Loss is Loss. Pain Has No Nation. Gallery Korban Perang di Wilayah Gaza.

Artikel ini adalah reblog dari blog-nya TED dengan judul yang sama tulisan dari Thu-Huong Ha. Saya tertarik untuk me-reblog artikel ini karena artikel ini memuat foto-foto yang sangat menarik. Anda akan diajak untuk turut serta merasakan sakitnya kehilangan kerabat terdekat atau bahkan organ tubuh anda sendiri akibat perang yang tiada hentinya berkecamuk di dilayah Gaza, Palestina.

“Tidak ada yang menggantikan hilangnya anak, bahkan tidak anak lain.” Itulah kata-kata yang keluar dari Safia Abo Zour (Wanita pada foto di atas) dan yang selalu menghantuinya hingga saat ini. Foto di atas diambil oleh salah seorang jurnalis bernama Eman Mohammed. Dalam foto ini Safia Abo Zaur menggendong anaknya yang baru berusia lima bulan di tangan kirinya, sedangkan di tangan kanannya ia memegang sweter yang biasa dipakai anaknya yang lebih tua untuk pergi kesekolah di sebuah taman kanak-kanak di wilayah Gaza. Dan taukah anda bahwa sweter itu adalah sweter terakhir yang dipakai anak tertuanya ketika sekolahnya dibom oleh tentara Israel?

Foto Safia Abo Zour bukanlah satu-satunya, masih ada beberapa foto karya Eman Mohammed yang akan mengajak anda untuk turut serta merasakan mirisnya kehilangan salah seorang anggota keluarga kita – bahkan anggota organ tubuh kita – di wilayah penuh konflik bernama Gaza.

“Pain has no nation. That should be enough to stop future manmade disasters. It’s not nature. It’s not global warming. It’s us.” – Eman Mohammed

Karya Eman Mohammed sendiri berfokus pada konflik Israel/Palestina. Dalam proyek jurnalisme terbarunya yang bernama iWar, anda akan diajak merasakan suasana perang Gaza dari kacamata korban yang selamat, jauh dari pembantaian  dan dalam set warna photo hitam-putih yang disengaja sehingga memunculkan kesan kaku dan tegang. Setiap foto akan menampilkan seseorang yang kehilangan salah seorang anggota keluarganya akibat perang, berpose kaku bersama dengan peninggalkan terakhir dari anggota keluarga yang hilang untuk menunjukkan ketidak hadiran mereka.

iWar sendiri adalah proyek yang masih dalam masa pengerjaan dan ditargetkan akan selesai pada musim panas 2015. Eman Mohammed selanjutnya akan menggerjakan proyek dokumentasi perang korban serangan 11 September 2001 di New York dan juga korban Holocoust.

“Aku melihat darah berceceran di lantai. Aku melihat menantuku dan tidak bisa mengenali wajahnya. Ia meninggal ketika aku sedang menatap matanya sambil mencoba mencari tahu siapa dia…” Um Haitham. Dalam foto ini nampak Shahd Abo Zour (3 tahun) dan adik laki-lakinya Mohammed Abo Zour (1,5 tahun) Duduk dengan nenek mereka Um Haitham. Lalu di sebelahnya tergantung blus favorit ibu mereka, Sahar Abo Zour (20 tahun) yang tewas pada perang kedua di Gaza tahun 2011. Sahar Abo Zour tewas ketika serangan udara Israel ditargetkan di lingkungan rumah mereka di kawasan Al Zaitoun. Saat itu, sambil mengalami pendarahan berat akibat serangan udara tadi, Sahar Abo Zour melindungi bayinya yang baru lahir.

“Samar pergi ke dapur untuk membuatkan kami teh. Sejak saat itu ia tidak pernah kembali.. aku masih meninggunya hingga saat ini..” Saadi Abo Zour (28) dengan anaknya Ehab (kiri) dan Rawan (kanan) dengan abaya Ibu mereka sebagai latar belakang. Istri Saadi, Samar (20) tewas dalam serangan udara di rumahnya di lingkungan Al Zaitoun. Samar menderita cedera kepala berat sampai akhirnya serangan udara kedua menghantam rumah keluarganya lagi. Tubuh Samar ditemukan di depan pintu tetangga.

“Mengamputasi kaki saya hanya akan membuat perjalanan untuk mencapai impian saya lebih keras dan penuh rintangan, tapi hal ini tidak akan mengakhirinya.” Faiz Moemen, seorang fotografer Palestina dan Visual Artist duduk di samping kursi roda dengan dua kameranya. Faiz Moemen kehilangan kedua kakinya pada malam hari raya Idul Adha, selama serangan Israel terus membombardir lingkungannya. Faiz Meomen pergi ke Arab Saudi dengan harapan mencari pengobatan dan kaki palsu. Tapi hasilnya nihil. Hingga saat ini ia terus bekerja sebagai wartawan dari kursi rodanya.

Islam Qreqe, berusia 14 bulan, duduk di atas sepeda motor terbekar dimana ketiga anggota keluarganya tewas akibat roket yang ditembakkan dari sebuah pesawat tak berawak milik Israel. Ayahnya, Moataz Qreqe, mengendarai sepeda motor – dengan saudara laki-lakinya yang berusia 2 tahun kala itu bernama Munther – ketika sebuah roket mendekat dan menabrak motornya di Jalan Jamal Abdul Nasser di Kota Gaza. Mayat mereka benar-benar hangus dan susah dikenali. Empat bulan Islam Qreqe lahir tanpa pernah mengetahui bagaimana rupa Ayahnya.

“Ketika anda kehilangan anak anda, anda tidak lagi menjadi seorang ibu. Anda akan selamanya menjadi wanita yang patah hati…” Entesar Hamouda, 43, duduk di sebelah foto anaknya dan jaket terakhir yang ia pakai sebelum terbunuh pada usia dua tahun selama perang pertama di Gaza pada Januari 2009. Selama 20 tahun upaya Entesar Hamouda memiliki bayi selalu gagal.  Setelah mengalami keguguran selama tiga kali, ia memutuskan bawa impiannya untuk menjadi ibu sirna sudah. Tapi saat mengetahui ia hamil anak laki-laki dua bulan kemudian, ia girang bukan kepalang. Anaknya Feras lahir pada tahun 2006, namun akhirnya tewas akibat perang, 25 hari setelah ia merayakan ulang tahun keduanya.

 

“Listen up – there’s no war that will end all wars.” – Haruki Murakami, Kafka on the Shore

Comments

comments