7 Alasan Mengapa Kita Mengorganisir Konferensi TEDx di Indonesia

TED adalah sebuah organisasi non-profit yang bertujuan untuk menjadi katalisator ide-ide brilian yang memiliki dampak signifikan untuk membuat sebuah perubahan. TED sendiri dimulai pada tahun 1984 sebagai sebuah konferensi yang bertujuan untuk menyatukan ide-ide inspiratif dari dunia Teknologi, Entertainment dan juga Desain. Namun seiring perkembangan dari konferensi ini, topi yang dibahas pun tidak hanya mencakup tiga hal itu saja, tetapi isu-isu seputar bisnis, psikologi hingga sosial pun tak luput dari pembahasan TED.

Sementara itu, sejak tahun 2008, TED membuka kesempatan bagi semua orang di seluruh dunia untuk dapat mengorganisir event seperti TED yang kemudian di berinama TEDx. Di Indonesia sendiri kita mengenal beberapa organisasi TEDx, seperti : TEDxJakarta, TEDxJakSel, TEDxBandung, TEDxITT, TEDxTuguPahlawan, TEDxITS, TEDxUbud hingga TEDxMakassar.

Berikut ini adalah poin opini saya, mengapa anak muda seperti kita ini harus mengirganisir konferensi TEDx di Indonesia :

1. Magnet Sesama Anak Muda yang Peduli akan Perubahan

Ketika awal kali memiliki ide untuk mengorganisir TEDxTuguPahlawan di Surabaya tahun 2011 lalu, saya masih sedikit ragu, apakah nantinya antusiasme di kota ini akan seramai di Jakarta, Bandung dan Ubud. Ketika saya mulai mem-posting ide ini di sosial media, mulailah beberapa anak muda yang sevisi tertarik untuk mendukung mewujudkan hal ini. Rata-rata mereka yang tertarik adalah mereka yang peduli terhadap perubahan dan berkomitmen untuk memberikan kontribusi positif untuk kota Surabaya. Dan hal ini pun sepertinya juga terjadi di Jakarta, Bandung dan Ubud. Sepertinya nama TED sendiri telah menjadi magnet bagi anak muda yang peduli akan perubahan dan ide-ide brilian untuk berkumpul bersama dan membuat sebuah karya.

(more…)

5 Pelajaran Kepemimpinan yang Bisa Kita Petik dari Insiden Jatuhnya AirAsia QZ8501

Sudah tepat seminggu sejak peristiwa kecelakaan maut yang terjadi pada pesawat AirAsia tujuan Surabaya – Singapura pada 28 Desember 2014 lalu. Di balik kesuksesan dalam mengidentifikasi letak jatuhnya pesawat di bawah langit selat Karimata, di balik berhasilnya mengevakuasi beberapa korban hingga pujian yang didapat dari dunia internasional atas aksi tanggap ini, kita dapat melihat beberapa pihak yang turut serta berperan aktif dalam menyelesaikan masalah ini. Baik mereka yang merasa bertanggung jawab, maupun mereka yang merasa peduli akan penyelesaian tragedi ini.

Berikut ini adalah opini saya tentang pelajaran leadership ataupun kepemimpinan yang bisa kita petik dari insiden jatuhnya AirAsia QZ8501.

1. Mereka Bukan Pengecut

Ketika pesawat AirAsia QZ8051 hilang pada pukul 06.24 WIB, Tony Fernandes selaku CEO dari Group AirAsia sudah bersiap pasang badan untuk menyelesaikan masalah ini. Alih-alih ia menyalahkan orang lain, Tony Fernandes mengambil keputusan untuk langsung bertolak ke Surabaya demi memberikan keterangan resmi kepada masyarakat luas tentang apa yang sebenarnya terjadi.

(more…)

Cerita tentang Anak-anak Disleksia

Disleksia adalah sebuah gangguan dalam perkembangan baca tulis yang umumnya terjadi pada anak saat meninjak usia 7 sampai 8 tahun. Hal ini ditandai dengan kesulitan belajar membaca dengan lancar dan kesulitan dalam memahami sebuah instruksi dengan baik. Disleksia adalah kesulitan belajar yang paling umum dan gangguan membaca yang paling dikenal.

Secara fisik, penderita disleksia tidak terlihat seperti memiliki gangguan sesuatu. Disleksia tidak hanya terbatas pada ketidakmampuan seseorang untuk menyusun atau membaca kalimat dalam urutan terbalik tapi juga berbagai macam urutan, hal inilah yang akhirnya menyebabkan penderita disleksia dianggap tidak konsentrasi dalam beberapa hal.

Jika anda memindai otak para pengidap disleksia, anda akan mendapati gambar yang tampak aneh. Di bagian-bagian penting tertentu otak – yang menangani membaca dan pengolahan kata – para pengidap disleksia tidak mempunyai banyak materi kelabu. Mereka tidak mempunyai sel otak di bagian tersebut sebanyak orang pada umumnya.

Selagi janin berkembang dalam kandungan, sel-sel saraf seharusnya menyebar ke daerah-daerah yang tepat dalam otak, mengambil tempat seperti bidak catur di atas papan. Tapi karena suatu alasan, sel-sel saraf pengidap disleksia kadang tersasar di jalan. Sel-sel itu jadi salah tempat. Otak mempunyai sesuatu yang disebut sistem ventricular, dengan fungsi sebagai pintu masuk dan keluar. Pada ventrikel beberapa orang dengan gangguan kesulitan membaca, sel-sel saraf tadi berjubel seperti para penumpang yang antri masuk kereta komuter di saat jam pulang kantor di Jakarta.

(more…)

Apakah Memang Benar Ada yang Disebut Sebagai Bakat Bawaan?

Hampir satu generasi lamanya, para psikolog paling disegani di dunia terlibat dalam perdebatan hangat atas sebuah pertanyaan yang seringkali juga menjadi pertanyaan pribadi kita. Pertanyaan itu adalah : apakah memang benar ada yang disebut sebagai bakat bawaan?

Pertanyaan ini membuat berbagai macam psikolog mulai melakukan penelitian tentang apa yang disebut sebagai bakat. Contoh pertama di sini adalah sebuah penelitian yang dilakukan oleh psikolog bernama Anders Ericsson bersama dua orang rekannya di Academy of Music di Berlin yang terkenal sangat elit. Dengan bantuan para pengajar dan professor di sekolah itu, mereka mengelompokkan para pemain biola ke dalam tiga kelompok yang berbeda.

Kelompok pertama adalah sekumpulan bintang sekolah, mereka adalah para siswa yang digadang-gadang akan menjadi pemain biola solo kelas dunia. Di kelompok kedua berisi pemain yang dinilai “bagus”, mereka bukanlah bintang sekolah, namun memiliki permainan yang cukup indah untuk bisa dinikmati. Sedangkan kelompok ketiga adalah para pemain yang kemungkinan besar tidak akan bermain secara professional dan hanya berkeinginan untuk menjadi guru musik di sebuah sekolah negeri.

(more…)

Mereka yang Serius Mengejar Mimpinya, Pasti Melakukan Hal Ini…

Impian di masa kecil akan bisa berdampak pada masa depan, jika anda memiliki kemampuan untuk untuk menemukan “pintu-pintunya” atau dalam bahasa yang sering dipopulerkan oleh Steve Jobs sebagai “connecting the dots”.

Jika anda adalah orang yang serius mengejar impian anda, anda pasti memiliki kebiasaan-kebiasaan tersendiri yang membedakan anda dari kebanyakan orang lainnya. Berikut ini adalah kebiasaan-kebiasaan dari mereka yang serius untuk merealisasikan impiannya, yang diambil dari beberapa studi kasus para pemimpi yang berhasil di dunia ini.

1. Menjadikan Kritikan sebagai Sarana untuk Terus Maju

Sebuah penelitian dari Professor Ayelet Fishbach menjelaskan bawa feedback negatif dapat menjadi motivasi terbaik bagi mereka yang berkomitmen tinggi untuk merealisasikan impiannya.

Ketika The Beatles ditolak oleh Decca Record Company pada tahun 1962 setelah musiknya dinilai tidak harmonis oleh jajaran eksekutif. The Beatles merasa terlecut untuk membuktikan bahwa mereka telah menilai The Beatles secara salah. The Beatles pun pergi dan memutuskan untuk memulai rekaman di Abbey Road Studio untuk single-nya yang berjudul “Love Me Do”. Itulah awal mula dunia mengenal The Beatles.Sekalai lagi, mereka yang berkomitmen untuk merealisasikan mimpinya akan menemukan jalan untuk terus maju.

2. Selalu Menemukan Dukungan dari Orang Lain

Sebelum terkenal lewat filmnya yang berjudul “Crouching Tiger, Hidden Dragon” dan juga “Life of Pi”, Ang Lee hanyalah imigran pengangguran yang menggantungkan hidupnya dari sang istri. Sebagai seorang lulusan sekolah perfilman dari University of Illinois, ia dihadapkan kemalangan setelah lebih dari 3o naskahnya di tolak oleh berbagai macam produser yang berbeda.

Di tengah keputusasaannya, ia akhirnya berpikiran bahwa mimpinya membuat film tidak akan pernah terwujud dan memutuskan untuk mendaftarkan diri pada sebuah kursus komputer. Mengetahui hal ini, istrinya menolak keras dan mencoba meyakinkan kembali bahwa bakat dari seorang Ang Lee adalah membuat film, bukan mengotak-atik komputer.

Berkat dukungan dari istrinya inilah akhirnya Ang Lee kembali tergerak untuk menulis naskah dan tidak lama kemudian ia berhasil mendapatkan pendanaan untuk film pertamanya. Tanpa dukungan dari sang istri, Ang Lee tidak mungkin akan memenangkan oscar sebanyak dua kali dari filmnya “Crouching Tiger Hidden Dragon” dan juga “Life of Pi”.

(more…)

YSEALI – Tempat Dimana Pemimpin Muda ASEAN Berkolaborasi

Minggu lalu, tepatnya tanggal 11 November 2014, saya diundang pergi ke Yangon, Myanmar oleh sebuah lembaga yang bernama YSEALI (singkatan dari Young South East Asia Leadership Initiative). Acara yang bertajuk “The Power of Collaboration” ini mengundangan 20 perwakilan dari 10 negara ASEAN, jadi setiap negara setidaknya mengirimkan dua perwakilan, hanya Brunai Darussalam saja yang mengirimkan satu perwakilan dikarenakan ada halangan.

Perlu diketahui, program YSEALI sendiri adalah hasil inisiatif dari Presiden Barack Obama yang diluncurkan pada tahun 2013. Tujuan dari diluncurkannya program ini sendiri adalah untuk memperkuat pengembangan dan jaringan kepemimpinan anak muda antar negara di seluruh kawasan ASEAN. Program dari YSEALI ini sendiri fokus pada beberapa hal utama seperti lingkungan hidup, kewirausahaan dan pembangunan ekonomi di seluruh kawasan ASEAN. Untuk lebih kelasnya, bisa check di sini.

Saya menghabiskan waktu selama 5 hari di kota Yangon dengan rincian 3 hari efektif dan 2 hari di awal dan di akhir untuk persiapan. Selama 3 hari efektif ini, seluruh delegasi dari YSEALI diberi sebuah contoh studi kasus yakni bagaimana mengembangkan Myanmar di masa yang akan datang.

Hari efektif pertama kami bertemu dengan beberapa aktivis pro demokrasi di Myanmar. Dari sini kami baru tahu bahwa sebenarnya demokrasi yang digembar gemborkan oleh media di Myanmar hanyalah palsu belaka. Kebanyakan yang duduk di pemerintahan Myanmar sampai saat ini adalah para militer yang hanya “ganti baju saja”. Merenungkan hal ini, saya jadi ingat jaman Soeharto di Indonesia yang kabinetnya banyak diisi oleh orang dengan latar belakang militer.

Setelah berdiskusi banyak dengan para aktivis pro demokrasi di Myanmar, kami mengunjungi sebuah Monastic School di pusat Kota Yangon. Monastic School di sini konsepnya sangat mirip dengan Pesantren di Indonesia. Cuma kalau di Indonesia para muridnya adalah santri, kalau di Myanmar para muridnya adalah biksu-biksu kecil. Pelajaran yang diajarkan pun beragam, mulai dari ilmu sosial, kewarganegaraan hingga Bahasa Inggris. Tak heran, walau pun usia mereka masih awal belasan tahun, tapi bahasa Inggris mereka sudah bisa dibilang ok.

Malamnya di hari pertama, kami mengunjungi Swedagon Pagoda. Sebenarnya letaknya tidak jauh dari hotel kami di Summit Park View, jadi ketika olah raga pagi di taman depan hotel, kami sering memandangi keindahan kubah emasnya. Tapi kali ini kita diajak masuk langsung kedalam tempat pagodanya. Satu kata yang bisa mendiskripsikan Pagoda ini : AMAZING! Ternyata kubah pagoda itu terbuat dari emas asli. Dan emas itu didapat dari sumbangan seluruh warga Yangon di masa silam. Besar pagoda ini mungkin sebesar sedikit lebih kecil dari Borobudur, tapi karena masih aktifnya pagoda ini untuk sembahyang para penganut budha, jadi kesan relijiusnya masih sangat terasa.

(more…)