YSEALI – Tempat Dimana Pemimpin Muda ASEAN Berkolaborasi

Minggu lalu, tepatnya tanggal 11 November 2014, saya diundang pergi ke Yangon, Myanmar oleh sebuah lembaga yang bernama YSEALI (singkatan dari Young South East Asia Leadership Initiative). Acara yang bertajuk “The Power of Collaboration” ini mengundangan 20 perwakilan dari 10 negara ASEAN, jadi setiap negara setidaknya mengirimkan dua perwakilan, hanya Brunai Darussalam saja yang mengirimkan satu perwakilan dikarenakan ada halangan.

Perlu diketahui, program YSEALI sendiri adalah hasil inisiatif dari Presiden Barack Obama yang diluncurkan pada tahun 2013. Tujuan dari diluncurkannya program ini sendiri adalah untuk memperkuat pengembangan dan jaringan kepemimpinan anak muda antar negara di seluruh kawasan ASEAN. Program dari YSEALI ini sendiri fokus pada beberapa hal utama seperti lingkungan hidup, kewirausahaan dan pembangunan ekonomi di seluruh kawasan ASEAN. Untuk lebih kelasnya, bisa check di sini.

Saya menghabiskan waktu selama 5 hari di kota Yangon dengan rincian 3 hari efektif dan 2 hari di awal dan di akhir untuk persiapan. Selama 3 hari efektif ini, seluruh delegasi dari YSEALI diberi sebuah contoh studi kasus yakni bagaimana mengembangkan Myanmar di masa yang akan datang.

Hari efektif pertama kami bertemu dengan beberapa aktivis pro demokrasi di Myanmar. Dari sini kami baru tahu bahwa sebenarnya demokrasi yang digembar gemborkan oleh media di Myanmar hanyalah palsu belaka. Kebanyakan yang duduk di pemerintahan Myanmar sampai saat ini adalah para militer yang hanya “ganti baju saja”. Merenungkan hal ini, saya jadi ingat jaman Soeharto di Indonesia yang kabinetnya banyak diisi oleh orang dengan latar belakang militer.

Setelah berdiskusi banyak dengan para aktivis pro demokrasi di Myanmar, kami mengunjungi sebuah Monastic School di pusat Kota Yangon. Monastic School di sini konsepnya sangat mirip dengan Pesantren di Indonesia. Cuma kalau di Indonesia para muridnya adalah santri, kalau di Myanmar para muridnya adalah biksu-biksu kecil. Pelajaran yang diajarkan pun beragam, mulai dari ilmu sosial, kewarganegaraan hingga Bahasa Inggris. Tak heran, walau pun usia mereka masih awal belasan tahun, tapi bahasa Inggris mereka sudah bisa dibilang ok.

Malamnya di hari pertama, kami mengunjungi Swedagon Pagoda. Sebenarnya letaknya tidak jauh dari hotel kami di Summit Park View, jadi ketika olah raga pagi di taman depan hotel, kami sering memandangi keindahan kubah emasnya. Tapi kali ini kita diajak masuk langsung kedalam tempat pagodanya. Satu kata yang bisa mendiskripsikan Pagoda ini : AMAZING! Ternyata kubah pagoda itu terbuat dari emas asli. Dan emas itu didapat dari sumbangan seluruh warga Yangon di masa silam. Besar pagoda ini mungkin sebesar sedikit lebih kecil dari Borobudur, tapi karena masih aktifnya pagoda ini untuk sembahyang para penganut budha, jadi kesan relijiusnya masih sangat terasa.

(more…)