Gap di Dalam Dunia Pendidikan Indonesia

Tanpa bisa disangkal, guru merupakan sosok yang berperan penting dalam melanjutkan estafet pendidikan di Indonesia. Tapi permasalahannya, banyak guru yang masih terbelenggu dengan masa lalu, padahal anak muda saat ini dipersiapkan untuk hidup di masa yang akan datang.

Digital Immigrants dan Digital Natives

Dalam sebuah artikel yang berjudul Digital Natives, Digital Immigrants karya Marc Prensky salah satu tantangan yang dihadapi oleh dunia pendidikan saat ini adalah para pengajarnya yang masih terbiasa dengan era analog atau mungkin text book, sedangkan anak didiknya sudah terbiasa berselancar ke ranah maya mencari ilmu-ilmu yang siap diterapkan di masa depan.

Sebagai tambahan, Digital Natives adalah sebuatan untuk mereka yang lahir di atas tahun 1985-an. Rata-rata dari mereka sudah terbiasa berkomunikasi via messenger,  meeting komunitas dengan Google Hangout, mencari pendanaan melalui kickstarter atau bahkan mengerjakan proyek kolaborasi dengan menggunakan Asana. Secara singkat, mereka adalah generasi yang sejak kecil telah terbiasa hidup dengan dunia yang terkoneksi lewat internet. Prinsipnya adalah “makan ngga makan asal konek”. Kebutuhan primernya ada empat selain sandang, papan, pangan plus konek. Inilah generasi yang terbiasa bergerak dengan cepat dan praktis. Walau terkadang generasi ini susah fokus pada satu hal dalam waktu yang lama.

Sedangkan Digital Immigrants adalah mereka yang mungkin lahir sebelum tahun 1985-an. Mereka berimigrasi dari era analog ke era digital. Mungkin diantara mereka baru belajar bagaimana mengirim email, berkomunikasi dengan social media atau bahkan ada juga diantara mereka yang masih baru belajar menggunakan internet. Generasi ini masih terbiasa dengan rapat lama yang membosankan, birokrasi yang ribet dan juga cara pengajaran yang cenderung kaku.

Mungkin ini untuk pertama kalinya dalam sejarah, dunia pendidikan diisi oleh dua generasi yang berbeda, yakni digital immigrants yang berperan sebagai pengajar dan digital natives yang merupakan anak didik mereka. Terdapat gap yang besar di sini karena diantara generasi itu memiliki pola pemikiran yang berbeda.

Jika digital immigrants berpikiran untuk belajar di fakultas konvensional seperti Kedokteran, Hukum dan juga  Ekonomi, Para digital immigrants justru berpikir untuk mempelajari ilmu masa depan seperti desain komunikasi visual, Creative IT hingga entrepreneurship. Jika digital immigrants masih menginginkan anak didiknya bercita-cita menjadi dokter, birokrat, polisi atau bahkan PNS, para digital natives justru menggantungakan cita-citanya untuk menjadi entrepreneur, chef, designer, corporate trainer dan profesi independen lainnya. Jika digital immigrants merindukan untuk diterima di Harvard Business School, digital natives mungkin akan lebih memilih Babson Collage.

Menyiapkan Pekerjaan yang Akan Eksis di Masa Depan

Inilah saatnya bagi guru dan orang tua berubah. Dimulai dari kesadaran bahwa dunia yang akan dihidupi generasi muda di masa depan adalah dunia yang berbeda dengan hari ini. Ingat! Beberapa pekerjaan populer saat ini seperti entrepreneur, creative director, visual communication designer hingga mungkin dog whisperer adalah pekerjaan yang mungkin belum eksis sepuluh tahun yang lalu. Untuk itu, cara berpikir guru dan orang tua harus bisa mengawal anak-anaknya menjadi pemenang bagi diri mereka sendiri di masa yang akan datang, yang mungkin tidak bisa anda lihat, walau dalam mimpi.

 

Anak-anakmu bukanlah anak-anakmu
Mereka adalah anak-anak kehidupan yang rindu akan dirinya sendiri

Engkau bisa merumahkan tubuh mereka tapi bukan jiwa mereka,
Karena jiwa-jiwa mereka tinggal di hari esok, yang tak pernah dapat engkau kunjungi meskipun dalam mimpi

– Kahlil Gibran –

Comments

comments