Berterima Kasih Karena Banyaknya Orang Baik di Sekeliling Saya

Di suatu siang pada hari Minggu tanggal 9 April 2017, saya berinisiatif untuk menggalang dana melalui Kitabisa.com yang ditujukan untuk dosen saya di Universitas Ciputra dulu, yakni Pak Hadi Purnomo yang saat ini sedang menjalani perawatan Pneumonianya di Rumah Sakit RKZ Surabaya.

Secara pribadi, Pak Hadi adalah salah satu pengajar yang paling mengenang di dalam kehidupan saya. Beliau sangat bersemangat sekali dalam mengajar Ilmu Sosial dan Budaya Dasar bagi kami yang mahasiswa bisnis ini. Kata beliau dalam salah satu momen yang saya ingat, “Kalian ini perlu banget belajar antropologi dan budaya, biar kalau kalian berbisnis masih punya hati.” Begitulah ucapan beliau yang masih saya kenang sejak lima tahun lalu itu.

(more…)

Paradoks Seorang Jenius

The Genius itself: Robert Oppenheimer

Sudahkah Anda Mendengar Cerita Christopher Langan?

Jika anda diminta menyebutkan siapa nama orang paling jenius di dunia dalam sejarah hingga hari ini? Mungkin jawaban anda adalah Albert Einstein. Tapi jika pertanyaannya sedikit saya rubah seperti, siapakah orang dengan nilai kecerdasan intelektual atau IQ paling tinggi dalam sejarah hingga hari ini, apakah anda akan menjawab Albert Eintein sekali lagi? Kebanyakan mungkin masih akan menjawab Iya. Tapi ketauhilah bahwa pemilik nilai IQ tertinggi dalam sejarah bukanlah Albert Einstein, meskipun dengan teori relativitasnya dapat merubah persepsi kita akan gravitasi yang merupakan konsekuensi dari ruang dan waktu, tapi perlu diketahui bahwa nilai IQ Albert Einstein “hanya” berkisar pada angka 150an saja. Lantas siapa pemilik nilai IQ tertinggi dalam sejarah hingga hari ini? Perkenalkan namanya adalah Christopher Langan.

Menurut beberapa media di Amerika Serikat, Christopher Langan dilabeli sebagai “The Smartest Man in America”, hal ini sebenarnya tidak berlebihan mengingat nilai IQ dari Christopher Langan mencapai angka 195 sampai dengan 210. Bandingan dengan Einstein yang “hanya” pada kisaran 150an saja, cukup jauh bukan?

(more…)

Cerita tentang Anak-anak Disleksia

Disleksia adalah sebuah gangguan dalam perkembangan baca tulis yang umumnya terjadi pada anak saat meninjak usia 7 sampai 8 tahun. Hal ini ditandai dengan kesulitan belajar membaca dengan lancar dan kesulitan dalam memahami sebuah instruksi dengan baik. Disleksia adalah kesulitan belajar yang paling umum dan gangguan membaca yang paling dikenal.

Secara fisik, penderita disleksia tidak terlihat seperti memiliki gangguan sesuatu. Disleksia tidak hanya terbatas pada ketidakmampuan seseorang untuk menyusun atau membaca kalimat dalam urutan terbalik tapi juga berbagai macam urutan, hal inilah yang akhirnya menyebabkan penderita disleksia dianggap tidak konsentrasi dalam beberapa hal.

Jika anda memindai otak para pengidap disleksia, anda akan mendapati gambar yang tampak aneh. Di bagian-bagian penting tertentu otak – yang menangani membaca dan pengolahan kata – para pengidap disleksia tidak mempunyai banyak materi kelabu. Mereka tidak mempunyai sel otak di bagian tersebut sebanyak orang pada umumnya.

Selagi janin berkembang dalam kandungan, sel-sel saraf seharusnya menyebar ke daerah-daerah yang tepat dalam otak, mengambil tempat seperti bidak catur di atas papan. Tapi karena suatu alasan, sel-sel saraf pengidap disleksia kadang tersasar di jalan. Sel-sel itu jadi salah tempat. Otak mempunyai sesuatu yang disebut sistem ventricular, dengan fungsi sebagai pintu masuk dan keluar. Pada ventrikel beberapa orang dengan gangguan kesulitan membaca, sel-sel saraf tadi berjubel seperti para penumpang yang antri masuk kereta komuter di saat jam pulang kantor di Jakarta.

(more…)

YSEALI – Tempat Dimana Pemimpin Muda ASEAN Berkolaborasi

Minggu lalu, tepatnya tanggal 11 November 2014, saya diundang pergi ke Yangon, Myanmar oleh sebuah lembaga yang bernama YSEALI (singkatan dari Young South East Asia Leadership Initiative). Acara yang bertajuk “The Power of Collaboration” ini mengundangan 20 perwakilan dari 10 negara ASEAN, jadi setiap negara setidaknya mengirimkan dua perwakilan, hanya Brunai Darussalam saja yang mengirimkan satu perwakilan dikarenakan ada halangan.

Perlu diketahui, program YSEALI sendiri adalah hasil inisiatif dari Presiden Barack Obama yang diluncurkan pada tahun 2013. Tujuan dari diluncurkannya program ini sendiri adalah untuk memperkuat pengembangan dan jaringan kepemimpinan anak muda antar negara di seluruh kawasan ASEAN. Program dari YSEALI ini sendiri fokus pada beberapa hal utama seperti lingkungan hidup, kewirausahaan dan pembangunan ekonomi di seluruh kawasan ASEAN. Untuk lebih kelasnya, bisa check di sini.

Saya menghabiskan waktu selama 5 hari di kota Yangon dengan rincian 3 hari efektif dan 2 hari di awal dan di akhir untuk persiapan. Selama 3 hari efektif ini, seluruh delegasi dari YSEALI diberi sebuah contoh studi kasus yakni bagaimana mengembangkan Myanmar di masa yang akan datang.

Hari efektif pertama kami bertemu dengan beberapa aktivis pro demokrasi di Myanmar. Dari sini kami baru tahu bahwa sebenarnya demokrasi yang digembar gemborkan oleh media di Myanmar hanyalah palsu belaka. Kebanyakan yang duduk di pemerintahan Myanmar sampai saat ini adalah para militer yang hanya “ganti baju saja”. Merenungkan hal ini, saya jadi ingat jaman Soeharto di Indonesia yang kabinetnya banyak diisi oleh orang dengan latar belakang militer.

Setelah berdiskusi banyak dengan para aktivis pro demokrasi di Myanmar, kami mengunjungi sebuah Monastic School di pusat Kota Yangon. Monastic School di sini konsepnya sangat mirip dengan Pesantren di Indonesia. Cuma kalau di Indonesia para muridnya adalah santri, kalau di Myanmar para muridnya adalah biksu-biksu kecil. Pelajaran yang diajarkan pun beragam, mulai dari ilmu sosial, kewarganegaraan hingga Bahasa Inggris. Tak heran, walau pun usia mereka masih awal belasan tahun, tapi bahasa Inggris mereka sudah bisa dibilang ok.

Malamnya di hari pertama, kami mengunjungi Swedagon Pagoda. Sebenarnya letaknya tidak jauh dari hotel kami di Summit Park View, jadi ketika olah raga pagi di taman depan hotel, kami sering memandangi keindahan kubah emasnya. Tapi kali ini kita diajak masuk langsung kedalam tempat pagodanya. Satu kata yang bisa mendiskripsikan Pagoda ini : AMAZING! Ternyata kubah pagoda itu terbuat dari emas asli. Dan emas itu didapat dari sumbangan seluruh warga Yangon di masa silam. Besar pagoda ini mungkin sebesar sedikit lebih kecil dari Borobudur, tapi karena masih aktifnya pagoda ini untuk sembahyang para penganut budha, jadi kesan relijiusnya masih sangat terasa.

(more…)