Membandingkan Isi Otak Mereka yang Sukses dengan Mereka yang Gagal

Ada cerita menarik tentang seseorang yang dianggap sebagai simbol dari kecerdasan di millenium ini. Suatu ketika di sebuah sekolah menengah, seorang guru memarahi muridnya karena tidak memperhatikan pelajaran matematika dengan baik dan tidak bisa menyelesaikan soal-soal yang mudah. Guru ini sangat marah dan mengatakan bahwa kelak muridnya ini tidak akan menjadi apa-apa di dunia ini. Tahukah anda siapa yang saya maksud? yap, tak lain adalah Albert Einstein.

Atau tahukah anda bahwa Elvis Presley di tahun 1954 pernah dipecat oleh Manager Grand Ole Opry – Jimmy Denny – setelah sekali tampil? sambil mengusirnya keluar, Jimmy Denny menyarankan agar Elvis berhenti bernyanyi dan kembali mengemudikan truk.

Dan tahukah anda bahwa sewaktu SMA, ideks prestasi komulatif Steve Jobs hanyalah 2,65? Jika anda mengetahui hal ini jauh sebelum Steve Jobs terkenal, mungkin anda akan menyangka bahwa orang ini tidak cerdas. Tapi hei! Bukankah saat ini dia adalah salah satu entrepreneur paling dikagumi abad ini?

Menurut Carol Dweck – seorang psikolog dari Stanford University dalam bukunya yang berjudul Mindset – the new psychology of success dijelaskan bahwa sukses tidaknya seseorang tergantung pada bagaimana pola pikir yang kita tanamkan. Ada dua macam pola pikir atau mindset yang harusnya kita ketahui : Fixed Mindset dan Growth Mindset. Untuk lebih jelasnya, bisa dilihat dari infographic di bawah ini :

Dari infographic di atas, anda dapat melihat bahwa mereka yang pola pikir atau mindset yang tetap seringkali merasa bahwa dia lah yang paling pandai. Mereka biasanya menolak tantangan baru, mudah menyerah, menganggap bahwa kerja keras hanyalah sia-sia, tidak senang menerima kritik dan bila melihat orang lain yang lebih hebat darinya maka ia akan sangat sinis dan menganggap hal ini sebagai sebuah ancaman. Orang dengan mindset settingan tetap biasanya arogan dan sering kali membanggakan apa yang sudah pernah dicapai di masa lalu, seperti IPK atau prestasi akademis yang didapatnya di bangku kuliah dulu.

Hasilnya, orang-orang dengan settingan mindset tetap ini akan sangat sulit memaksimalkan potensi yang dimilikinya. Alih-alih mengembangkan, menerima masukan untuk dirinya sendiri saja enggan.

Sedangkan mereka yang settingan mindset-nya tumbuh atau growth mindset menganggap belajar adalah proses seumur hidup, mereka siap menarima tantangan-tantangan baru, menganggap kerja keras penting dan legawa menerima masukan untuk melakukan koreksi diri. Dan yang tak kalah penting, mereka yang mindset-nya disetting untuk tumbuh akan menganggap orang yang lebih pintar darinya sebagai sumber ilmu baru untuk tempat belajar.

Itulah mengapa ada orang-orang semacam Steve Jobs yang mampu bangkit kembali setelah dipecat dari perusahaan yang didirikannya – Apple Inc. Itulah mengapa ada sekelompok group band yang bernama The Beatles yang rela manggung selama lebih dari 10.000 jam di Hamburg. Itulah mengapa kita bisa mengenal Ang Lee yang akhirnya mampu meraih Oscar setelah sebelumnya hanya seorang pengangguran. Dan itulah mengapa akhirnya kita bisa merasakan dunia yang terang benerang karena orang yang bernama Thomas Alva Edison berhasil menciptakan sebuah bola lampu setelah melewati lebih dari 1.000 kali percobaan.

Di dalam otak mereka yang sukses selalu ada hal yang baru untuk dipelajari. Di dalam otak mereka yang sukses selalu ada tantangan baru untuk ditaklukkan dan di dalam otak mereka yang sukses selalu menganggap bahwa kerja keras itu penting.

Sekarang kembali lagi ke anda, apakah anda ingin menjadi orang dengan settingan otak yang tetap atau menjadi orang dengan settingan otak yang terus bertumbuh?

 

“We like to think of our champions and idols as superheroes who were born different from us. We don’t like to think of them as relatively ordinary people who made themselves extraordinary.” – Carol Dweck : The New Psychology of Success

Comments

comments