekarang? Ia bukanlah trader sembarangan. Kini ia adalah presiden dari Goldman Sachs – salah satu firma investasi terbesar di dunia.

 

“Dyslexia is the affliction of a frozen genius”Stephen Richards

 

*) Artikel ini terinpirasi dari Bab Empat di Buku David and Goliath karya Malcolm Gladwell.

*) Dan Hopefully, akan menjadi sebagian paragraf dari Bab Satu Buku saya nantinya.

Comments

comments