Apakah Memang Benar Ada yang Disebut Sebagai Bakat Bawaan?

Hampir satu generasi lamanya, para psikolog paling disegani di dunia terlibat dalam perdebatan hangat atas sebuah pertanyaan yang seringkali juga menjadi pertanyaan pribadi kita. Pertanyaan itu adalah : apakah memang benar ada yang disebut sebagai bakat bawaan?

Pertanyaan ini membuat berbagai macam psikolog mulai melakukan penelitian tentang apa yang disebut sebagai bakat. Contoh pertama di sini adalah sebuah penelitian yang dilakukan oleh psikolog bernama Anders Ericsson bersama dua orang rekannya di Academy of Music di Berlin yang terkenal sangat elit. Dengan bantuan para pengajar dan professor di sekolah itu, mereka mengelompokkan para pemain biola ke dalam tiga kelompok yang berbeda.

Kelompok pertama adalah sekumpulan bintang sekolah, mereka adalah para siswa yang digadang-gadang akan menjadi pemain biola solo kelas dunia. Di kelompok kedua berisi pemain yang dinilai “bagus”, mereka bukanlah bintang sekolah, namun memiliki permainan yang cukup indah untuk bisa dinikmati. Sedangkan kelompok ketiga adalah para pemain yang kemungkinan besar tidak akan bermain secara professional dan hanya berkeinginan untuk menjadi guru musik di sebuah sekolah negeri.

(more…)

Loss is Loss. Pain Has No Nation. Gallery Korban Perang di Wilayah Gaza.

Artikel ini adalah reblog dari blog-nya TED dengan judul yang sama tulisan dari Thu-Huong Ha. Saya tertarik untuk me-reblog artikel ini karena artikel ini memuat foto-foto yang sangat menarik. Anda akan diajak untuk turut serta merasakan sakitnya kehilangan kerabat terdekat atau bahkan organ tubuh anda sendiri akibat perang yang tiada hentinya berkecamuk di dilayah Gaza, Palestina.

“Tidak ada yang menggantikan hilangnya anak, bahkan tidak anak lain.” Itulah kata-kata yang keluar dari Safia Abo Zour (Wanita pada foto di atas) dan yang selalu menghantuinya hingga saat ini. Foto di atas diambil oleh salah seorang jurnalis bernama Eman Mohammed. Dalam foto ini Safia Abo Zaur menggendong anaknya yang baru berusia lima bulan di tangan kirinya, sedangkan di tangan kanannya ia memegang sweter yang biasa dipakai anaknya yang lebih tua untuk pergi kesekolah di sebuah taman kanak-kanak di wilayah Gaza. Dan taukah anda bahwa sweter itu adalah sweter terakhir yang dipakai anak tertuanya ketika sekolahnya dibom oleh tentara Israel?

Foto Safia Abo Zour bukanlah satu-satunya, masih ada beberapa foto karya Eman Mohammed yang akan mengajak anda untuk turut serta merasakan mirisnya kehilangan salah seorang anggota keluarga kita – bahkan anggota organ tubuh kita – di wilayah penuh konflik bernama Gaza.

“Pain has no nation. That should be enough to stop future manmade disasters. It’s not nature. It’s not global warming. It’s us.” – Eman Mohammed

(more…)

7 Alasan Mengapa Anda Harus Bersyukur Telah Memasuki Usia 20 Tahunan

Anda sudah memasuki usia 20 tahunan sekarang? Artinya anda sudah tidak muda lagi sekarang. Masa-masa kenakalan jaman SMA dan petualangan jaman kuliah telah lewat. Berganti masa adaptasi terhadap tanggung jawab yang lebih besar lagi, seperti pekerjaan kantor atau mungkin keluarga – bagi anda yang sudah mulai membangun kehidupan rumah tangga. Tapi bagaimanapun juga, usia 20 tahunan usia transisi yang patut disyukuri. Karena pada rentan waktu inilah momentum untuk membangun masa depan anda jauh kedepan telah dimulai.

Berikut ini adalah alasan mengapa anda musti bersyukur sudah memasuki usia 20 tahunan :

1. Mulai memikirkan cita-cita dengan lebih realistis

Sebelum lulus dari bangku kuliah, atau tepatnya di usia sekolahan, sering kali impian masih terlihat abstrak. Mulai dari berkeliling dunia, sukses di usia muda, membuat perusahaan semacam Google hingga menjadi seniman yang paling dikagumi abad ini. Tidak ada salahnya bercita-cita tinggi, yang salah adalah ketidak tahuan kita akan jalan mana yang musti ditempuh untuk mewujudkannya.

Pernah membaca tulisan saya tentang “panduan mendaki gunung” ? Dari situ anda akan tahu bahwa untuk mencapai puncak dari cita-cita yang anda impikan, terdapat beberapa tahap yang harus anda lewati. Tidak ada yang namanya sukses instan. The Beatles saja butuh waktu lebih dari 8 tahun sebelum menginvasi musik industri musik di Amerika, masa anda tidak mau berproses untuk mencapai puncak yang anda impikan?

Di usia 20 tahunan ini, baik emosi ataupun pikiran anda akan menjadi lebih dewasa dalam memandang kehidupan ini. Sehingga anda akan mulai sadar bahwa tidak ada sesuatu yang bisa didapat secara instan.

Ingat! tidak ada jalan pintas menuju surga. Bahkan mereka yang ingin pergi melihat surga sekali pun harus mati terlebih dahulu.

2. Orang lain akan memperhatikan anda dengan lebih serius

Periode usia 20 tahunan akan membawa anda pada tahap kedewasaan, baik secara sikap, emosi, pikiran maupun postur tubuh. Hal inilah yang membuat orang lain memperhatikan anda lebih serius ketika berinteraksi.

Saja jadi ingat akan kisah salah seorang teman saya. Ketika masih berusia 18 tahun dulu, ia pernah berjualan korma ketika bulan puasa dari satu swalayan ke swalayan lainnya. Ia berjualan bukan dalam bentuk satuan atau kardusan, tapi sudah dalam bentuk satuan ton. Beberapa swalayan percaya padanya, beberapa lainnya tidak dan alasannya pun bisa dibilang lucu. Karena ia masih terlihat terlalu muda, pihak swalayan yang mau diajak kerjasama pun ragu. Sekarang, ketika ia sudah menginjak pertengahan 20 tahunan dan terlihat lebih matang, ia pun dapat dengan mudah berinteraksi dan menjalin kerjasama bisnis dengan mereka yang jauh lebih tua dan lebih besar.

(more…)

Inspirational Movie about Dyslexia

Inspirational movie, recommended by a friend. Tells alot about kid with dyslexia.

In their school era, dyslexic kids usually looks like dumb, rebel and lazy. No matter how hard they study, it really hard to understand all of those subjects. In early years of their primary school, they cannot read even a single word.

For example :
The word “Ani”
Dyslexic kid maybe know about the letter of “A” but how about “ni”? Normal kid will be know that “ni” is a combination of “N” and “I” but dyslexic kid didn’t know about that.

But after watching this film, you’ll be know that dyslexic kid is not that dumb, rebel and lazy. They juat like any others with a special needed. They just need to know what is their passion and you’ll know that they are extraordinary.

~ Don’t worry dyslexic kids. We still have our own future. And the most important thing, we are not that stupid! ~