Teori tentang Krisis yang Berguna

Dua minggu lalu saya mendapat kesempatan untuk mengunjungi sebuah perusahaan produsen aksesoris elektronik yang berlokasi di wilayah Alam Sutera, Tangerang. Dalam lawatan ini, saya bertemu dengan pimpinan perusahaannya yang biasa dipanggil Pak Sugiarto. Pak Sugi – begitu biasanya dipanggil – menjelaskan betapa kedepannya ia ingin berekspansi besar-besaran untuk memenangkan market share penjualan aksesoris alat-alat elektronik. Perusahaan ini sudah mulai membuka retailnya kira-kira sejak 3 tahun lalu di beberapa Mall di Indonesia. Kalau ingin tahu apa nama perusahaan ini, kepanjangannya adalah “Well Communicated”. Guess what!

Salah satu kunci penetrasi pasar yang begitu besar dari perusahaan ini dalam 3 tahun terakhir adalah ketegasan Pak Sugi dalam menganalogikan situasi krisis kepada para anak buahnya.

“Apa kamu yakin bisa menghasilkan penjualan Rp 300,000,000 per bulan di wilayah yang baru kita masuki ini?” Ujar Pak Sugi kepada anak buahnya sebagai analogi kepada saya dan tentu anak buahnya bilang tidak bisa sambil beropini dengan membandingkan penjualan di daerah lama tertentu yang angkanya tidak sebesar itu.

“Jika anakmu diculik hari ini dan besok penjahatnya minta tebusan Rp 300,000,000 apakah kamu bisa mengusahakan uang itu?” Tanya Pak Sugi sekali lagi kepada anak buahnya dan – walau masih sedikit ragu – anak buahnya berkata bisa.

Dalam keadaan terdesak, sering kali manusia akan terpaksa untuk mengeluarkan kekuatan yang selama ini tidak disadarinya. Kekuatan yang tidak disadari ini sering kali begitu hebatnya sehingga kita sendiri seakan tidak percaya bisa melakukannya.

Hidup Mulia atau Mati Syahid

Berbicara tentang situasi krisis atau terdesak, saya jadi teringat pada sosok panglima perang dalam sejarah islam yang kisah penaklukannya sangat terkenal. Namanya adalah Thariq bin Ziyad, lahir sekitar tahun 670 masehi di Afrika Utara dari kabilah Nafazah. Sejak mulai berperang, Thariq dikenal sebagai komandan yang gagah, bijaksana dan keberaniannya bertarung  melawan ketidak pastian.

Suatu ketika seorang pangeran dari Spanyol bernama Julian datang meminta bantuan untuk menaklukkan Raja Roderick yang saat itu berkuasa di Spanyol. Seperti halnya kasus Lawrence of Arabia dalam buku David and Goliath karya Malcolm Gladwell, Thariq datang dengan strategi yang tidak diduga oleh Raja Roderick.

Ketika Raja Roderick sedang sibuk menghadapi pemberontakan di kawasan utara kerajaannya, Thariq datang dengan pasukannya dari wilayah selatan Spanyol yang merupakan wilayah lautan. Pasukan ini mendarat di dekat gunung batu besar yang kelak dinamai jabal (gunung) Thariq atau yang oleh orang-orang eropa lebih dikenal dengan sebutan Gibraltar.

Ketika kapalnya menepi di perairan Spanyol dan semua pasukannya sudah turun, Thariq membuat sebuah keputusan yang mengejutkan. Ia membakar semua perahu yang membawa pasukannya menyebrang dari Maroko ke Spanyol. Para prajurit ini tentu saja terperangah seakan tak percaya. Dan dalam keadaan terperangah ini, Thariq bin Ziad berkata “Isy Kariman Au Mut Syahidan – Hidup Mulia atau Mati Syahid (Mati sebagai orang suci)”.

Seperti halnya Pak Sugi yang menciptakan kondisi krisis pada anak buahnya dan memberi sedikit pilihan untuk hidup, begitu pula dengan Thariq bin Ziyad. Dalam istilah menejemen, hal ini biasa disebut sebagai The Burning Platform – kondisi dimana mereka yang kita pimpin tidak punya pilihan lagi selain terus maju kedepan bagaimana pun caranya untuk terus bertahan hidup. Dan hasilnya, pasukan Thariq yang tidak memiliki kembali jalan untuk pulang bertempur habis-habisan melawan tentara Raja Roderick. Pasukan Thariq pun menang dan inilah awal mula kejayaan Islam selama 700 tahun di bumi Spanyol.

The Burning Platform

Saya sebenarnya tidak sedang ingin membahas perang antara Islam dan Katholik pada tulisan kali ini. Tapi apa yang dilakukan Thariq bin Ziad ataupun Pak Sugiarto dalam organisasi yang mereka pimpin telah berhasil membawa kemajuan yang berarti bagi dirinya dan anak buahnya.

Saya pun pernah mengalami hal yang sama. Ketika TEDxTuguPahlawan akan mengadakan konferensinya keduanya tahun lalu, beberapa hari sebelum acara kami masih kekurangan sekian rupiah untuk menyelenggarakan konferensi tahunan ini. Mau tidak mau saya menyampaikan bahwa jika batas tertentu kita masih belum mendapatkan dana juga, kita harus maksimalkan dipenjualan tiket. Dalam kondisi yang krisis ini, mau tidak mau mereka yang merasa tidak memiliki bakat salesmanship pun terpaksa harus berjualan. Dan bagaimana hasilnya? setelah acara keuangan kami pun surplus sekian rupiah yang nantinya dapat kami gunakan untuk pengembangan organisasi kita ini.

Dalam tulisan saya sebelumnya yang berjudul Underdog, kita dapat menarik kesimpulan bahwa apa yang tampak dari luar sebenarnya belum tentu sama dengan dalamnya. Kita yang terkadang merasa kurang percaya diri dan lemah, sebenarnya memiliki potensi luar biasa yang bisa terus diasah. Yang perlu kita adalah mulai membuang jauh-jauh zona  nyaman kita dan mulai berusaha dengan apa yang kita punya saat ini untuk terus maju. Memang awalnya akan membuat anda shock, tapi coba bayangkan jika semua anak buah Thariq memilih untuk berenang kembali ke Maroko, akankah kemenangan dari Raja Roderick akan didapat? Percayalah, jauh di dalam diri anda, tersimpan kekuatan yang anda diri tidak akan mempercayainya.

All things are difficult before they are easy – anonymous

Comments

comments