Long Road to Mecca

Kututup pintu taksi yang telah mengantarku dari Mekkah menuju Bandara King Abdul Aziz Jeddah. Kini tinggal aku sendiri kembali ke rumah, di kawasan Belville Paris. Aku masih tidak percaya akan keadaan ini. Tetapi bagaimanapun juga aku harus ikhlas akan kepergiannya.

Pesawat yang kutumpangi mulai mengudara dan aku duduk disamping jendela. Melihat keadaan diluar sana aku merasa benar-benar kehilangan sesuatu yang seharusnya dapat menjadi contoh teladan hidupku. Aku terpaku, dan pikiranku pun melayang.

***

Aku masih ingat suasana pagi itu, dimana aku dan kakaku Malek sedang mencari pintu bekas yang masih bagus untuk dijadikan pengganti pintu mobil kami yang telah rusak. Dan aku juga masih ingat ketika malamnya Baba memanggilku dan memberi tahuku bahwa akulah yang akan menemaninya menuju Mekkah untuk berhaji, bukan Malek karena siangnya Malek mabuk. Ia menerobos lampu merah dan SIM-nya dicabut.

Awalnya aku tidak terima harus menemani Baba berhaji karena bagaimanapun juga aku sekarang akan menghadapi ujian nasional. Sudah gagal sekali dan aku tidak ingin gagal untuk tahun ini. aku coba tanya ke Mama kenapa tidak naik pesawat saja, beliau cuma menggelengkan kepala.
Aku tidak bisa melawan kehendak Baba. Beliau telah mengurus pasporku.

Esok paginya Malek menemuiku ketika kami akan berangkat, ia menitipkan Kamera kepadaku dan berpesan untuk menggambilkan gambar ditiap Negara yang akan kami kunjungi. Sebelum berangkat, Baba berpesan kepada Malek agar dapat menjaga keluarga dengan baik karena dialah anak tertua.
Kami melakukan perjalan melewati beberapa Negara.

Negara pertama yang kami lewati adalah Italia. Aku sangat senang pada awalnya karena mungkin inilah kesempatan seumur hidupku untuk dapat mengunjungi kota mode Milan. Tetapi beliau tidak setuju, beliau berkata bahwa kita tidak sedang pesiar. Kita akan melewatinya saja tanpa mampir.

Kami juga tersesat di sebuah jalanan yang dikelilingi hutan di Slovenia. Saru hal yang kusesalkan disini. Aku berani menghardik Baba ketika aku sedang membaca peta dan tiba-tiba beliau meminta untuk ambil kanan saja di sebuah jalan bercabang.

“BABA INI TAHU APA??? BACA TULIS SAJA TIDAK BISA.” Hardikku kepada Baba kala itu yang menimbulakan penyesalan hingga kini.

Ada juga hal aneh yang kami termui dalam perjalanan ini. Ketika kami melintasi jalan menuju Sarajevo, seorang wanita tua berjilbab tiba-tiba meghentikan laju mobil kami. Tanpa ekspresi, ia tiba-tiba masuk ke dalam mobil melalui pintu belakang sebelah kiri. Kerika kutanya akan pergi kemana, ia hanya menjawab “delic” sambil menunjuk kearah depan berulang-ulang. Aku bertanya menyelidik apa itu “delic” dan dimana. Ia sekali lagi menjawab “delic” sambil menunjuk kearah depan berulang-ulang. Baba memutuskan untuk mengangkut wanita tua ini sambil berpendapat mungkin perjalanan kita juga akan melewati “delic”.

Di sebuah pom bensin Baba mencoba bertanya kepada setiap orang yang ditemui, tetapi tak satu pun dari mereka mengetahui dimana itu “delic”. Akhirnya dengan sangat terpaksa kami meninggalkan wanita tua itu di sebuah penginapan di Sarajevo.

Keanehan itu kembali terulang ketika Baba di rawat di sebuah rumah sakit di Beograd, karena demam setelah semalaman kami terjebak badai salju di dalam mobil. Kala itu, aku melihat denga mata kepalaku sendiri wanita tua berjilbab itu kembali muncul. Kali ini ia hanya diam di depan gedung rumah sakit itu sambil menatapnya kosong. Aku heran siapa gerangan yang membawanya melintasi Bosnia hingga Serbia. Pikirku mencoba menyikap rahasia itu.

Setelah peristiwa sakitnya Baba, kami lebih sering beristirahat jika salju turun. Satu hal yang kuingat ketika kami berhenti dalam keadaan dingin di pinggiran jalan menuju Bulgaria. Waktu itu kuberanikan diri untuk bertanya kepada Baba mengapa tidak naik pesawat saja, lebih praktis. Beliau menjawab bahwa ketika air laut naik ke langit, rasa asinnya hilang dan murni kembali. Itulah sebabnya lebih baik naik haji berjalan kami daripada naik kuda, lebih baik naik kuda daripada naik mobil, lebih baik naik mobil daripada naik kapal dan lebih baik naik kapal daripada naik pesawat.

Baba juga bercerita, “ketika Baba masih kecil almarhum kakek pergi berhaji naik keledai dari Aljazair. Baba tidak pernah melupakan peristiwa itu, almarhum kakekmu adalah orang yang sangat pemberani. Tiap hari Baba naik ke atas bukit. Disana Baba bisa melihat cakrawala. Dan Baba ingin menjadi orang pertama yang melihat kakekmu kembali.” Begitulah beliau bercerita hingga membuatku sedikit paham akan arti perjalanan ini.

Kami mengalami masalah di sebuah pabean di Turki. Hal ini dikarenakan kendala Bahasa. Dimana sebagian besar warga Turki tidak dapat berbahasa Inggris dan Prancis.
“this is my passport and this one is my father`s.”ujarku dengan Bahasa Inggris kepada petugas pabean itu dan dijawabnya dengan Bahasa Turki yang aku sendiri tidak mengerti maksudnya.
“Pardon. Do you speak English? i don`t understand.” Tanyaku padanya lalu ia berpergi.
Sekitar 30 menit berselang tapi petugas pabean tersebut tidak muncul juga. Kuputuskan untuk keluar dari mobil untuk mencarinya.

Kutemui salah seorang petugas yang kebetulan berjaga didekat mobil kami. “excusez moi.” Kuawali denga Bahasa Prancis namun ia tidak menggubrisku. “do you speak English?” kucoba bertanya tetapi ia balas dengan Bahasa Turki yang aku tidak tahu. “Please mister. Your friend take my passport. Listen to me, i`m with my father to go to Mecca. He`s in the blue car.” Ujarku panjang lebar yang hanya dibalasnya dengan kata “PASSPORT???”

Jengkel aku dibuatnya, namun tiba-tiba datanglah seorang Turki yang bisa berbahasa Inggris, namanya Mustapha. Ia lah yang menjadi penengah antara aku dan beberapa petugas pabean tersebut.
Setelah masalah di pabean itu selesai, Mustapha menumpang mobil kami. Ia rencananya menjadi pemandu kami selama perjalan melintasi Turki. Ia banyak bercerita mengenai Turki. Ia berkata bahwa Turki mempunyai kota seribu masjid yakni Istanbul dan yang termegah diantara masjid lainnya adalah Masjid Aya Sofia.

Tidak masalah bagi kami untuk mengunjungi Istanbul, karena memang satu jalur dengan rute perjalanan kami. Mustapha menawari kami bersantai sejenak di Istanbul sambil melihat-lihat masjid yang ada disekitar sini dan tidur di hotel murah milik saudaranya. Aku sangat setuju sekali, namun tidak demikian dengan Baba. Sekali lagi beliau berkata bahwa tujuan kita bukanlah pesiar. Aku sedikit muak pada Baba kala itu, bukankah ini kesempatan yang langka untuk melepas penat selama perjalanan. beliau tetap tidak setuju dan berbisik bahwa beliau memiliki firasat tidak enak akan kehadiran Mustapha. Aku tetap tidak peduli. Akhirnya beliau mengizinkanku untuk pelesir di Istanbul selama sehari saja dan menginap di hotel yang direkomendasikan oleh Mustapaha.

Firasat Baba memang benar. Mustapaha mencuri uang kami yang disimpan Baba di tas jinjingnya. Malam itu, Baba sedang tidur dan aku pergi bersama Mustapha menuju sebuah café. Ia menawariku minum bir. Aku heran dibuatnya, tak kusangka ia akan menawariku bir. Lalu, ia menjelaskan padaku. Dahulu, ada seorang guru sufi yang suka minum bir, lalu seseorang bertanya kepadanya apakah Islam memperbolehkan umatnya minum bir? Guru sufi menjawab, tergantung kebesaran jiwamu. jika kau tuangkan bir kedalam sebaskom air warnanya akan berubah. Tapi jika kau tuangkan bir kedalam lautan maka takkan ada perubahan sama sekali. Akupun tertipu oleh analogi Mustapha saat itu, lalu ikut menegak bir.

Baba marah besar setelah tahu uang di tas jinjingnya dicuri. Beliau juga memarahiku ketika mencium bau alkohol dari dalam mulutku.

“KAU INI BISA BACA-TULIS TAPI BUTA MENGENAI KEHIDUPAN!!!” hardik Baba kepadaku.

Kami melanjutkan perjalanan dengan menghemat uang yang tersisa. Terpaksa kami hanya makan telur selama melanjutkan perjalanan. kami juga terpaksa tidur di mobil agar dana yang tersisa tidak menguap untuk biaya penginapan.

Sampai di pintu masuk Arab Saudi dari arah Jordania, kami bertemu dengan rombongan Karavan.

Mereka menawari kami singgah sejenak dan Baba pun setuju. Ternyata mereka dari Cairo dan akan melaksanakan ibadah haji juga. Mereka mengundang kami makan dan sholat dhuhur bersama. Ayah ikut mereka sholat dhuhur sedangkan aku tidak. Aku lebih memilih untuk berjalan-jalan di sekitar bukit-bukit pasir. Kulihat dari atas bukit ketika mereka sedang sholat, ada nuansa ketentraman sendiri di dalamnya. Dalam hati aku berbisik. Suatu saat nanti aku harus rutin sholat 5 waktu.

Rombongan karavan dari Cairo itu menawari kami untuk turut berangkat beriringan bersama mereka. Baba sangat setuju sekali, lalu aku bersiap di mobil. Dalam perjalanan beriringan, aku bertanya kepada Baba, “Mengapa sebegitu pentingnya pergi ke Mekkah?” Tanyaku pun berlanjut “Maksudku, apa istimewanya dari Mekkah?”

Sambil tersenyum, Baba berujar kepadaku, “Kita melalui perjalanan ini bersama dan baru sekarang kau tertarik.”

“Mekkah adalah tempat suci utama umat muslim. Orang-orang datang ke sana dari seluruh dunia.” Beliau berhenti sejenak lalu berkata, “Ibadah haji itu penting, rukun islam yang kelima. Semua umat muslim yang mampu wajib melakukannya, setidaknya sekali seumur hidup untuk mensucikan diri sebelum mati.” Ujar Baba dengan mata sedikit berkaca-kaca ketika itu. “Kita semua suatu hari nanti akan mati. Kita hanya tamu di dunia ini. satu-satunya yang Baba khawatirkan yakni pergi tanpa sempat memenuhi kewajiban.” Ujarnya lagi sambil berkaca-kaca. “Tanpamu, Baba tak aka nada di sini. Semoga Allah memberkatimu.” Ujar Baba sambil mengelus kepalaku.

Pada akhirnya kami dan rombongan karavan berhenti di sebuah perkemahan di tepi kota Mekkah. Aku parkir mobil terlebih dahulu. Baba keluar dan mengganti pakaiannya dengan pakaian ihramnya. Baba menjelaskan padaku bahwa kita akan tinggal di perkemahan ini selama 8 hari. Tiap harinya Baba akan pulang-pergi menuju Masjidil Haram dengan menunggang bus rombongan. Aku disuruhnya untuk menunggu di perkemahan saja hingga hari ke 8.

Hari pertama beliau berangkat pagi sekitar pukul Sembilan, tetapi anehnya pada malam hari Baba belum juga kembali walaupun bus rombongan telah kembali.

Hari kedua aku tetap menunggu kedatangan Baba, aku mencoba bertanya kepada beberapa orang dari karavan Cairo dengan Bahasa arab dialek Maroko, apakah mereka melihat Baba? Mereka semua menjawab sejak di Masjidil Haram mereka tidak melihat lagi dimana Baba. Hari ketiga hingga ke kelima aku masih menunggunya di perkemahan ini. Hingga pada hari keenam pagi ketika bus rombongan akan berangkat ke masjidil haram. Aku putuskan untuk turut serta.

Suasana di sekitar masjidil haram sangatlah ramai, namun aku belum melihat Baba sama sekali. kuputuskan untuk menerobos masuk kedalam masjid. Kucari-cari Baba. Kuteriakkan nama Baba. Hingga akhirnya ada tangan yang menarik pergelanganku.

Ternyata ia adalah polisi keamanan setempat. Aku dianggap mengganggu jalannya ibadah haji. Masih kuteriakkan nama Baba juga, tapi Polisi tersebut masih menggelendangku keluar dari area masjid.
Aku dibawa kesuatu tempat dengan lorong yang panjang dan sedikit gelap. Perasaan panik dan was-was bercampur. Takut kalau nanti aku akan dihukum.

Dugaanku ternyata salah. Aku dibawa kesebuah ruangan dimana ada seorang imam di dalamnya yang sedang membaca Al-qur`an. Imam itu berkata padaku dengan Bahasa Arab dialek Saudi yang tidak aku mengerti, lalu ia menggiringku ke sebuah tempat dimana terdapat beberapa tubuh yang tertutup kain kafan putih berjejer. Beliau membuka satu persatu kain tersebut hingga pada akhirnya aku dapat melihat tubuh Baba telah terkujur kaku di situ.

Baba telah meninggal dalam ibadah hajinya. Aku sesunggukan menangis ketika melihat tubuh Baba yang terkujur. Kutempelkan kepalaku di dekat pipinya. Aku kian menangis. Baba.. Baba.. kupanggil nama beliau namun beliau telah tiada.

Kuputuskan untuk aku sendiri yang akan merawat jenazah Baba sebagai bakti terakhirku kepada beliau. Imam tadi menuntunku memandikan jenazah Baba. Sedangkan, semua orang di rombongan karavan yang mengetahui kematian Baba berdoa dan memanjatkan ayat suci Al-Qur`an.
Baba meninggal dan dimakamkan di Mekkah pada ritual hajinya yang pertama. Beliau telah memberiku pelajaran yang berharga agar aku tidak buta akan kehidupan.
Setelah itu, aku kembali ke Paris dengan menjual mobilku kepada seseorang yang aku temui diperkemahan.

***

Pesawatku mendarat di Paris pada sore hari. Setelah semua barangku beres, aku bergegas mencari taksi untuk pulang ke Belville. Di dalam taksi aku masih termenung, memikirkan perjalanan yang sejauh ini telah tertempa.

Kudekatkan kepala di dekat jendela taksi lalu kubuka perlahan, kubiarkan angin sore paris menyapa dan membelai mukaku. Kutatap langit sore Paris. Pikiranku kini hanya satu, walaupun aku bisa baca-tulis, walaupun kelak aku menjadi orang sukses, tidak akan kubiarkan diri ini buta akan kehidupan. Dan Baba akan selalu hidup di dalam hatiku.

Minggu, 30 Agustus 2009

*) Tulisan ini sebelumnya saya post di facebook note saya pada tahun 2009, entah kenapa setahun sebelum ayah saya tiada, saya sering kali menonton film yang bertemakan hubungan Ayah dan Anak lelaki. Cerpen ini sendiri terinspirasi dari kisah nyata Ismael Ferroukhi, seorang sineas kenamaan asal Prancis yang pernah mengantarkan Babanya berhaji via mobil dari Paris menuju Mekkah. Kini kisahnya telah difilmkan dengan judul “Le Grand Voyage” dan telah memenangkan beberapa gelar bergengsi di beberapa festival film kelas dunia, salah satunya Venice Film Festival Luigi De Laurentiis Award pada tahun 2004.

Comments

comments