Tentang Mereka yang Ditinggal Orang Tuanya Sejak Usia Dini

Sebelum artikel ini di tulis, sebelumnya saya pernah menuliskan artikel tentang teori krisis yang berguna. Di situ diceritakan bahwa pada keadaan tertentu – utamanya dalam keadaan terdesak – sering kali manusia akan mengeluarkan segala daya dan upaya yang ia punya yang bahkan sebelumnya belum pernah ia sadari.

Kali ini saya akan menulis lagi tentang keterbatasan seseorang dalam sisi yang lain. Tentang mereka yang ditinggal oleh salah seorang tuanya atau bahkan kedua orang tuanya ketika masih berusia dini dan harus berjuang untuk tetap survive.

Penelitian Marvin Eisenstandt

Pada awal 1960-an, seorang psikolog bernama Marvin Eisenstandt memulai sebuah proyek wawancara terhadap orang-orang yang dinilainya memiliki prestasi luar biasa. Mereka terdiri dari para innovator, seniman hingga pengusaha. Tujuan dari proyek wawancara ini adalah untuk mencari pola dan kecenderungan yang dimiliki oleh orang-orang dengan prestasi luar biasa tadi menurut Eisenstandt.

Selama menganalisis hasil wawancaranya, ia mendapati satu fakta yang dirasanya cukup ganjil atau bisa jadi menarik. Tahukah anda bahwa banyak diantara mereka yang menjadi sampel dalam penelitian Marvin Eisenstandt ini adalah anak yatim – ditinggal oleh salah satu orang tuanya atau bahkan ada yang keduanya?

Awalnya Marvin Eisenstandt menganggap bahwa fakta ini hanya kebetulan belaka, apalagi sampel yang ia wawancarai jumlahnya tidak terlalu banyak dan dirasa kurang mampu mewakili kesemua populasi orang-orang yang dianggap sukses. Tapi fakta ini tetap mengganggu isi kepalanya. Bagaimana kalau fakta ini bukan kebetulan? Bagaimana kalau fakta ini ada artinya?

Satu dekade sebelum Eisenstandt memulai proyek wawancaranya ini, seorang ahli sejarah sains bernama Anna Roe berceletuk bahwa banyak diantara mereka yang kehilangan salah satu orang tua sewaktu masih muda. Pengamatan yang sama didapat beberapa tahun kemudian dalam survey informal atas penulis dan penyair terkenal seperti Thackeray, Keats, Wordsworth, Swift sampai Edward Gibbon. Ternyata lebih dari separuhnya kehilangan ayah atau ibunya sebelum berumur 15 tahun. Hubungan antara pretasi karir dan duka sewaktu kecil adalah salah satu faktor aneh yang tak jelas hendak diapakan. Jadi Marvin Eisenstandt memutuskan untuk memulai proyeknya dengan lebih ambisius.

Pada rentang tahun 1963 sampai 1964, Marvin Esenstandt – melalui ensiklopedia Britannica dan Americana – membuat sebuah daftar berisikan 699 nama tokoh yang dirasa memiliki pengaruh kuat di dunia ini, mulai dari George Washington, Thomas Jefferson hingga John F. Kennedy.

Lalu, dalam kurun waktu 10 tahun, dengan cara yang sistematis Marvin Eisenstandt mengumpulkan informasi biografis untuk ke 699 orang yang ada di daftar yang telah ia buat itu. Segala macam buku dengan berbagaimacam bahasa ia baca, pergi ke California dan ke Library of Congres dan ke perpustakaan silsilah keluarga di New York City. Ia lacak sebanyak mungkin profil nama yang ada di daftarnya yang kehilangan orang tuanya di usia dini, sampai ia merasa mendapatkan hasil yang bagus secara statistic.

Dari 573 orang terkenal yang informasi biografisnya bisa ditemukan oleh Eisenstandt, seperempatnya kehilangan minimal satu orang tuanya sebelum berumur sepuluh tahun. Pada umur lima belas tahun, 34,5 persen kehilangan setidaknya satu orang tua dan pada umur dua puluhan angkanya menjadi 45 persen.

Temuan Lain Dari Lucille Iremonger

Ketika Marvin Eisenstandt sedang sibuk dengan penelitiannya, pada waktu yang bersamaan seorang ahli sejarah bernama Lucille Iremonger mulai menulis buku sejarah mengenai para perdana menteri inggris. Fokusnya ada pada periode awal abad kesembilan belas sampai awal perang dunia kedua. Ia bertanya, jenis latar belakang dan kualitas apa yang bisa memprediksi apakah seseorang mampu naik ke puncak dunia perpolitikan Inggris ketika Negara itu merupakan yang terkuat di dunia?

Seperti halnya Marvin Eisenstandt, Lucille Iremonger juga menemukan fakta menarik yang kerap kali terjadi sehingga ia mulai bertanya-tanya apakah ini ada artinya?

Dari penelitian Lucille Iremonger ini didapatkan fakta bahwa 67 persen perdana menteri Inggris dalam sampelnya kehilangan satu orang tuanya sebelum berumur enam belas tahun. Fakta ini kira-kira dua kali rata-rata angka kehilangan orang tua pada periode yang sama bagi kelas atas di Inggris – yang menghasilkan sebagian besar perdana menteri.

Pola yang sama ternyata juga ditemukan di antara presiden-presiden Amerika Serikat. 12 dari 44 presiden Amerika Serikat kehilanggan Ayahnya sewaktu masih muda.

Kedua belas presiden itu adalah George Washington, Thomas Jefferson, James Monroe, Andrew Jackson, Andrew Johnson, Rutherford Hayes, James Garfield, Grover Cleveland, Herbert Hoover, Gerald Ford, Bill Clinton dan juga Barack Obama.

Sejak saat itu, topik tentang, masa kecil yang sulit dan kehilangan orang tua berkali-kali menjadi bahan dalam sebuah kajian kepustakaan ilmiah.

Salah satu contoh kajian kepustakaan ilmiah itu adalah sebuah esai tulisan psikolog Dean Simonton, yang mencoba mengerti mengapa banyak anak berbakat yang gagal melanjutkan prestasi awalnya yang terlihat menjanjikan. Salah satu alasannya menurut Dean Simonton adalah bahwa mereka telah “mewarisi banyak sekali kesehatan psikologis” yang menjadikan mereka terlalu konvensional, terlalu patuh, miskin khayalan dan sedikit usaha.

“Anak-anak berbakat tampaknya paling sering muncul dalam kondisi keluarga yang sangat mendukung, yang membuat mereka seakan terkunci di zona nyamannya. Sebaliknya, mereka yang jenius kebanyakan tumbuh dalam kondisi yang lebih merugikan” – Dean Simonton.

Menarik Benang Merah

Kita menyadari bahwa penelitian-penelitian di atas membuat kita seolah-olah kehilangan orang tua itu baik. Tapi bukan berarti kita akan lebih hebat jika tidak punya orang tua atau bahkan kalau membunuh salah satu orang tua kita (Naudzubillah).

Orang tua tetaplah penting dalam kehidupan kita. Kehilangan salah satu orang tua – baik Ayah ataupun Ibu – adalah hal terburuk yang bisa terjadi pada anak.

Namun bukti hasil penelitian yang didapat oleh Eisenstandt, Iremonger dan lainnya memberikan kesan bahwa ada juga efek tak langsung dari kematian salah satu orang tua terhadap kesuksesan seseorang di masa depan. Bisa saja ketika Ayah anda meninggal dunia di waktu anda kecil, ada dorongan di dalam diri anda yang memaksa anda untuk tetap survive. Tapi satu hal yang pasti, keberadaan atau bukti-bukti adanya anak yatim – seperti George Washington, Thomas Jefferson hingga Barack Obama – yang sukses dalam kehidupannya memberikan kesan bahwa dalam keadaan tertentu, keunggulan dapat muncul dari keadaan terdesak.

 

“Mothers hold their children’s hands for a short while, but their hearts forever.” – Anonymous

Comments

comments