Contoh Essay LPDP – Sukses Terbesar dalam Hidupku

Ketika kita masih di usia sekolah dasar, kita pasti pernah mendengar sebuah peribahasa yang mengatakan:

“Gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang dan manusia mati meninggalkan nama.”

Secara pribadi, saya sebenarnya kurang setuju pada penggalan kalimat terakhir dari peribahasa di atas, tepatnya pada kalimat“manusia mati meninggalkan nama”. Bukannya saya ingin mencela nenek moyang kita yang telah susah payah membuat pribahasa ini, tapi mari kita pikirkan, bagaimana seseorang mati dan hanya meninggalkan sebuah nama di dunia ini? Apa saja kiranya yang mereka lakukan ketika hidup?

 

Mereka yang mati dan hanya meninggalkan nama pastilah “tidak berbuat sesuatu yang berarti” ketika mereka masih hidup. Karena mereka yang hidup dan “berbuat sesuatu yang berarti” pasti akan meninggalkan sebuah legacy yang membuat mereka selalu dikenang karena karya mereka mampu menyentuh hidup orang banyak. Itulah mengapa kita mengenal seorang bernama Steve Jobs dengan Apple Computer-nya, Albert Einstein dengan teori relativitasnya, Mahatma Gandhi dengan gerakan perlawanan nirkekerasannya hingga presiden Soekarno yang berhasil memproklamirkan kemerdekaan Indonesia. Mereka inilah sebagian kecil dari contoh-contoh mereka yang sukses “membuat sesuatu yang berarti” dan menyentuh hidup orang banyak lewat legacy atau karyanya. Legacy ini juga yang pada akhirnya membuat mereka tetap “hidup”, walau raga mereka telah mati. Dan dari sinilah saya terinspirasi untuk mendefinisikan arti sukses terbesar dalam hidup saya.

Dalam rangka mewujudkan legacy atau karya tersebut,  selama 5 tahun terakhir ini, saya mendirikan dan memimpin sebuah organisasi non-profit yang mempunyai visi sebagai katalisator perubahan positif di Kota Surabaya, di bawah lisensi dari  sebuah organisasi internasional yang memiliki representatif di lebih dari 120 negara. Dari organisasi non-profit ini saya mulai berkarya dengan banyak anak muda untuk berbagi ide yang dapat berguna untuk kemajuan Kota Surabaya saat ini dan di masa yang akan datang. Dari sini juga saya mulai mengenal banyak talenta lokal yang sedang berjuang untuk mewujudkan legacy-nya, baik dalam bentuk visual art, portal berita positif tentang Indonesia, karya arsitektur, desain tata kota hingga berbagai macam buku yang kesemuanya ditujukan untuk kehidupan Surabaya yang lebih baik di masa yang akan datang.

 

Berkat dukungan dari teman-teman kontributor organisasi non-profit ini, pada tanggal 19 November 2014 saya diundang untuk berkumpul bersama para pemimpin muda ASEAN dari berbagai latar bekalang yang berbeda dalam sebuah acara yang bertajuk Young Southeast Asia Leaders Initiative: Power of Collaboration. Disini saya mulai mengenal banyak sekali pemimpin muda ASEAN yang juga sedang berjuang mewujudkan legacy-nya. Ada Harry Myo Lin dari kelompok minoritas muslim di Myanmar yang aktif mengkampanyekan perdamaian antar umat beragama, Teman-teman dari Proximity Design yang aktif membantu petani miskin di Myanmar dengan teknologi murah dan tepat gunanya, Aliza Napartivamnuaiy dengan Socialgiver.com-nya yang mencoba menaikkan taraf hidup masyarakat lokal di sekitar area wisata Thailand,  Amal Kasibah dari Brunei yang aktif mendirikan organisasi sosial anti perbudakan anak hingga Ryan Louis Madrid yang aktif mengimplementasikan berbagai macam produk sustainability-nya di banyak kawasan bencana di Filipina.

 

Seperti halnya memenejemen organisasi non-profit saya, perjalanan mewujudkan legacy mereka ini tidak selalu berjalan mulus, ada saatnya tantangan itu datang dan membuat kami seakan mau menyerah. Tapi kepercayaan bahwa “all things are difficult before they are easy”-lah yang akhirnya membuat kami memutuskan untuk terus maju. Bukankah dulu Columbus juga dianggap gagal karena tersesat di daerah antah berantah dalam mewujudkan perjalannya ke India melalui jalur barat, padahal yang tak banyak disadari orang saat itu, ia sebenarnya telah menemukan benua baru. Seperti itulah keyakinan kami dalam mewujudkan legacy kami masing-masing. Bukankah Rasulullah Muhammad juga pernah mengatakan bahwa manusia yang paling mulia adalah mereka yang bermanfaat bagi sesamanya, seperti itu jugalah saya dan juga teman-teman yang saya temui di organisasi non-profit yang saya pimpin maupun di konferensi pemimpin muda yang saya hadiri di Myanmar, berjuang untuk mewujudkan karya yang bermanfaat dan menyentuh hidup orang banyak.

 

Mulai dari pemahaman pribahasa di Sekolah Dasar, organisasi non-profit hingga keterlibatan forum para pemimpin muda ASEAN di Myanmar, perjalanan hidup ini telah membentuk saya dalam mendefinisikan arti sukses terbesar dalam hidup ini. Dan sukses terbesar dalam hidup saya bukanlah ketika kita berhasil mendapatkan segala apa yang kita inginkan, tetapi ketika kita mampu mewujudkan karya (dalam bentuk apapun) yang berguna bagi banyak orang dan menyentuh hidup mereka, hingga karya tersebut akan menjadi sebuah legacy ketika sudah saatnya kita meninggalkan dunia ini.

 

“Gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang, manusia mati meninggalkan nama? Bukan! Manusia mati meninggalkan karya!”

– Bagus Berlian –

Contoh Essay Lain LPDP: Kontribusiku untuk Indonesia

Comments

comments