Sebelum Merubah Dunia

Saya pernah membaca quotes yang berbunyi “Yesterday I was clever, so i wanted to change the world. Today I am wise, I want to change my self”. Quotes yang pertama kali dicetuskan oleh Rumi ini sedikit memberikan refleksi pribadi pada diri saya, betapa banyak diantara kita yang selalu mendambakan sebuah perubahan dan tentu perubahan kearah yang lebih baik.

Tapi satu hal yang perlu dipertanyakan, mengapa diantara kita ini sangat sulit untuk memimpin sebuah perubahan kearah yang lebih baik? Bukankah sudah sering diantara kita berdemo di gedung pemerintahan menuntut ini itu? Bukankah sudah sering juga diantara kita membuat program sosial tertentu? Lantas mengapa perubahan yang diidam-idamkan itu belum terwujud juga?

Cerita tentang Seorang yang Ingin Merubah Dunia

Cerita ini pertama kali saya dapati di dinding kamar kakak saya ketika saya masih SMP, mungkin sekitar tahun 2003 atau 2004. Kurang lebih begini ceritanya….

Alkisah terdapat seorang anak muda yang bercita-cita ingin merubah dunia. Ia sudah bosan dengan segala kebobrokan dan kebodohan yang ada di dunia ini. Penjajahan, diskriminasi kemiskinan dan terorisme, semua hal buruk yang ada di dunia ini kelak akan ia berantas dengan segala macam ide dan pergerakan yang ia buat. Namun lambat laun berjalan, ide dan usahanya belum menghasilkan apa-apa. Ia pun mempersempit mimpinya dan bertekad merubah negaranya.

Negara tempat kakinya berpijak ini ternyata tidak kalah bobroknya. Kediktatoran, korupsi hingga potilik uang mewarnai keseharian negeri ini. Dengan tekadnya masih kuat ini, ia bercita-cita untuk menghapuskan segala kebobrokan negerinya ini. Tapi lambat laun berjalan usahanya yang ini pun masih belum menghasilkan apa-apa. Ia pun mempersempit mimpinya dan bertekad merubah kotanya.

Kota tempatnya tinggal selama ini pun tidak kalah bobroknya. Aparat yang mencuri uang rakyat, proyek yang tidak pernah rampung hingga nepotisme selalu menjadi isu negatif yang memenuhi tiap jengkal ruang kota. Ia sudah muak dengan itu semua dan ia pun bertekad untuk memulai sebuah perubahan di kotanya. Tapi umurnya yang sudah beranjak tua pun membuat langkahnya tidak segesit dulu lagi. Dan sekali lagi ia pun mempersempit mimpinya, dari mengubah dunia, mengubah Negara, mengubah kota dan kini saatnya ia mengubah keluarganya.

Keluarganya pun ternyata sudah terlanjur bobrok. Akibat kesibukannya mengubah dunia, keluarganya pun jarang diperhatikan. Istrinya yang selingkuh hingga anak yang menjadi pecandu, semua itu dikarenakan kurangnya perhatian dari dirinya seorang sebagai pemimpin keluarga. Diusianya yang sudah sangat senja ini sangat sulit baginya untuk membangun keharmonisan lagi dalam rumah tangganya.

Saat sejengkal saja dari kematian, ia pun tersadar bahwa sebelum mengubah dunia, sebelum mengubah Negara, sebelum mengubah kota bahkan sebelum mengubah orang di sekitar kita, terlebih dahulu kita harus mengubah diri kita sendiri.

Kepemimpinan Diri Sendiri

Dari cerita di atas dapat dipetik pelajaran bahwa segala perubahan yang ada di dunia ini sumbernya berasal dari diri kita sendiri. Sebelum membuat perubahan di dunia, kita harusnya lebih paham untuk menaklukkan diri sendiri.

Coba bayangkan jika Thomas Alva Edison tidak bisa menaklukkan kegagalan dirinya ketika sedang melakukan eksperimen bola lampu. Akankah dunia seterang hari ini? Coba bayangkan juga bagaimana jika Kolonel Sanders tidak bisa mengubah sudut pandangnya tentang bisnis restoran dan memaksakan untuk tetap membuka restorannya yang kurang laku akibat proyek jalan tol pemerintah, akahkah franchise KFC akan tersebar kemana-mana seperti hari ini? Atau sekali lagi coba bayangkan bagaimana jika Ang Lee tidak menaklukkan rasa bersalahnya dan terpaksa bekerja sebagai programmer amatir, akankah kita bisa melihat film ‘Life of Pi” yang inspiratif hari ini?

Dunia ini menawarkan banyak perubahan yang sangat menantang untuk diikuti tiap harinya. Tapi sekali lagi kita musti sadar. Sebelum kita turut serta dalam perubahan itu, terlebih dahulu kita musti mampu menaklukkan diri kita sendiri.

 

“Knowing yourself is the first chapter of the book named wisdom”  – Self Quote

Comments

comments