Cobalah Menjadi Minoritas, Walau Sekali Seumur Hidup

Kemarin (15/08/2013) pada sebuah acara yang saya pandu di US Consulate General Surabaya yakni TEDxTuguPahlawanSalon, salah seorang peserta bertanya kepada salah seorang namasumber kami yakni Andrew Veveiros – seorang diplomat dari Amerika – tentang bagaimana caranya agar kita dapat memahami satu sama lain di dalam sebuah bangsa yang begitu majemuk ini.

Satu jawaban Andrew yang menurut saya cerdas sekali adalah “Once in a life time, try to be minority” – sekali seumur hidup, cobalah menjadi minoritas. Dalam paparannya, menjadi minoritas kadang membuat kita mau tidak mau harus beradaptasi dengan berbagai macam hal yang berbeda seperti bahasa, kebiasaan hingga sistem kepercayaan yang sering kali bertolak belakang satu sama lain.

Dia mencontohkan bagaimana dia dulu pertama kali tiba di Indonesia yang banyak “dipuja” media barat sebagai sarang teroris, ternyata ketika sekarang ia bergaul dengan masyarakat Indonesia, toh image yang dibentuk oleh media di negaranya ini ternyata tidak benar.

Hal senada juga dipaparkan oleh narasumber saya yang lainnya, Lona Raditya. Beberapa waktu yang lalu ketika ia menghadiri sebuah konferensi anak muda di New Zealand, ia “terpaksa” harus menginap dengan seorang wanita Jawa Muslimah berjilbab di KBRI Wellington. Untuk sekedar info, Lona adalah seorang Katholik keturunan Tionghoa. Awalnya teman barunya yang Muslimah ini terlihat enggan untuk menginap satu kamar dengan Lona yang Katholik dan keturunan tionghoa itu. Saya tidak tahu mengapa ia merasa enggan, tapi mungkin seperti halnya mayoritas masyarakat Indonesia yang telah lama “hidup menyediri dengan golongannya”, sering kali terdapat prasangka yang tidak-tidak tentang golongan tertentu. Hal inilah yang kadang menyebabkan persepsi yang tidak-tidak diantara kita.

Untungnya dalam kasus ini, Lona dapat beradaptasi tidak hanya dengan teman sekemarnya tapi juga dengan hampir semua warga muslim Indonesia di KBRI Wellington dengan cara ikut makan sahur dan berbuka puasa. Saya yakin, sebagai seorang non muslim, butuh usaha yang tidak mudah untuk bisa ikutan sahur, apalagi hal ini bukanlah kebiasaanya.

Hal serupa juga pernah saya alami dulu ketika awal kali berkuliah di Universitas Ciputra yang notabene mayoritas civitas akademisnya beragama kristen dan keturunan Tionghoa. Sekedar info, Saya adalah lulusan dari sebuah pesantren di Jombang. Dulu pertama kali ospek di kampus, saya pernah di tanya oleh salah seorang teman wanita “Dulu SMA sekolahnya dimana?” langsung saya jawab kalau saya dari Pesantren. Selanjutnya, hal yang saya duga pun keluar dari mulut mereka…

“Wah… pasti diajarin perang-perangan yah?” “Pake diajari bikin bom yah?” “Waduh lak kaya teroris??”

Saya pun dengan sabar menjelaskan bahwa memang ada pesantren yang extrim kaya gitu, cuma jumlahnya sangat kecil dan itu bukan termasuk pesantren saya.

Saya pun menjelaskan bahwa pesantren saya ini pesantren modern, bahkan kurikulumnya saja bekerjasama dengan Universitas Cambridge di UK yang mayoritas penduduknya juga non muslim. Tapi masih saja mereka ngotot…

“Masa dikit-dikit ga diajarin tentang jihad?”

Saya yakin pandangan Jihad di mata kebanyakan warga non muslim pasti selalu dikaitkan dengan kekerasan dan aksi terorisme lainnya. Padahal dalam pelajaran Agama Islam yang diajarkan pada saya di Pesantren dulu, Jihad lebih kearah konsep bagaimana kita berjuang untuk umat dan perjuangan itu tidak harus dengan kekerasan dan aksi terorisme. Bisa juga dengan belajar yang rajin hingga kelak membuat karya yang berguna untuk seluruh umat.

Banyak sekali perepsi-persepsi tidak benar di antara kita yang telah mengakar dan mestinya harus dicabut karena kenyataannya memang tidak demikian. Untuk lebih singkatnya, seperti kata Andrew Veveiros sebelumnya, sekali seumur hidup cobalah menjadi minoritas. Cobalah – walau sekali seumur hidup – untuk masuk atau bahkan hidup di sebuah komunitas yang mungkin bahasa, adat atau mungkin kepercayaannya berbeda dengan kita. Bukan untuk ikut-ikutan, tapi agar bisa saling memahami.

Sangat disayangkan sekali kalau kedepannya kita terus menerus memendam persepsi buruk di antara kita, padahal kita hidup dalam sebuah negara yang sangat majemuk dan beraneka ragam. Amerika pada ulang tahun kemerdekaannya yang ke 100 harus dihadiahi oleh perang saudara karena perbedaan persepsi antar bangsanya, haruskah Indonesia mengalami hal yang sama kedepannya?

Iya atau tidaknya sangat bergantung pola pikir yang kita tanam hari ini.

Selamat ulang tahun yang ke 68 Indonesia. Meski kita hidup dalam KEBHINNEKAAN, semoga kita tetap bisa TUNGGAL IKA!

Comments

comments