Underdog – Bagaimana Mereka yang Lemah Mengalahkan yang Kuat

Secara umum, underdog sering diartikan sebagai pihak yang tidak diunggulkan dalam sebuah kompetisi atau pertarungan. Kehadiran mereka sering kali tidak diperhitungkan dan bahkan sering dipandang sebelah mata oleh banyak pihak. Tapi ada beberapa studi kasus dimana para underdog yang sering kali tidak diunggulkan ini tiba-tiba muncul secara mengejutkan dan memenangkan pertarungan dengan pihak yang selama ini selalu diunggulkan.

David versus Goliath

Mungkin kisah tentang underdog paling terkenal sepanjang masa adalah kisah tentang pertarungan antara David melawan Goliath. Bahkan di semua kitab agama samawi pun kisah ini seolah telah menjadi sebuah kisah klasik yang wajib diketahui oleh semua pengikutnya.

Secara singkat diceritakan bahwa dulu di daerah bernama Syefala di tengah-tengah Palestina kuno terdapat dua bangsa yang saling berseteru yakni bangsa Israel dengan bangsa Filistin. Bangsa filistin berasal dari pulau Kreta di laut tengah. Mereka bangsa pengarung samudra yang telah pindah ke Palestina dan menetap di sepanjang pantai. Sedangkan bangsa Israel adalah bangsa yang hidup secara bergerombol di pegunungan di bawah kepemimpinan Raja Saul.

Di sekitar abad kesebelas S.M. pasukan Filistin dan Israel terlibat dalam sebuah pertempuran di kawasan lembah Elah. Pasukan Filistin berkemah di punggung selatan Elah. Pasukan Israel berkemah di sisi seberangnya, sehingga kedua pasukan itu saling pandang menyebrangi lembah. Kedua pihak sama-sama tidak berani maju terlebih dahulu. Dan dijaman itu, merupakan hal yang biasa untuk mengirimkan prajurit terhebat sebagai perwakilan perang dalam pertarungan satu lawan satu. Akhirnya bangsa Filistin pun mengirimkan prajurit terhebatnya. Seorang raksasa yang berukuran dua meter lebih. Mengenakan baju zirah lengkap, bersenjatakan tombak, lembing dan pedang. Prajurit itu bernama Goliath.

Kubu Israel ketakutan, tak seorang pun mau bergerak maju untuk menjadi wakil dalam pertarungan. Lalu seorang bocah gembala yang tadinya turun dari Bethlehem untuk membawakan makanan kepada kakak-kakaknya melangkah maju dan mengajukan diri. Raja Saul pun menolak, tak mungkin bocah gembala ini mampu mengalahkan prajurit Filistin yang raksasa itu. Tapi si gembala pun bersikeras. Dia perpendapat bahwa dia pernah mengalahkan lawan-lawan yang lebih buas sebelumnya, seperti Singa yang bisa memangsa dombanya di padang rumput. Karena dilihatnya tidak ada harapan lagi, Raja Saul pun membiarkan bocah gembala ini turun ke tengah lembah menghadapi tentara raksasa Filistin. Inilah awal mula pertarungan antara David versus Goliath.

Sebelum David maju, ia memungut lima batu mulus dan membawanya dalam tas yang disandangnya. David maju menghadapi Goliath bersenjatakan ketapel dan tongkat gembala yang biasa dibawanya. Goliath memandang bocah yang menghampirinya dan merasa dihina.

Yang terjadi selanjutnya melegenda. David mengambil batu dalam tasnya, meletakkannya dalam ketapel, lalu melontarkan  batu itu ke dahi Goliath yang tidak terlindung. Goliath jatuh terkapar. David mendekatinya, mengambil pedang yang dibawa Goliath, dan memenggal kepala raksasa itu. Ketika orang-orang Filistin melihat pahlawan mereka mati, maka lari lah mereka. Pertarungan itu dimenanggi secara ajaib oleh si lemah yang semestinya tidak menang.

Fakta di Lapangan

Di dalam bukunya yang berjudul “David and Goliath – Ketika si Lemah Menang Melawan Raksasa” Malcolm Gladwell menjelaskan studi kasus ini dengan sangat apik. Dia memaparkan beberapa fakta menarik bahwa sebenarnya Davidlah yang jauh lebih unggul daripada Goliath.

Goliath seorang prajurit infanteri berat. Dia berpikir akan terlibat duel dengan sesama prajurit infanteri dalam pertarungan jarak dekat. Namun David tak berniat mengikuti tata cara pertarungan satu lawan satu seperti pada umumnya. Dia berniat melawan Goliath sebagaimana dia melawan binatang liar yang biasa memangsa ternaknya. Dia yang tidak mengenakan baju zirah, membuatnya bebas bergerak secara leluasa. Sedangkan Goliath yang mambawa banyak alat berat sangat sedikit ruang geraknya.

Menurut Eitan Hirsch, seorang pakar balistik, baru-baru ini membuat perhitungan bahwa batu berukuran biasa yang dilontar pelontar ahli pada jarak 35 meter bakal menghajar kepala Goliath dengan kecepatan 34 meter per detik – cukup untuk menembus tengkorak dan membuat Goliath pingsan atau tewas. Kecepatan itu setara dengan tembakan pistol modern berukuran sedang.

Mengubah Aturan Main

Lewat studi kasus ini, kita dapat melihat bahwa dalam mendalami sebuah studi kasus tertentu, kita harus mampu melihatnya dari berbagai macam sudut pandang yang berbeda. Ciri-ciri yang tampak memberikan kekuatan pada raksasa sering kali justru menjadi kelemahan terbesarnya. Lihat saja bagaimana Goliath kesulitan bergerak karena baju zirahnya yang sangat berat. Dan kenyataan menjadi pihak yang lemah bisa mengubah permainan dengan cara-cara yang sebagian besar pihak tidak mereka sadari.

Dalam memahami kasus David versus Goliath selama ini, kita sering kali mengungkapkan kesalahan asumsi mengenai kekuatan. Alasan Raja Saul meragukan David karena David hanyalah seorang pengembala yang bertubuh kecil, sedangkan Goliath adalah raksasa yang sangat besar dengan baju zirahnya. Saul menganggap bahwa kekuatan itu disebabkan oleh ukuran fisik. Padahal harusnya dia tahu bahwa sumber kekuatan bisa berasal dari sumber lain, seperti kecepatan, mengubah aturan main, hingga membuat sebuah serangan kejutan.

Goliath adalah kesatria terbaik untuk pertarungan jarak dekat, tapi tidak untuk jarak jauh. Sedangkan David, dia telah terbiasa melakukan latihan dengan senjata jarak jauhnya dengan menghalau banyak hewan pemangsa ternaknya menggunakan ketapel. Harusnya Goliathlah yang takut.

Ketika saya diminta tolongi untuk membuatkan silabus untuk jurusan manajemen bisnis sebuah universitas swasta di Malang akhir tahun lalu, saya memutuskan bahwa kampus ini harus lebih banyak mengajarkan hal-hal yang berbau praktikel. Karena jika kampus ini masih tetap fokus di bidang riset, maka lambat laun gaung mereka akan kalah dengan Universitas Negeri yang telah mapan dengan fasilitas risetnya. Memang, untuk mengalahkan seorang raksasa, kita tidak bisa mengajaknya untuk bertarung satu lawan satu secara berhadapan, karena tubuh kecil kita sudah pasti akan digilas habis saat itu juga. Yang diperlukan adalah menghadapinya dengan cara yang berbeda. Jika lawan raksasa anda mengandalkan kekuatannya, anda bisa mengalahkannya dengan mengandalkan kecepatan anda. Jika pesaing anda mengandalkan keexclusifan produknya, anda mungkin dapat melawannya dengan kecepatan inovasi yang anda lakukan pada tiap produk yang anda luncurkan. Hal inilah yang dilakukan oleh Samsung akhir-akhir ini untuk merebut market share Apple.

Semoga artikel ini bermanfaat. Bagi anda seorang underdog. Percayalah bahwa jauh di dalam jiwa anda bersemayam kekuatan yang dahsyat. Dan jika anda terpaksa harus melawan para raksasa, ingat untuk selalu melawannya dengan cara yang berbeda dan sesuai dengan kemampuan anda.

 

I’m very competitive by nature. And i like to be the underdog – It’s the best way to win. To come from behind and win is a great feeling – Zac Efron

Comments

comments