Global Youth Startup ASEAN 2015 – The Melting Spot for Youth Leaders, Hustlers, Designers and also Coders

Sebenarnya sudah lama saya ingin sharing pengelamanan saya mengikuti acara Global Youth Startup ASEAN 2015 pada pertengahan Maret kemarin. Tapi apa mau dikata, karena kesibukan sana-sini, akhirnya baru kali inilah saya berkesempatan membagikan pengalamanan ini kepada anda.

Awalnya saya mendapat info tentang Global Youth Startup ASEAN dari seorang teman yang saya kenal dari acara YSEALI di Myanmar – Zakwan Buang. Awalnya ia memposting info ini di group YSEALI Myanmar, lalu ia mulai meminta saya untuk menyebarkan info ini ke beberapa rekan melalui facebook chat. Ketika iseng-iseng share info ini, kenapa ngga apply aja sekalian?

Selang sekitar seminggu, saya mendapat kiriman email di atas yang menginfokan bahwa saya terpilih menjadi salah seorang peserta dari acara ini. Perlu diketahui, ada lebih dari 600 applicants dan pihak panitia menyeleksinya hingga 300 peserta saja. Seneng juga sih rasanya terpilih menyisihkan beberapa applicants lainnya. Yang membuat lebih seneng lagi adalah beberapa teman yang saya ajak untuk apply ternyata lolos juga, seperti Winnie dari ANSA, Seno dari TEDxTuguPahlawan dan juga Donni dari TEDxTuguPahlawan, sayangnya Donni tidak bisa ikut serta ke Kuala Lumpur karena belum memiliki passport. OMG :( lesson worth to learn! Entah ada rencana mau pergi ke luar negeri atau tidak, sebagai anak muda yang punya visi menjelajah dunia. Passport adalah hal wajib pertama yang musti kita miliki!

Berangkat tanggal 18 Maret jam 12 siang, kebetulan saya dan Winnie janjian bareng berangkat dari Juanda International Airport Surabaya. Begitu sampai di Kuala Lumpur sorenya, kita berdua langsung cabut ke sekitaran KLCC untuk sekedar mencari tempat tongkrongan bareng temen-temen dari Malaysia, Philippines dan Vietnam.

Di hari pertama tanggal 19 Maret, sebelum acara dimulai, kita yang pernah bertemu di acara YSEALI Myanmar sempat mengadakan reuni kecil-kecilan. Sekedar temu kangen karena sudah empat bulan tidak bertatap muka langsung, hahaha. Dari kiri ada dr Nguyen Chi Long, the one who always wearing cap – of course me, Ryan Louis Madrid, Sokim dan juga Zakwan. Dari sini kita semua baru tahu bahwa Zakwan adalah salah seorang mentor di acara ini. Woah, that’s cool! Mungkin kita bisa belajar banyak dari Zakwan yang saat ini sedang mengembangkan proyek ASEANinternship-nya.

The one who wearing hijab named Farah Fawzi – She’s my mentor!

 

Di hari pertama ini banyak diisi brainstorming session. Mulai dari pemilihan mentor, pitching idea, membentuk team sampai dengan pengonsepan ide. Awal kali dapat sesi ini, rasa-rasanya seperti mengikuti acara Startup Weekend aja, tapi dalam skala yang lebih besar tentunya.

Di hari pertama ini pula saya bergabung dengan Ryan Louis Madrid untuk mengerjakan ide proyek kami yakni Green Roof Panel. Ide ini sebenarnya proyek nyata Ryan di Philippines yang ditujukan untuk menanggulangi kelaparan dalam jangka waktu panjang di beberapa area bencana di selatan Philippines. Secara singkat, kami mencoba untuk menginstal beberapa panel di atap rumah semi permanen di area bencana, agar dapat ditanami kentang, selada dan semacamnya untuk memenuhi kebutuhan pangan di area bencana dalam jangka waktu yang panjang. Karena perlu di ketahui, perlu waktu sekitar 3 tahun untuk menormalkan kembali kondisi sebuah area pasca bencana, sedangkan bantuan internasional tidak datang sebegitu lamanya. Di sini, kami ingin mengajarkan mereka yang hidup di area bencana untuk bisa mandiri dengan alat yang akan kami ciptakan.

Team Rowvega! Challenging the world by creating sustainability gardening products!

Di hari kedua, kami cukup senang karena ide dari tim kami masuk pada tahap TOP 50, sehingga kami berhak untuk maju ke babak selanjutnya. Kali ini kami ingin membawa ide kami ke ranah yang lebih serius. Kami membuat infografis sederhana yang kita tungkan dalam dua lembar A3 untuk selanjutkan kami presentasikan ide ini di hadapan para juri. Namun sayangnya, ide kami tidak dapat lolos ke tahap TOP 15, mungkin karena komposisi tim kali yang terdiri atas Youth Leaders dan Hustlers saja. Padahal di dalam Global Youth Startup ini, panitia sudah menyarankan bahwa komposisi paling pas adalah Youth Leader, Hustler, Coder dan juga Designer. Sayangnya kami sangat kesusahan untuk menrekrut seorang coder dan juga designeri\ di hari sebelumnya.

Karena tim kami tidak lolos ke tahap selanjutnya, di hari ketiga saya dan rekan-rekan dari Indonesia memutuskan untuk jalan-jalan di sekitaran KLCC. Tapi sebelum jalan-jalan, kami sempat mengikuti konferensi yang dihadiri oleh mentri perekonomian dari kesepuluh negara ASEAN dan semuanya berbicara tentang ASEAN Economic Integration. Sepertinya tiap negara ingin mengambil peran yang signifikan dalam hal ini. Seperti halnya Malaysia yang mencoba untuk menjadi the melting spot-nya startup ecosystem di ASEAN, Singapore yang mencoba menjadi hub perdagangan di seluruh ASEAN atau Thailand yang mencoba menjadi the center of agriculture in ASEAN. Sayangnya sampai saat ini saya belum melihat kemana arah negara saya – Indonesia – akan mengambil peran dalam hal ini, padahal ASEAN Economic Integration akan dimulai pada akhir Desember 2015 ini. Sedih juga sih kadang, jangan-jangan kita hanya akan menjadi market saja.

Sesi foto bareng yang dihadiri oleh kesepuluh mentri perekonomian se-ASEAN

Setelah melepas lelah setelah seharian mengikuti konferensi dan tentunya jalan-jalan, teman-teman dari YSEALI Myanmar kembali mengontak saya untuk sekedar bikin acara reunian di NZ Curry House sebelum kita semua meninggalkan Kuala Lumpur. Namun kali ini ada yang spesial, karena kita kedatangan Cayenne Lai. Sama seperti halnya Zakwan, Cay – sapaan akrab Cayenne Lai – adalah delegasi Malaysia dalam acara YSEALI Myanmar di bulan November 2014 lalu. Banyak hal yang kami bicarakan malam itu, mulai dari proyek di negara masing-masing, cita-cita yang belum terealisasi hingga hal-hal gila semacam – sudah berapa kali kalian pacaran selama hidup ini? hahaha kadang obrolan-obrolan ringan seperti ini diperlukan di sela-sela acara serius.

Cayenne Lai – Paling kanan

 

Well, secara keseluruhan saya sangat menikmati acara Global Youth Startup ASEAN ini. Mulai dari serunya sesi brainstorming hingga presentasi di depan para mentor yang jauh lebih senior. Semoga kedepannya, acara seperti ini juga dapat diadakan di negara-negara lain di ASEAN, utamanya Indonesia. Karena saya beranggapan dengan mengadakan acara semacam ini, secara tidak langsung kita adalah inisiator dari sebuah pergerakan tertentu – Seperti halnya Malaysia yang mencoba mengambil peran sebagai inisiator pembangunan startup ecosystem di ASEAN.

Comments

comments