Teori tentang Krisis yang Berguna

Dua minggu lalu saya mendapat kesempatan untuk mengunjungi sebuah perusahaan produsen aksesoris elektronik yang berlokasi di wilayah Alam Sutera, Tangerang. Dalam lawatan ini, saya bertemu dengan pimpinan perusahaannya yang biasa dipanggil Pak Sugiarto. Pak Sugi – begitu biasanya dipanggil – menjelaskan betapa kedepannya ia ingin berekspansi besar-besaran untuk memenangkan market share penjualan aksesoris alat-alat elektronik. Perusahaan ini sudah mulai membuka retailnya kira-kira sejak 3 tahun lalu di beberapa Mall di Indonesia. Kalau ingin tahu apa nama perusahaan ini, kepanjangannya adalah “Well Communicated”. Guess what!

Salah satu kunci penetrasi pasar yang begitu besar dari perusahaan ini dalam 3 tahun terakhir adalah ketegasan Pak Sugi dalam menganalogikan situasi krisis kepada para anak buahnya.

“Apa kamu yakin bisa menghasilkan penjualan Rp 300,000,000 per bulan di wilayah yang baru kita masuki ini?” Ujar Pak Sugi kepada anak buahnya sebagai analogi kepada saya dan tentu anak buahnya bilang tidak bisa sambil beropini dengan membandingkan penjualan di daerah lama tertentu yang angkanya tidak sebesar itu.

“Jika anakmu diculik hari ini dan besok penjahatnya minta tebusan Rp 300,000,000 apakah kamu bisa mengusahakan uang itu?” Tanya Pak Sugi sekali lagi kepada anak buahnya dan – walau masih sedikit ragu – anak buahnya berkata bisa.

Dalam keadaan terdesak, sering kali manusia akan terpaksa untuk mengeluarkan kekuatan yang selama ini tidak disadarinya. Kekuatan yang tidak disadari ini sering kali begitu hebatnya sehingga kita sendiri seakan tidak percaya bisa melakukannya.

(more…)