Kebiasaan yang Melekat pada Mereka yang Memiliki Kecerdasan Emosional yang Tinggi

Di artikel sebelumnya, kita telah membicarakan beberapa ciri mereka yang mempunyai kecerdasan emosional yang tinggi dan bagaimana hal ini berguna menjadi penunjang kesuksesan kita di masa yang akan datang. Jika kecerdasan intelejensia lebih mengarah pada seberapa dalam potensi isi kepala anda, maka kecerdasan emosional lebih ke arah bagaimana kita memenej kompleksitas kehidupan sosial, mengatur kebiasaan sehari-hari hingga mengambil keputusan yang tepat untuk hasil terbaik di masa yang akan datang. Berikut ini adalah kebiasaan-kebiasaan yang melekat pada mereka yang memiliki kecerdasan emosional yang tinggi.

1. Mereka Mengetahui Apa Kelebihan dan Kelemahan Mereka

Mereka yang memiliki kecerdasan emosional tinggi mempunyai kebiasaan untuk mengoreksi diri sendiri, sehingga mereka paham bidang apa yang benar-benar mereka kuasai dan di bidang apa biasanya titik lemah mereka. Memiliki kecerdasan emosional tinggi berarti anda harusnya tahu bagaimana fokus menggunakan kelebihan anda semaksimal mungkin untuk meraih pencapaian maksimal anda.

2. Mereka Sering Kali Penasaran dengan Orang di Sekeliling Mereka

Mereka yang memiliki kecerdasan emosional yang tinggi, seringkali penasaran dengan berbagaimacam karakter yang dimiliki orang-orang di sekitar mereka. Sebenarnya rasa penasaran ini adalah bentuk dari empati besar yang biasa dimiliki oleh mereka yang memiliki kecerdasan emosional yang tinggi. Semakin mereka penasaran terhadap seseorang, semakin mereka menaruh perhatian lebih terhadap orang tersebut.

3. Mereka Sangat Pintar Menilai Karakter Seseorang

Kecerdasan emosional sebenarnya dapat dibentuk dari kesadaran sosial akan sekeliling kita, seperti kemampuan membaca pikiran orang lain, memahami perasaan lawan bicaranya, mengerti potensi yang dimiliki oleh rekan kerjanya hingga melihat apakah lawan bicaranya ini sedang bohong atau tidak. Kemampuan seperti inilah yang pada akhirnya membuat mereka yang memiliki kecerdasan emosional yang tinggi dinilai sebagai pembaca karakter yang baik.

(more…)

Randy Pausch Last Lecture: Achieving Your Childhood Dreams

When i was making some “short research” about graduate program in Carnegie Mellon University – cause i want to go there SERIOUSLY and get my MBA degree from that institution – i found something interesting about this university. It’s not a facility or any kind of program which offered there. It’s about lecturing program that really inspiring, conducting by its professor and probably, this is the best lecturing video as i seen so far.

FYI, The guy who appeared here named Randy Pausch. He was an american professor of computer science, human-computer interaction and design at Carnegie Mellon University. In September 2006, he learned that he had pancreastic cancer and in August 2007 he was given a terminal diagnosis: “3 to 6 months of good health left”. He gave an upbeat lecture titled “The Last Lecture: Really Achieving Your Childhood Dreams” on September 18, 2007, at Carnegie Mellon, which became so popular on Youtube and some mainstream media. You better check the video below to make sure that my words before are not just a bullsh*t :


Sad to be known, Randy Pausch died of complications from pancreatic cancer on July 25, 2008. But i think this video is the best legacy of him to share. Thanks Prof Pausch, your last lecturing inspired me to lead my life on the right way.

Brick walls are there for a reason: they let us prove how badly we want things – Randy Pausch

7 Kesalahan yang Harusnya Tidak Dilakukan Di Usia 20 Tahunan

Usia 20 Tahunan adalah usia transisi paling penting dalam hidup kita. Perpindahan gejolak dari era sekolahan ke era karir, menuntut  kita untuk cepat beradaptasi dengan perubahan yang ada. Keputusan yang kita ambil saat ini – diusia 20 tahunan – tidak hanya berpengaruh untuk jangka panjang saja, tapi juga untuk masa depan kita jauh kedepan.

Apakah anda ingin membuat usia 20 tahunan anda menjadi usia monumental untuk membuat sebuah perubahan dalam hidup anda? Ataukah anda ingin bersenang senang dan membiarkannya berlalu begitu saja? Apapun pilihannya, semua tergantung anda.

Tapi satu yang pasti, usia 20 tahunan adalah usia yang sangat krusial, setiap rencana yang anda tulis, setiap keputusan yang anda buat dan setiap langkah yang anda pilih, akan berpengaruh jauh ke masa depan anda.

Berikut ini hal-hal yang seharusnya tidak anda lakukan ketika berusia 20 Tahunan.

1.    Bekerja Hanya untuk Uang, Bukan Membangun Impian

Jangan pernah mencari kenyamanan anda ketika masih muda. Masa muda harusnya anda gunakan untuk mencari tantangan sebanyak mungkin, membangun road map menuju cita cita yang anda impikan.

Terkadang pekerjaan dengan tawaran gaji yang cukup besar menghampiri, tapi permasalahannya adalah apakah anda benar benar menikmati pekerjaan yang akan anda geluti itu?

Sebagai contoh jika anda seorang sarjana seni, apakah anda akan menerima pekerjaan sebagai seorang akuntan dengan gaji yang besar? Padahal jelas-jelas bahwa dunia akuntansi bukanlah dunia anda.

Ok, mungkin di hari ini pekerjaan sebagai seorang seniman masih tidak menghasilkan apa-apa, dan pekerjaan sebagai akuntan dapat langsung mendatangkan pendapatan bulanan, tapi apakah anda yang seorang seniman mampu membohongi diri selamanya dengan bekerja sebagai seorang akuntan?

Jika John Lennon memutuskan untuk bekerja di pabrik daripada terus-menerus bermain musik tanpa di bayar di awal karirnya, akankah The Beatles ada saat ini?

(more…)

Ayah, Anak dan Seekor Keledai

Di jaman dahulu kala, di sebuah jalanberbukit menuju kota tua Petra, dikisahkan ada seorang ayah dan anak yang berjalan menaiki bukit sambil menarik keledainya. Orang-orang di sekitarnya punheran, kenapa mereka tidak menaiki saja keledainya? Bukankah jalan berbukit inicukup melelahkan untuk didaki?

Mendengar kasak-kusuk orang di sekitarnya,mereka pun berinisiatif untuk menaiki keledainya untuk menaiki jalan berbukititu.

Tidak lama kemudian mereka bertemu beberapaorang di jalan dan mereka pun ditegur “Gila yah kalian ini!?!? keledai sekecilitu kalian naiki berdua? Kalian tidak berperikehewanan yah?”

Sang Ayah yang pertama kali mendengar halitu pun akhirnya turun dan mulai menuntun keledainya, sedangkan sang anak masihtetap dibiarkan duduk di atas keledai yang digeretnya.

Sambil terus berjalan menaiki bukit, merekapun bertemu beberapa orang lagi yang menegur anaknya.

“Anak macam apa kamu ini? Membiarkan Ayahmumenarik keledai menaiki bukit! Sedangkan kau hanya duduk santai di ataskeledai!” Mendengar hal itu anaknya pun turun dan meminta Ayahnya saja yangmenaiki keledai itu, sedangkan dia yang akan menuntun keledai itu menaikibukit.

Beberapa waktu berselang dan mereka punbertemu dengan orang yang kebetulan lewat di jalan. Dan seperti sebelumnya,orang yang kali ini mereka temui pun juga mengomel.

“Ayah macam apa kau ini? Membiarkan anakmuterlihat seperti budak dengan menarik keledai yang kau tunggangi sendirian!”

(more…)

6 Kebiasaan yang Membuat Anda Sukses

Kita selalu berharap akan adanya buku panduan untuk sukses, mengikuti banyak seminar tentang kesuksesan hingga berguru secara langsung pada seseorang yang kita anggap “sukses”. Tapi kesuksesan sendiri bukanlah sebuah ilmu nujum yang mudahnya seperti membaca simsalabim saja.

Berikut ini ada tips menarik yang saya tulis setelah terinspirasi dari hasil riset majalah Fast Company terhadap kebiasaan mereka yang sukses, baik dalam bisnis maupun dalam kehidupan pribadinya.

1. Bangunlah Sepagi Mungkin

Kedengarannya memang terasa menakutkan, apalagi bagi kita yang baru berkarir di usia awal 20 tahunan. Kebiasaan bangun siang karena jadwal perkuliahan yang tidak terlalu pagi membuat kita malas bangun pagi.

Banyak diantara pemimpin bisnis dunia yang gemar bangun pagi dan hal ini membuatnya berpikir lebih produktif. Sebut saja Jack Dorsey. Pendiri Twitter ini memulai harinya dengan bangun pada pukul 5.30 pagi. Sebelum ke kantor, ia masih menyempatkan diri untuk bermeditasi dan berlari pagi sejauh 10 kilometer. Kebiasaan bangun pagi dan berolahraga inilah yang diakuinya menjadi pemucu mengapa ia bisa begitu produktif.

Jika tadi Jack Dorsey, berbeda pula dengan Tim Cook. Suksesor Steve Jobs di Apple ini berpendapat bahwa dengan bangun pagi. Ia bisa mendelegasikan kerjanya dengan baik sebelum jam kerja dimulai.

“Aku biasa berkirim email sejak bangun tidur pada pukul 4.30 pagi. Hal ini membantuku untuk mengatur irama kerja Apple pada hari itu.” Ujar Tim Cook pada sebuah sesi wawancara.

Jadi bagi kalian yang ingin sukses, sudah siap untuk meninggalkan kebiasaan bangun siang anda? (more…)