Persamaan antara Bill Gates dengan The Beatles

Penulis Buku Outliers – Malcolm Gladwell. Photo by Mashable.

Dalam buku karya Malcolm Gladwell yang brilliant berjudul Outliers memuat sebuah pemikiran bahwa keberhasilan dalam melakukan sebuah tugas yang kompleks mensyaratkan adanya jumlah minimum waktu latihan secara berulang-ulang untuk memperoleh keahlian dalam sebuah bidang tertentu. Pemikiran ini bernama teori sepuluh ribu jam – sebuah angka ajaib agar seseorang dapat mencapai peak performance-nya.

Seorang ahli saraf bernama Daniel Levitin menjelaskan dalam tulisannya, “Dalam berbagai penelitian terhadap para seniman, penulis novel fiksi, musisi, olahragawan hingga penjahat kelas kakap, angka sepuluh ribu jam selalu muncul berulang kali. Belum ada seorang pun yang pernah menemuan bahwa seseorang dapat menjadi ahli kelas dunia dengan waktu latihan yang lebih sedikit. Sepertinya otak kita memang membutuhkan waktu sepanjang itu untuk menyerap semua yang dibutuhkan untuk menjadi seorang yang ahli di bidangnya.”

Tetapi bagi Anders Ericsson dan mereka yang memperdebatkan pentingnya bakat, hal ini tidak mengejutkan sama sekali. Tanpa latihan sepuluh ribu jam, tidak mungkin seseorang menguasai keahlian yang dibutuhkan untuk bisa bermain di tingkatan tertinggi. Bahkan Mozart sekalipun – musisi yang dianggap paling jenius sepanjang masa – tidak dapat menciptakan karya-karya original terbaiknya sebelum berlatih keras selama sepuluh ribu jam. Di awal karirnya sebagai musisi, beberapa karya awal Mozart tidaklah luar biasa. Sejumlah karya awalnya mungkin ditulis oleh ayahnya dan mungkin dikembangkan sendiri seiring berjalannya waktu. Bahkan beberapa karyanya ketika masih kecil merupakan aransemen ulang karya komponis lainnya. Dari beberapa concerto yang diciptakan sendiri oleh Mozart, karya paling awal yang kini dinilai sebagai karya bersarnya baru diciptakannya pada saat berusia dua puluh tahun: pada saat itu Mozart sudah berlatih menciptakan berbagai macam concerto selama sepuluh tahun lamanya.

Latihan bukanlah hal yang dilakukan setelah kita menjadi hebat. Latihan adalah hal yang membuat kita hebat. Bakat diawal saja tidak cukup tanpa adanya latihan yang cukup. Itulah yang pada akhirnya membedakan mengapa ada anak berbakat yang sukses dengan yang gagal.

Jauh Sebelum Memutuskan Keluar dari Harvard, Bill Gates Telah Berlatih Sangat Keras

Semua orang di dunia ini pasti tahu siapa itu Bill Gates, Ketika masih di usia sekolahan, ia adalah anak yang sangat jenius. Ia mempelajari matematika seperti anak-anak Indonesia makan mie instan, sangat lahap. Ketika masuk Universitas Harvard, ia dan temannya berhasil menemukan pemrograman komputer dan memutuskan untuk keluar dari bangku kuliah, lalu memutuskan untuk mendirikan perusahaan bernama Microsoft dengan teman-temannya. Dengan bermodalkan kegeniusan, ambisi dan keberanian, mereka membangunnya menjadi raksasa perangkat lunak kelas dunia. Itulah garis besarnya yang banyak diketahui orang saat ini. Bagaimana kalau kita coba meniliknya lebih dalam lagi?

Ayah Bill Gates adalah seorang pengacara kaya raya di Seattle – bukan petani seperti yang banyak terdengar di sekitar kita – dan ibunya adalah putri seorang banker terkemuka. Sewaktu masih kecil, kecerdasan Bill Gates sudah sangat nampak sehingga ia merasa bosan dengan sekolahnya. Jadi orang tuanya mengeluarkan Bill Gates dari sekolah negeri dan mengirimkannya ke sekolah swasta Lakeside pada awal kelas tujuh. Perlu diketahui, Lakeside adalah sebuah sekolah swasta yang berisi anak-anak keluarga kaya di Seattle. Di pertengahan tahun kedua Bill Gates di Lakeside, sekolah itu mendirikan sebuah klub komputer. Disinilah awal mula Billa Gates bersinggungan dengan bidang yang akan membuatnya kaya raya.

Tentu saja komputer adalah sesuatu yang menakjubkan, mengingat hal ini terjadi di tahun 1968 dan masih banyak Universitas di Amerika yang belum memiliki fasilitas komputer di tahun 1960-an. Bahkan yang lebih luar biasanya lagi adalah komputer yang dimiliki oleh Sekolah Lakeside ini adalah yang tercanggih pada jamannya. Sekolah Lakeside tidak membiarkan siswanya untuk mempelajari pemrograman dengan sistem kartu yang melelahkan, sebagaimana yang dilakukan hampir semua orang di tahun 1960-an. Namun Sekolah Lakeside membeli sebuah ASR-33 Teletype – sebuah komputer yang bisa digunakan bersama-sama dengan sambungan langsung ke komputer mainframe di tengah kota Seattle. Hal inilah yang membuat Bill Gates bisa mulai bereksplorasi dengan pembuatan pemrograman saat dirinya baru menginjak kelas delapan di tahun 1968.

Sejak saat itu, hidup Bill Gates ada di ruangan komputer itu. Ia dan sejumlah temannya mulai mengajarkan diri mereka sendiri cara untuk menggunakan peralatan baru yang aneh ini. Tentu saja membeli jatah waktu untuk terkoneksi dengan komputer mainframe di Seattle membutuhkan biaya yang mahal – bahkan untuk institusi elit dan kaya semacam Lakeside sekalipun. Meskipun dana talangan dari para orang tua terus digelontorkan dalam jumlah besar dan semakin besar, siswa di sana akan tetap menghabiskannya. Hingga suatu saat sekelompok programmer dari University of Washington membentuk sebuah kelompok yang dinamakan Computer Center Corporation (Atau yang lebih dikenal sebagai C-Cubed), mulai menyewakan komputer untuk perusahaan setempat. Kebetulan salah satu pendiri C-Cubed yang bernama Monique Rona memiliki seorang anak yang bersekolah di Lakeside, satu tahun di atas Bill Gates. Suatu hari Monique Rona menawarkan apakah klub komputer Sekolah Lakeside ingin menguji program softwere perusahaan itu setiap akhir pekan dengan kompensasi waktu penggunaan komputer secara gratis? Tentu saja akses menggunakan komputer secara gratis adalah sesuatu yang menarik bagi Bill Gates dan rekan-rekannya. Jadi sepulang sekolah, Bill Gates naik bus ke kantor C-Cubed dan bermain-main dengan pemrograman sampai tengah malam. Walau pada akhirnya C-Cubed bangkrut, Bill Gates dan teman-temannya masih tetap bermain di pusat komputer University of Washington karena latar belakang para pendiri C-Cubed yang berasal dari Universitas tersebut.

Tak lama kemudian, mereka bertemu dengan sebuah kelompok yang bernama ISI (Information Science Inc.), yang mengijinkan mereka menggunakan komputernya dengan konsekuensi harus mengerjakan beberapa softwere yang bisa digunakan untuk mengotomatisasi pembayaran gaji perusahaan. Dalam waktu tujuh bulan di tahun 1971, Bill Gates dan rekan-rekannya dari klub komputer sekolah Lakeside telah menghabiskan waktu lebih dari 1.500 jam lamanya dengan mainframe ISI, yang berarti rata-rata penggunaan selama delapan jam sehari, tujuh hari setiap minggunya. Komputer telah menjadi obsesi Bill Gates sejak dari SMA.

“Jika saya merasa malas mengikuti pelajaran olahraga, saya langsung pergi ke pusat komputer University of Washington setiap kali ada kesempatan. Kami membuat program setiap akhir pekan.” Ujar Bill Gates dalam suatu kesempatan.

“Ada sebuah masa di mana Paul Allen dan saya terlibat sebuah kasus karena telah mencuri kode rahasia dan menerobos masuk ke dalam sistem. Akibatnya, kami tidak bisa menggunakan komputer sepanjang musim panas. Ini terjadi saat usia saya menginjak lima belas atau enam belas tahun. Kemudian kami menemukan sejumlah komputer yang boleh kami gunakan secara bebas antara jam tiga sampai enam pagi di pusat kesehatan dan departemen fisika, University of Washington. Akhirnya setiap malam saya dan Paul sering berjalan dari rumah atau naik bus untuk menuju kesana, sekedar untuk melampiaskan hasrat kami terhadap komputer.” Lanjut Bill Gates.

“Itulah sebabnya mengapa saya sering menyumbang dana ke University of Washington, karena mereka telah mengizinkan saya untuk menggunakan komputer mereka secara gratis dalam waktu yang lama.” Tutup Bill Gates sambil tertawa.

Salah satu pendiri ISI, Bud Pembroke, kemudian mendapatkan telepon dari perusahaan teknologi TRW, yang baru saja menandatangani kontrak untuk membangun sebuah sistem komputer di sebuah stasiun pembangkit listrik Bonneville di sebelah selatan Washington State. TRW amat sangat membutuhkan programmer yang akrab dengan softwere yang biasa digunakan di stasiun itu. Di masa-masa awal revolusi komputer ini, para programmer dengan keahlian istimewa seperti itu sulit ditemukan. Tetapi Bud Pembroke tahu persis harus menghubungi siapa untuk menangani proyek ini. Akhirnya ia menghubungi anak-anak dari klub komputer Sekolah Lakeside yang telah menghabiskan ribuan jam di depan komputer dengan menggunakan mainframe ISI. Saat itu Bill Gates sudah duduk di tahun terakhir dan entah bagaimana ia mampu meyakinkan guru-gurunya untuk mengizinkan dirinya berdiam di Bonneville dengan berpura-pura mengerjakan sebuah proyek studi independen. Di sana ia menghabiskan sepanjang musim semi menciptakan kode, diawasi oleh seorang pria bernama John Norton, yang menurut Bill Gates telah mengajarkan dirinya tentang pembuatan program hampir sebanyak siapa pun yang pernah ditemui olehnya.

Lima tahun sejak ia duduk di kelas delapan sampai akhir SMA merupakan kawah candradimuka bagi Bill Gates. Ia mendapatkan serangkaian kesempatan belajar banyak tentang dunia pemrograman komputer dan siap memulai petualngan yang lebih jauh lagi sebagai seorang entrepreneur.

Jika dinalar lebih dalam cerita di atas, kita akan mendapati bahwa Bill Gates telah dikaruniai banyak kesempatan hingga akhirnya ia benar-banar mahir dalam bahasa pemrograman.

Kesempatan pertama adalah ketika Bill Gates dikirim ke sekolah Lakeside. Berapa banyak sekolah menengah di dunia ini yang memiliki akses atas sebuah komputer yang bisa digunakan bersama-sama di tahun 1968?

Kesempatan kedua adalah para orang tua di Sekolah Lakeside yang dermawan memiliki uang yang cukup banyak untuk membayar biaya komputer di sekolah itu, sekalipun para siswa sering kali menghabiskannya.

Kesempatan nomor tiga adalah, saat uang yang cukup banyak hasil donasi para orang tua di Sekolah Lakeside habis, salah seorang wali murid yang kebetulan bekerja di C-Cubed memerlukan seseorang untuk menguji softwere-nya di akhir pekan. Jadi waktu untuk tetap bersentuhan dengan komputer masih tersedia.

Kesempatan keempat adalah, Bill Gates kebetulan menemukan informasi tentang Information Science Inc (ISI) dan kebetulan ISI memerlukan seseorang untuk mengerjakan salah satu perangkat lunaknya.

Nomor lima adalah Bill Gates kebetulan tinggal dekat dengan University of Washington. Nomor enam adalah University of Washington ternyata mempunyai jadwal kosong penggunaan komputer antara pukul tiga sampai 6 dini hari. Nomor tujuh adalah kebetulan TRW menghubungi Bud Pembroke. Nomor delapan adalah programmer terbaik yang dikenal Bud Pembroke untuk menyelesaikan masalah itu kebetulan adalah dua orang anak SMA. Dan nomor Sembilan adalah Sekolah Lakeside bersedia mengijinkan kedua anak itu untuk menghabiskan musim seminya membuat program di luar sekolah.

Dan apakah kesamaan dari berbagai macam kesempatan itu? Bahwa hal ini telah menjadi waktu latihan tambahan yang amat sangat berguna bagi seorang Bill Gates. Pada saat Bill Gates memutuskan untuk keluar dari Harvard pada tahun kedua kuliahnya untuk mencoba mendirikan perusahaan softwere-nya sendiri, ia sebenarnya telah membuat program secara non stop selama tujuh tahun lamanya. Ia sudah jauh melewati batas minimum latihan sepuluh ribu jam lamanya, seperti yang dilakukan oleh para bintang pemain biola dalam penelitian Anders Ericsson sebelumnya.

Jika anda atau orang terdekat anda pernah bertanya mengapa Bill Gates yang Drop Out saja bisa sukses? Saya kira deskripsi di atas sudah mampu menjelaskan jawabannya dengan baik kepada kita.

Berapa banyak anak muda di antara kita yang telah mampu melewati proses panjang dengan ditunjang banyak kesempatan seperti itu? Berapa banyak diantara kita yang telah fokus tetap berproses pada bidang yang sama selama hampir sepuluh ribu jam? Dan apakah selama ini anda telah berhasil menciptakan berbagai macam kesempatan untuk mendukung passion anda seperti apa yang telah dilakukan Bill Gates sejak awal di Sekolah Lakeside?

Jika anda masih memendam banyak tanya tentang Bill Gates, simpan dulu. Mari selanjutnya kita akan membahas tentang The Beatles.

Bandingkan dengan The Beatles

The Beatles – John Lennon, Paul Mc Cartney, George Harrison dan Ringo Starr – pertama kali menginvasi arena musik Amerika pada bulan Februari 1964 dengan hit-hit khas Britanianya seperti Tell Me Why ataupun Can’t Buy Me Love.

Seperti halnya tentang Bill Gates dalam pembahasan sebelumnya, hal yang pertama yang harus kita ketahui sebelum membahas tentang The Beatles adalah, seberapa banyak mereka mendapatkan kesempatan belajar dan berkarya? Seberapa lama mereka telah bersama dalam sebuah group band? Hingga seberapa lama mereka bereksplorasi terhadap aliran musik mereka sebelum akhirnya menginvasi arena musik Amerika?

John Lennon dan Paul Mc Cartney pertama kali bermain bersama pada tahun 1957 atau tujuh tahun sebelum mereka mulai menginvasi ranah musik Amerika. Dan apabila kita melihat beberapa tahun ke belakang sebelumnya, kita akan menemui bahwa mereka hanyalah group band rock sekolahan yang sedang memulai karirnya dengan bermain musik secara non stop di berbagai klub malam di kota Hamburg.

Dalam buku biografi The Beatles Shout! Bruno Norman menjelaskan bahwa pada saat itu di Hamburg bertebaran banyak sekali klub striptease dan tidak memiliki satu pun klub yang menyajikan pertunjukkan musik secara langsung. Salah seorang pemilik klub malam di sana yang bernama Bruno tertarik untuk membawa sekelompok pemain musik untuk berkeliling sambil bermain dari satu klub malam ke klub malam lainnya. Bruno memiliki sebuah gagasan, sebuah pertunjukkan non stop, beberapa jam lamanya, dengan banyak orang keluar-masuk dan band akan terus memainkan musiknya untuk terus menyeret orang yang berlalu lalang di sekitar klub malam.

Sebenarnya semua terjadi secara kebetulan. Itulah mengapa banyak orang berkata sukses adalah kombinasi antara kesiapan dengan kesempatan.

Awalnya Bruno pergi ke London untuk mencari sejumlah band yang dirasanya pantas untuk tampil di Hamburg. Tapi pertemuannya dengan seorang pengusaha dari Liverpool di Soho-lah yang akhirnya merubah pikirannya. Pengusaha dari Liverpool ini sangat mengenal beberapa band dari kotanya – salah satunya The Beatles – dan berjanji akan memperkenalkan mereka kepada Bruno. Itulah awal dari bagaimana akhirnya The Beatles memulai aksi panggungnya secara non stop di Hamburg.

Apakah anda tahu apa yang sebenarnya istimewa dari Hamburg saat itu? Apakah bayarannya yang mahal? Tidak. Apakah venue-nya yang fantastik? Tentu tidak. Atau.. apakah masanya yang fanatik? Sudah pasti tidak. Seperti halnya Bill Gates dengan Lakeside dan University of Washington-nya, Hamburg adalah Kawah Candradimuka bagi The Beatles – tempat mereka menimba ilmu, berproses dan berkarya. Di Hamburg, The Beatles diberi kesempatan untuk bermain cukup lama oleh para pemilik klub di sana. Hal ini jugalah yang akhirnya digunakan oleh The Beatles untuk melakukan banyak improvisasi terhadap musik mereka.

Di dalam sebuah wawancara, John Lennon menjelaskan bahwa aksi panggungnya di beberapa klub malam di Hamburg inilah yang akhirnya menjadikan gaya permainan The Beatles membaik tiap harinya. Selain itu, rasa percaya diri yang lebih besar pun akhirnya tumbuh di antara para personel The Beatles. Di Hamburg, mereka belajar untuk menumpahkan segala jiwa raganya kedalam permainan dan berusaha membuat penonton tertarik.

Hal ini sangat berbeda dengan fakta yang sebelumnya terjadi di kota asalnya. Di Liverpool, mereka hanya mendapatkan kesempatan untuk manggung satu jam saja dan diharuskan menyanyi lagu-lagu yang tengah hits di telinga pengunjung. Hal ini benar-benar membuat mereka menemukan cara baru dalam mengeksplorasi musik.

The Beatles akhirnya melakukan perjalanan ke Hamburg lima kali antara tahun 1960 sampai akhir 1962. Pada perjalanan pertama mereka bermain sebanyak 106 malam dengan minimal 5 jam setiap kali sesi manggungnya. Pada perjalanan kedua, mereka bermain 92 kali. Pada lawatan ketiga, mereka bermain 48 kali dengan total waktu 172 jam di atas panggung. Bila dijumlahkan, mereka telah bermain selama 246 malam dalam waktu satu setengah tahun. Sesungguhnya, pada saat mereka meraih kesuksesan di ranah musik Amerika pada tahun 1964, The Beatles diperkirakan telah naik panggung selama lebih dari seribu dua ratus kali dan telah menghabiskan lebih dari 10.000 jam bermain musik. Sebuah kesempatan yang luar biasa yang mungkin tidak banyak di dapat oleh para group band pada jaman sekarang ini.

10.000 jam yang dihabiskan The Beatles di Hamburglah yang membuat kualitas permainan mereka makin membaik tiap harinya. Mereka tidak hanya belajar tentang bermain musik, tetapi juga tentang menjaga stamina di atas panggung, bereksperimen dengan aliran musik hingga membangun interaksi yang baik dengan para penonton. 10.000 jam di Hamburglah yang membuat The Beatles berbeda dengan para musisi lainnya. Dan singkatnya, seperti halnya dengan latihan dan kesempatan yang didapat oleh Bill Gates, 10.000 jam inilah yang akhirnya membuat Bill Gates maupun The Beatles menjadi sangat mahir pada bidang yang ditekuninya.

I put my heart and my soul into my work, and have lost my mind in the process.” – Vincent Van Gogh

Comments

comments