George Town, Penang – Spontaneous Travel with A Girl from Instagram

Atraksi Utama Armenian Street

15 Desember kemarin saya memutuskan untuk travelling ke Malaysia bersama salah seorang teman dari TEDxTuguPahlawan. Sebenarnya travelling kali ini sangat dadakan karena persiapannya hanya membutuhkan waktu tiga hari saja; mulai dari membeli tiket pesawat, tukar uang ringgit sampai packing baju, karena memang travelling kali ini bukanlah sebuah perjalanan yang perlu direncanakan dengan matang, mengingat saya sudah cukup sering pergi ke Malaysia, baik untuk urusan kerjaan sampai acara kepemudaan.

Tapi yang membuat saya tetap excited kali ini adalah.. perjalanan ini akan menjadi perjalanan pertama saya ke George Town – sebuah kota di Pulau Penang yang terkenal akan Heritage-nya. Perjalanan ke George Town kali ini juga sebenarnya bukan hanya pekara jalan-jalan saja, tapi juga mengikuti kontes foto maraton yang diadakan oleh Canon.

Setelah mendarat di KLIA 2 pada tengah hari, kami memutuskan untuk rehat sejenak di tempat om teman saya di daerah Selangor, selanjutnya pada tengah malam kami pergi ke George Town menggunakan bus. Perjalanan dengan bus ini kami rasa cukup nyaman mengingat busnya sendiri cukup representatif dan jalan yang kami lalui pun sangat mulus, jadilah perjalanan malam selama 5 jam ini terasa nyaman.

Sarapan Roti Kosong

Kami sampai di terminal Sungai Nibong saat adzan subuh belum berkumandang, jadilah kami menunggu waktu sholat beberapa menit di musholla lantai dua sambil duduk-duduk santai. Setelah sholat subuh kami pun beranjak pergi dengan menggunakan Uber yang telah kami pesan sebelumnya. Ternyata sangat mudah mendapatkan Uber pada subuh hari di Pulau ini, tentu hal ini akan sangat berbeda jika kita mencarinya di Surabaya.

Butuh waktu sekitar 20 menit dari Sungai Nibong ke daerah Gurney – tempat kita memesan kamar di Airbnb. Sampainya di depan kondominium tempat kami menyewa kamar, ternyata hari masih terlalu pagi. Sempat beberapa kami telpon dan chat pemilik unitnya, tapi sepertinya ia memang masih terlelap. Baru sekitar satu jam kami menunggu di depan pos satpam, akhirnya pemilik unit menghubungi kami dan mempersilahkan masuk ke kamar yang telah kami sewa.

Setelah menaruh beberapa barang, kami memutuskan untuk mencari sarapan di sekitaran Gurney, namun sayangnya pada hari itu banyak restoran – utamanya yang dimiliki oleh orang muslim –  tutup, karena ini adalah hari jumat. Jadi kami memutuskan berjalan beberapa ratus meter tak jauh dari Gurney Villa – tempat kami tingggal – dan mendapati sebuah restoran peranakan India yang sedang buka.

Tidak banyak menu yang bisa kami pesan saat itu, hanya roti prata dan beberapa varian sausnya saja yang tersedia. Jadilah kami memesan roti kosong – sebutan roti prata dengan kuah kari tanpa daging – plus segelas milo dingin. Rotinya enak dan kami rasa cukup untuk mengganjal perut kami pagi itu, tapi yang membuat kami sedikit kaget adalah harganya yang bisa dibilang sangat murah. Untuk selembar roti kosong plus milo dingin itu, kami hanya menghabiskan uang sekitar 3 ringgit saja atau sekitar 15 ribu rupiah, jauh lebih murah di bandingkan dengan roti prata yang biasa saya makan di sekitaran Taman Apsari Surabaya, padahal rasanya pun bisa dibilang jauh lebih enak.

Roti Kosong plus Milo

Armenian Street

Dari sekian banyak atraksi dan landmark yang ada di Penang, Armedian Street adalah atraksi utama di pulau itu. Terletak di dalam Kawasan Cagar Budaya UNESO, daya tarik utama kawasan ini bukan hanya bangunan tuanya saja, melainkan banyaknya mural yang tersebar di sekitaran tembok kawasan ini.

Kami tiba saat hari masih siang, jadi tidak banyak turis yang berkunjung saat itu jadi kami bebas mengeksplor kawasan ini dan mengambil beberapa foto mural dengan santainya. Berikut ini adalah beberapa gambar mural yang kebetulan dapat saya abadikan:

Mural ini adalah atraksi utama Armenian Street. Belum lengkap rasanya ke George Town jika belum berfoto dengan mural ini.

“Sometimes the winner is just a dreamer who never give up” that is the philosophy that i got when i was watching at this mural.

Mural ini mewakili 3 etnis utama yang mendiami George Town: Cina, India dan Melayu

Ada yang bilang gambar pria gundul berbaju biru itu mirip saya, hahaha

Mungkin seperti inikah tipikal tukang sayur di Penang?

Saya pribadi tidak tahu ini karakter apa, tapi dari seantero wilayah cagar budaya George Town, menurut saya mural inilah yang terbaik! STUNNINGLY BEAUTIFUL!!!

Dari berbagai mural dan restorasi yang bisa dikatakan sukses di wilayah Armenian Street ini, seketika pula pikiran saya menerawang dan mulai berandai-andai.. jika saja wilayah Kota Tua Surabaya di sekitaran jembatan merah, jalan gula, kya kya hingga kampung Ampel sukses direstorasi seperti ini, tentu akan menarik banyak turis manca negara dan menambah pendapatan warga lokal, toh kalau dilihat-lihat eksekusinya tidak sulit-sulit amat, hanya butuh koordinasi pemerintah kota dan warga setempat agar kota tua Surabaya ini punya potensi yang sama untuk dikembangkan seperti halnya Armenian Street di George Town.

Charlie Kit – Gadis dari Tinder

Setelah lelah mengitari kawasan cagar budaya George Town seharian, kami memutuskan untuk beristirahat sejenak di sebuah taman tak jauh dari Masjid di kawasan Acheh Street. Saat saya mengajak teman saya untuk cabut dan pulang dari tempat itu, teman saya itu pun menahan sebentar karena katanya kita akan dijemput salah seorang temannya warga lokal. Saya cukup kaget ternyata ia punya teman gadis lokal asli Penang, setelah usut punya usut ternyata ia berkenalan dengan gadis itu melalui aplikasi dating Tinder beberapa saat sebelum kami sampai di Penang. Jadilah di sisa hari yang kita punya ini kami berkeliling kota di temani oleh Charlie – begitulah nama gadis itu, yang lebih mirip nama cowok padahal dia sangat cewek sekali.

Dimulai dari makan Nasi Mamak kesukaan Charlie yang ternyata memang benar-benar yummy! Dilanjut mengobrol di sebuah Cafe bernama China house sambil mendengarkan curhatan Charlie tentang hubungannya yang sedang diujung tanduk hingga menggoda para waria yang suka mangkal di malam hari di dekat kawasan cagar budaya.

Ivo (Teman yang mengajak saya ikut Photo Maraton di Penang) – Saya – Charlie (Gadis yang kami kenal lewat Instagram) berfoto bersama di sebuah gallery seni di atas China House.

Kami sangat senang dengan petualangan kami dengan Charlie hari itu, bukan hanya berbagai macam traktiran yang kami dapat hahaha tapi juga bagaimana kami berinteraksi dan hidup ala orang lokal yang membuat pengalamam ini menjadi lebih menarik.

Batu Feringghi

Charlie sempat menyarankan ke kami untuk mengunjungi Batu Feringghi sebelum meninggalkan Penang, karena menurutnya Batu Feringghi adalah kawasan pantai yang Indah dan sangat touristable. Jadilah pada hari minggu tanggal 18 Desember, sebelum meninggalkan Penang, kami sepakat untuk mengunjungi Batu Feringghi. Butuh waktu sekitar 30 menit dari Gurney untuk mencapai kawasan itu, begitu sudah sampai di Batu Feringghi ekspektasi saya akan pantai yang Indah seperti Karimunjawa atau Pulau Tabuhan seketika sirna. Batu Feringghi tak lebih adalah kawasan wisata dengan banyak pertokoan seperti Kuta yang terletak di pinggir pantai. Bagi saya yang telah mengelilingi cukup banyak pantai di Indonesia, Batu Feringghi bukanlah tandingan yang sepadan jika dibandingkan dengan Karimunjawa, Tabuhan, G land di Banyuwangi, Gili Trawangan atau bahkan dengan Kuta sekali pun. Air di Batu Feringghi cederung kotor dengan pantai berpasir putih yang sedikit banyak betebaran sampah. Selain itu, pantai ini cenderung sepi dan membosankan sehingga membuat saya pribadi yang cederung mencari kesenangan di pantai merasa ingin segera meninggalkan pantai ini dan kembali nongkrong di kawasan kota tua saja. Bagi anda yang tertari untuk mengunjungi Batu Feringghi silahkan coba saja pergi kesana, karena tulisan saya ini sifatnya sangat subjektif dan tidak dapat mewakili pendapat turis keseluruhan yang pernah datang ke Batu Feringghi.

George Town, Penang in A Nutshell

George Town, Penang bukanlah kawasan yang besar dan dapat dieksplor dalam waktu tiga hari saja. Anda dapat menggunakan bus kota untuk berkeliling pulau dengan harga yang sangat terjangkau atau mencari teman di Tinder yang dapat membawa anda berkeliling kota secara gratis hahahaha

Daya tarik utama George Town adalah kawasan kota tuanya, habiskan waktu selama mungkin di wilayah ini karena akan banyak hal dan cerita menarik yang akan anda temui, mulai dari cerita di tiap mural yang terpampang, museum dan gallery yang bertebaran hingga makanan yang anda cicipi sambil mengobrol dengan warga lokal. Untuk atraksi lain seperti botanical garden hingga pantai, saya rasa Indonesia jauh lebih bagus daripada yang Penang punya, tapi jika anda tetap ingin mengunjunginya silahkan saja. Satu hal lagi yang wajib anda cicipi di Penang adalah makannya.. Enak dan Murah! Sungguh pas di lidah kita orang Indonesia.

Semoga secuil cerita ini dapat memberi gambaran pada anda yang ingin berjalan-jalan ke George Town, Penang. Jika anda punya kesempatan untuk pergi ke Penang, saya harap hal itu bukan hanya untuk tujuan berobat (karena memang banyak orang Indonesia yang berobat kesana haha) tapi juga untuk tujuan bersenang-senang 😀

“Don’t tell me how educated you are, tell me how much you travelled” – Anonymous

Comments

comments