Tentang Para Extrovert dan Introvert, serta bagaimana cara otak mereka bekerja

Weekend kemarin saya membaca artikel yang sangat menarik di FastCoExist tentang kecenderungan jawaban para extrovert dan introvert apabila mereka dilontarkan pertanyaan “Mana yang lebih anda pilih, antara gunung atau pantai?”

Sebenarnya pertanyaan semacam ini sudah pernah saya temui sebelumnya, namun saya memahaminya hanya sebagai sebuah pertanyaan pancingan untuk mendapatkan alasan yang akhirnya bisa mulai kita analisa.

Sebagai contoh, jika saya tanya “anda lebih suka bertamasya ke gunung atau ke pantai?” saya hanya menganggap pertanyaan ini sebagai pancingan saja dulunya. Lalu ketika anda menjawab “pantai” selanjutnya saya akan bertanya”mengapa?” yang akhirnya akan membawa pada sebuah analisa kepribadian anda.

Misal anda memilih pantai karena “view-nya yang indah dan banyak betebaran cewek cantik berbikini”, dapat saya simpulkan bahwa anda adalah tipikal orang visual. Cara pandang anda, cara bagaimana anda berpikir hingga bagaimana anda tertarik akan suatu permasalahan, banyak dipengaruhi oleh rangsangan visual. Anda selalu ingin tampil sempurna baik dari cara berpakaian maupun berjalan. Dan anda pun lebih tertarik dengan mereka yang memiliki “tampilan visual” yang bagus, ex: cantik, ganteng, keren dan semacamnya.

Tapi, berdasarkan riset Shige Oishi dari The University of Virginia yang terdapat di artikel tersebut, saya baru paham ternyata pertanyaan “gunung atau pantai” bukan sekedar pancingan belaka. Tetapi ada studi empiris yang akhirnya bermuara pada kecenderungan orang itu extrovert atau introvert.

Pada survey pertama yang dilakukan terhadap 921 subjek oleh Shige Oishi, ia menemukan bahwa mereka yang extrovert lebih suka pergi ke laut daripada gunung. Pada survey kedua yang dilakukan pada 226 subjek, ia menemukan bahwa mereka yang ingin bersosialisasi dengan orang lain lebih memilih pantai daripada gunung. Sedangkan pada survey terakhir, ia menemukan bahwa penduduk negara pegunungan cenderung lebih introvert dibandingkan mereka yang hidup di daratan luas atau bahkan pantai.

Dari sinilah akhirnya kita bisa menyimpulkan bahwa pertanyaan “lebih memilih mana antara gunung atau pantai?” bukan sekedar pertanyaan pancingan untuk mengungkap kepribadian seseorang. Actually, pertanyaan ini juga membantu apakah seseorang itu cenderung Extrovert atau Introvert. Jika anda Extrovert anda pasti akan memilih pantai, sedangkan jika anda Introvert, tentu anda akan memilih gunung.

Sedangkan kecenderungan keywords yang muncul pada alasan yang dikemukakan mampu menyimpulkan dalam hal apa respon mereka bekerja lebih sensitif. Ada 3 keywords utama disini, yang pertama adalah visual, auditori dan juga perasa.

Jika seseorang itu cenderung memilih keyword yang berkaitan dengan ranah visual seperti cantik, ganteng, warna hijau pegunungan yang cerah, birunya air laut yang indah, bisa disimpulkan bahwa mereka adalah orang yang dominan pada hal-hal visual. Mereka memiliki respon yang lebih sensitif pada hal-hal yang berbau visual. Jadi jika anda ingin berkencan dengan orang type seperti ini, dandanlah sekeren mungkin.

Yang kedua adalah mereka yang dominan pada faktor auditori. Alasan yang mereka ungkapkan selalu tidak jauh-jauh dari telinga, seperti alunan ombak, gemerisik gesekan pinus hingga kicauan burung yang menyenangkan. Jika anda ingin mengajak hangout teman dengan tipe seperti ini, lebih baik anda mengajaknya menonton konser atau bermain musik.

Sedangkan yang terakhir adalah perasa. Alasan type orang seperti ini selalu berkaitan dengan hati, seperti suasana yang menenangkan di gunung atau tentramnya diri di pantai. Jika anda ingin mengambil hati orang semacam ini, pastikan anda mampu menjaga perasaannya senyaman mungkin.

Sebenarnya hal psikologis seperti ini sangat berguna bagi kita yang ingin memulai pertemanan atau suatu hubungan dengan seseorang agar anda lebih mampu memahami orang yang bersangkutan sebelum anda mengenalnya lebih jauh. Atau… hal ini juga penting bagi anda sebagai seorang pemimpin ketika anda ingin memahami lebih dalam tentang personality bawahan atau rekan kerja anda.

 

“Knowing your people is the first chapter of the book named: Leadership” – Bagus Berlian

Comments

comments