Loss is Loss. Pain Has No Nation. Gallery Korban Perang di Wilayah Gaza.

Artikel ini adalah reblog dari blog-nya TED dengan judul yang sama tulisan dari Thu-Huong Ha. Saya tertarik untuk me-reblog artikel ini karena artikel ini memuat foto-foto yang sangat menarik. Anda akan diajak untuk turut serta merasakan sakitnya kehilangan kerabat terdekat atau bahkan organ tubuh anda sendiri akibat perang yang tiada hentinya berkecamuk di dilayah Gaza, Palestina.

“Tidak ada yang menggantikan hilangnya anak, bahkan tidak anak lain.” Itulah kata-kata yang keluar dari Safia Abo Zour (Wanita pada foto di atas) dan yang selalu menghantuinya hingga saat ini. Foto di atas diambil oleh salah seorang jurnalis bernama Eman Mohammed. Dalam foto ini Safia Abo Zaur menggendong anaknya yang baru berusia lima bulan di tangan kirinya, sedangkan di tangan kanannya ia memegang sweter yang biasa dipakai anaknya yang lebih tua untuk pergi kesekolah di sebuah taman kanak-kanak di wilayah Gaza. Dan taukah anda bahwa sweter itu adalah sweter terakhir yang dipakai anak tertuanya ketika sekolahnya dibom oleh tentara Israel?

Foto Safia Abo Zour bukanlah satu-satunya, masih ada beberapa foto karya Eman Mohammed yang akan mengajak anda untuk turut serta merasakan mirisnya kehilangan salah seorang anggota keluarga kita – bahkan anggota organ tubuh kita – di wilayah penuh konflik bernama Gaza.

“Pain has no nation. That should be enough to stop future manmade disasters. It’s not nature. It’s not global warming. It’s us.” – Eman Mohammed

(more…)

Tentang Mereka yang Ditinggal Orang Tuanya Sejak Usia Dini

Sebelum artikel ini di tulis, sebelumnya saya pernah menuliskan artikel tentang teori krisis yang berguna. Di situ diceritakan bahwa pada keadaan tertentu – utamanya dalam keadaan terdesak – sering kali manusia akan mengeluarkan segala daya dan upaya yang ia punya yang bahkan sebelumnya belum pernah ia sadari.

Kali ini saya akan menulis lagi tentang keterbatasan seseorang dalam sisi yang lain. Tentang mereka yang ditinggal oleh salah seorang tuanya atau bahkan kedua orang tuanya ketika masih berusia dini dan harus berjuang untuk tetap survive.

Penelitian Marvin Eisenstandt

Pada awal 1960-an, seorang psikolog bernama Marvin Eisenstandt memulai sebuah proyek wawancara terhadap orang-orang yang dinilainya memiliki prestasi luar biasa. Mereka terdiri dari para innovator, seniman hingga pengusaha. Tujuan dari proyek wawancara ini adalah untuk mencari pola dan kecenderungan yang dimiliki oleh orang-orang dengan prestasi luar biasa tadi menurut Eisenstandt.

Selama menganalisis hasil wawancaranya, ia mendapati satu fakta yang dirasanya cukup ganjil atau bisa jadi menarik. Tahukah anda bahwa banyak diantara mereka yang menjadi sampel dalam penelitian Marvin Eisenstandt ini adalah anak yatim – ditinggal oleh salah satu orang tuanya atau bahkan ada yang keduanya?

(more…)

Setinggi Apa Kita Harus Menggantungkan Mimpi?

Ketika kita masih kecil jika ditanya apa cita-cita kita ketika besar nanti, sebagian besar dari kita akan menjawab menjadi seorang dokter, polisi, tentara, pegawai negeri hingga menjadi bupati.

Ketika ada salah seorang dari teman kita yang nyeletuk ingin menjadi musisi kelas dunia atau bermain sepak bola di eropa. Serempak teman sekelas kita akan berkata “mimpi ya…”, “mimpi loo….”, atau bisa juga “mana mungkin…”.

Cita-cita menjadi musisi kelas dunia, bermain sepak bola di eropa atau membangun perusahaan yang masuk dalam jajaran Fortune Global 500 seakan-akan masih mimpi belaka bagi sebagian besar bagi anak muda Indonesia.

Pekerjaan seperti dokter, pegawai pemerintahan hingga polisi masih mendominasi mimpi kita sejak kecil. Memang hal ini tidak dapat di salahkan sepenuhnya karena toh guru-guru kita yang mengajari kita di sekolah dulu adalah mereka yang dibesarkan di era Industri, dimana di era ini pekerjaan yang nyaman adalah pekerjaan yang menghasilkan income tetap bulanan. Sehingga kita bisa hidup tenang setiap harinya.

(more…)